Nahdlatul Wathan

NILAI-NILAI KEISLAMAN, KEBANGSAAN DAN KEUMMATAN | Part-5

NILAI-NILAI KEISLAMAN, KEBANGSAAN DAN KEUMMATAN DALAM SYAIR, NASYID, MARS DAN LAGU-LAGU KARYA MAULANASSYAIKH TGKH. MUHAMMAD  ZAINUDDIN ABDUL MADJID AL-ANFANANY

Oleh: Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan. QH., MA
(Alumni MDQH Ke-33, Sekjend PB NW)

Bagian Kelima: القسم الخامس
اهلا بوفد زائرين

اهلا بوفد زائرين * ليثلج الصدور
اهلا بكل القادم * كل لكم شكور
حين اضحى جمعنا * بالسرور والصفا
معلنا عطفا لنا * والوداد والوفا
قل ليحي فى هنا * زوارنا الكرام

Selamat Datang Para Tetamu Mulia

Selamat datang para tamu
Sbagai penyejuk Kalbu
Slamat atas setiap kunjungan
Terima-kasih untuk kalian

Kini kita berjumpa
Bahagia tulus cinta
Sebagai ungkapan bahagia
Kasih bukti setia

Nyata sentosa di sini
Tamu nan terpuji.

(Dapat dinyanyikan seperti wazan nazam aslinya)

Prolog:

Ini adalah nasyid atau lagu berbahasa Arab yang disusun oleh Maulanassyaikh dalam situasi dan kondisi yang berbeda. Nasyid bukan saja sebagai musiknya jiwa tapi nasyid sebagai media komunikasi harmoni antarsesama. Nasyid ini esensinya di situ sebagai perekat kesejukan dan keademan seperti isi lagu ini, membuat laksana Es yang menyejukkan dahaga kehausan bagi setiap insan.

A. Historisitas Nasyid ini.

Nasyid ini ada dua bagian yang dibaca serentak di saat tetamu datang ziarah di even-even besar NWDI-NBDI DAN NW.
bagian pertama lagu ini adalah Ahlan bi wafdi zaairin
Bagian kedua adalah tanawwara mahfaluna.
Lagu ahlan biwafdi zaiirin ditulis oleh Maulanassyaikh Pada era enam puluhan saat Orde Baru Berkuasa dan sering berkunjung ke Madrasah NW di Pancor Selong Lombok Timur.
Lagu ini sering dinyanyikan oleh thullab-tholibat. MDQH angkatan ke 5,6,7,8 (Tahun 1978- 1982, 1985, 1988, 1993, 1996) yang saat itu tamu tamu Maulanassyaikh banyak berdatangan dari Makkah al-Mukarramah, semisal kunjungan Syaikh Zakaria Abdullah Bila, Syaikh Ismail Usman Zain, Syaikh Muhammad Yasin Isa al-Fadany, Syaikh Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Abbas Almaliki alhasani, Syaikh Madjid Said Mas’ud Salim Rahmatullah saat menjadi Mudir Madrasah al-Shaulatiyah ke-5. dan Banyak lagi ulama-ulama timur tengah, ulama asia yang datang ziarah ke Maulanassyaikh.
Lagu ini adalah lagu khas yang dibaca oleh para santri dengan sambil berdiri menyambut kedatangan tamu, sampai tamu duduk rapi di posisi masing-masing, baru setelah duduk disambut lagi dengan melanjutkan lagu Tanawwara mahfaluna dengan versi BahasaArab dan relatif panjang 12 bait syair.

B. Nilai keislaman dalam lagu ini:

Maulanassyaikh mengajarkan murid-muridnya dengan memberikan penghormatan kepada Tamu karena menghormati tamu adalah bagian dari ibadah sosial yang sangat besar faidahnya bahkan Nabi Muhammad saw menyebutkan
من كان يؤمن بالله ورسوله فليكرم ضيفه
Siapa saja yang beriman kepada Allah. Hendaklah menghormati tamunya.
Penghormatan kepada orang sangat dianjurkan oleh Agama sehingga begitu esensinya menghormati tamu, Maulanassyaikh membuat inovasi baru dalam menyambut tamu yang tak biasa dalam tradisi masyarakat Sasak saat itu.

C. Nilai Kebangsaan dari Lagu Ahlan bi wafdi

Dari konten lagu ini memberikan gambaran akan arti persatuan dan kesatuan dalam satu nafas perjuangan.
Tamu yang datang adalah tamu yang membawa kesejukan kedamaian keberkahan dan kemajuan. Maka tepat Maulanassyaikh mengatakan ليثلج الصدور
Menyejukkan hati karena keilmuannya, karena keshalehannya, juga karena peranan strategisnya sebagai penentu kebijakan kemashlahatan ummat.
Berikutnya Maulanassyaikh mengatakan Bahwa siapa saja yang datang dengan penuh kedamaian kami pasti mengucapkan terima kasih atas kunjungan kehormatan kepada kami para anak bangsa yang sedang membangun peradaban kemanusiaan melalui pendidikan, sosial dan dakwah islamiyah.

C. Nilai keummatan dalam syair ini:

Maulanassyaikh memberikan informasi penting kepada tetamu yang datang bahwa agenda Keummatan sedang berlangsung terus menerus tak pernah terputus yang dilakoni dengan penuh suka cita meski banyak rintangan dalam perjuangan.
Perjuangan Ke-NW-an menjadi penanda akan pentingnya saling menghargai dan saling mengunjungi.
حين اضحى جمعنا
Jam’una adalah refleksi perjuangan kolektivitas perjuangan kebangsaan dan kebersamaan maka tak ada yang paling baik bagi kita selain memupuk rasa cinta mencintai rasa saling membutuhkan dan saling mengedepankan kepentingan umum.
Inilah resep Maulanasssyaih dalam merajut kebangsaan, keislaman dan keummatan.

Epilog:
NW : Inovatif terhadap konteks sosial
NW: Berperan sebagai Liyustlijassudhur
NW: Berperan sebagai Mu’linan ithofan
NW: Penuh dengan al-widad dan al-wafa
NW: Berkepastian menyebut tetamunya dengan Zuwaarunal kirom.

(berlanjut ke bagian keenam: sambungan lagu ini, tanawwara)

Semoga bermanfaat untuk kita meneladani akhlak mulia maualanasssyih dalam menyambut tamu kehormatan agar kita mendapatkan keberkahan dari Allah swt. Amin.

(edisi merenung akan kelemahan diri dan keterbatasan waktu-fahrurrozi abu raziqi/7/12/2019)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker