Sebagai tanda dimulainya proses belajar mengajar di Ponpes Mamba’ul Bayan NW Desa Mumbul Sari, Kec. Bayan, Kab. Lombok Utara dilakukan acara serah terima santri baru, di Aula Pondok Pesantren, pada Rabu (10/7/2024).

Acara serah terima ini adalah peninggalan ajaran TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada masa hayatnya.

Setiap tahun ajaran baru pendidikan selalu mengadakan kegiatan serah terima santri baru yang dikenal dengan ‘Nyerah Mayung Sebungkul’ (menyerahkan anak seutuhnya oleh orang tua kepada sang guru dengan ikhlas untuk digembleng menjadi anak yang sukses), ungkap Pimpinan Ponpes Mamba’ul Bayan NW Ust Kamah Yudiarto, QH.,S.Sy.,S.Sos dalam sambutannya.

“Tradisi inilah yang saya lanjutkan untuk mengambil berkah dari maha guru kita, karena Mamba’ul Bayan ini adalah yayasan yang terbilang baru juga. Jadi untuk memulai belajar orang tua harus menyerahkan anaknya secara ikhlas untuk diajar, dididik, dibina menjadi pejuang agama oleh para guru/ustaz,”ungkapnya.

Terkait gedung belajar, sarana dan prasrana katanya, pihak Pondok Pesantren terus berusaha untuk menyelesaikan dan membenahi pembangunan yang belum rampung.

“Target yayasan tahun ini bisa menyelesaikan Gedung sekolah dan Asrama Santri 3 Lantai , dan tahun kedua bisa tuntas pembangunan ruang belajar baru untuk 3 lembaga Pendidikan yang ada di dalam Ponpes. Insya Allah asal kita kompak, utuh bersatu, apapun yang kita rencanakan dan bangun akan mudah,” pungkasnya.

Pimpinan Ponpes menyampaikan bahwa santri baru pada tahun pelajaran 2024-2025 ini berjumlah 39 orang.

 

Dalam sambutannya, Ust. Kamah meyakinkan kepada santriwan – santriwati dan para walinya bahwa belajar atau menitipkan anak di pondok pesantren merupakan langkah tepat sebagai usaha mewujudkan generasi yang unggul. Hal mendasar bagi orang tua yang harus dilakukan adalah keikhlasan yang bermakna sungguh-sungguh. Tanamkan niat memondokkan anak dengan basmallah disertai doa bagi ananda agar betah, kerasan, belajar dengan tekun untuk mendapatkan ilmu dari Allah. Juga doa kepada asatidznya agar senantiasa diberikan kesehatan dan kesabaran serta semangat mendidik anak-anak.

Dihadapan para tamu undangan dan santri dan wali santri, Pimpinan juga memberikan informasi tentang Pondok Pesantren, peraturan serta program dan ikhtiar-ikhtiar yang dilakukan jajaran badan pembina dan pengelola PP Mamba’ul Bayan dalam upaya mewujudkan santri yang Mandiri, Taqwa dan Prestasi dengan menjalin kerja sama dengan berbagai Lembaga.

Pimpinan Ponpes juga menegaskan bahwa santri Baru PP Mamba’ul Bayan NW tidak boleh lagi menggunakan Bahasa daerah di lingkungan Pondok Pesantren.

Tiga bulan pertama di Pondok Pesantren, santri akan diberikan pembinaan yang intensif untuk menguasa Bahasa Arab dan Inggris. Setelah memasuki bulan ke-4, semua santri wajib berbahasa asing dimanapun dan kapanpun. Terutama diasrama.

Adapun Program Tahfidz Al-Qur’an yang merupakan program wajib dan unggulan Pondok Pesantren Mamba’ul Bayan NW telah melahirkan puluhan Hafidz-hafidzah. (M)