ARTIKELDAKWAHINTERNASIONALSejarah

Mengenang Wafatnya Sang Mutiara Hadits, Imam Ahlussunnah wal Jama’ah Abad Ke-2

“Mengenang Wafatnya Sang Mutiara Hadits. Imam Ahlussunnah wal Jama’ah Abad Ke-21 Abuya Assayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani”

NW Online | Selasa, 15 Ramadhan 1440 H 23:30

Tepatnya pada tanggal 15 Ramadhan 1425 H atau bertepatan pada tanggal 29 Oktober 2004 telah wafat sosok ulama besar Ahli Hadits, Imam Ahlussunnah wal Jamaah Abad ke-21 Al-‘Alim Al-‘Allamah Prof. Dr. Abuya Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani.

Malam itu tepat malam jum’at, murid bersama dengan kerabat beliau berkumpul di rumah sakit. Wajah beliau saat itu tidak berubah, tetap gembira, seperti tidak sedang dalam keadaan sakit. “Sekitar jam 20.00. dokter datang, dan mengatakan bahwa Abuya sudah sembuh. Kami semua memekik, Allahu Akbar!”

Saat Bulan Purnama Tersaput Awan

Di luar rumah sakit sesaat kemudian, Sayyid Muhammad al-Maliki meminta izin kepada dokter untuk menengok keluarga dan murid-muridnya. Tepat jam 00.00, beliau keluar dari rumah sakit. Sebelum masuk ke mobil, Abuya menghadap ke langit selama dua menit. Bilal, salah satu muridnya bertanya: “Ada apa, Abuya?”

Abuya al-Maliki menjawab: “Tidak ada apa-apa.”

Saat itu, seharusnya bulan sedang purnama sangat indah, namun malam itu justru tertutup awan. “Sebelumnya dalam beberapa hari terakhir, beliau selalu meminta agar murid-muridnya melihat bulan, dan bertanya apakah bulan sudah kelihatan?”

Dari rumah sakit, beliau tidak langsung ke rumah, tapi ke pondok pesantren, untuk menemui murid-murinya. Saat itu jam 03.00. “Saya sendiri yang membukakan pintu gerbang. Setelah itu, datang Sayyid Abbas, adiknya, bersama keluarga yang lain. Kami bersama-sama membaca qasidah, lalu terlibat dalam obrolan yang sesekali diselingi dengan tertawa lebar”, cerita Habib Hamid sambil mengenang peristiwa penting itu.

Pertemuan malam itu, katanya, diakhiri dengan sahur bersama. Sebelumnya, Abuya sempat bertemu kakaknya dan bikin perjanjian untuk berbuka puasa hanya dengan tiga buah kurma dan air zamzam. “Pas jam 04.00, beliau meminta semuanya istirahat dan bersiap shalat Shubuh. Beliau sendiri masuk ke kamar kerjanya.”

Di kamar itu, beliau ditemani Bilal dan Burhan. Tapi Bilal diminta keluar kamar. Saat itulah, Sayyid Muhammad al-Maliki tiba-tiba bertanya kepada Burhan. “Hai, Burhan. Aku sebaiknya istirahat di kursi atau di bumi (maksudnya karpet)?”

“Terserah Abuya.” Sahut Burhan bingung, karena tidak tahu harus menjawab Abuya. Bagaimana mungkin seorang murid memutuskan sesuatu untuk gurunya?

“Saya akan istirahat di bumi saja.” Kata Sayyid Muhammad al-Maliki.

Beliau kemudian duduk menghadap kiblat dan bersandar. Sesaat, sempat mengambil buku dari tangan Burhan. Tapi kemudian, diletakkan di meja, lalu beliau menengadah menyebut, “Lailaaha illallah….”

“Innalillahi wainna ilaihi raji’un…” hanya itu yang terucap dari mulut Burhan. Hari tepat tanggal 15 Ramadhan 1425 H atau 29 Oktober 2004, saat pagi mulai membuka kehidupan, Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki al-Hasani wafat. Jenazah almarhum langsung dibawa ke rumah sakit. Dokter menyuruh semua keluarga dan murid-murid beliau untuk pulang ke Pondok Pesantren.

Tepat seusai shalat Shubuh, ambulan rumah sakit yang membawa jenazah Abuya, tiba di kediaman beliau. “Saya pingsan. Ya, sepertinya, pertemuan saya dengan beliau hanya untuk mengantarkan jenazahnya ke Ma’la, tempat beliau dimakamkan, dekat dengan makam Sayyidah Khadijah al-Kubra, yang qasidahnya dibaca setiap kali selesai shalat Tarawih.”

Berkah Doa Al-Fatihah

Mari kita hadiahkan al-Fatihah untuk Guru kita al-‘Allamah al-Muhaddits Prof. Dr. as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani. Beliau wafatnya pada hari Jum’at, malam 15 Ramadhan di waktu sahur, wafat di saat beliau beristighfar di waktu Sahur, pada malamnya beliau tidak mengajar kitab-kitab namun banyak menceritakan perihal surga dan menyatakan hasratnya untuk bertemu dengan ayahnya, Sayyid Alawi al-Maliki.

Beliau wafat hari Jumat 15 Ramadhan 1425 H bertepatan dengan tanggal 29 Oktober 2004 M dan dimakamkan di pemakaman al-Ma’la di samping makam istri Rasulallah Saw. Khadijah binti Khuailid Ra. dengan meninggalkan 6 putra, Ahmad, Abdullah, Alawi, Ali, al- Hasan dan al-Husein dan beberapa putri-putri yang tidak bisa disebut satu persatu di sini.

الفَاتِحَة لأَبُوْيَ السيد مُحَمَّد بْنِ عَلَوِى الْمَالكِى الْحَسَنِى بِأَنَّ اللهَ يَرْحَمُهُ وَيُعْلِي دَرجَاتِهِ فِى الْجَنَّةْ وَيُعِيْدُ عَلَيْنَا مِنْ أَسْرَارِهِ وَأَنْوَارِه وَعُلُوْمِه وَبرَكَاتهِ فِى الدِّينْ وَالدُّنْيا وَاْلأخِرَة بِسِرِّ الْفَاتِحَةْ…الفَاتِحَة إِلَى رُوْحِ اْلإِمَام أَبُوْيَ السيِّدْ مُحَمَّد بِن عَلَوِي المَالِكِي وَ اِلَی رُوْحِ الشَّيْخ مُحَمَّدْ زَيْن الدِّيْن بِن عَبْد الْمَجِيْد الْاَنْفَنَانِي الْمَشْهُوْر ثم إِلَى أَرْواحِ جَمِيْعِ مَشَايِخِنا بِأَنَّ اللّٰهَ يَرْحَمُهُم وَيُعْلِي دَرجَاتِهِم فِى الْجَنَّةْ وَيُعِيْدُ عَلَيْنَا مِنْ أَسْرَارِهِم وَأَنْوَارِهِم وَعُلُوْمِهِم و بَرَكَاتِهِم فِى الدِّين وَالدُّنْيا وَاْلأخِرَة بِسِرِّ الْفَاتِحَةْ…

Diambil dari berbagai sumber

Tags

NW Online

Situs Nahdlatul Wathan Online | NW Online, Media Resmi Nahdlatul Wathan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker