Acara

“Jika” NTB BERZIKIR, NTB BERPIKIR, NTB MENGUKIR

BANGGA MENJADI WARGA NTB
“Jika” NTB BERZIKIR, NTB BERPIKIR, NTB MENGUKIR
REFLEKSI 61 TAHUN NTB LAHIR

Oleh: Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, QH., MA
(Warga Nusa Tenggara Barat)

PROLOG:
Memperingati Ulang Tahun sesungguhnya merefleksikan diri menjadi orang yang siap mengevaluasi diri dalam capaian kerja dan amal nyata yang dia lakukan setahun sebelumnya, atau menjadi acuan kerja jangka panjang untuk meraih kesuksesan di dunia dan kebahagiaan di akhirat nanti. Allah dengan tegas memberikan rambu-rambu untuk menentukan dan menformat visi misi kehidupan. Dengan memberikan fondasi awal sebuah bangunan kehidupan, baik beragama, berbangsa terlebih, ber-NTB dengan landasan Iman (Prinsip) dan Taqwa (Aplikatif), baru kemudian dibarengi dengan visi misi yang berorientasi masa depan, dengan menitik beratkan pada aspek kejujuran dengan pengakuan yang tulus terhadap segala karunia Allah, dengan demikian tercapailah kesuksesan dan keberhasilan yang paripurna.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسُ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُ بِمَا تَعْمَلُونَ {18} وَلاَتَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ {19} لاَيَسْتَوِى أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَآئِزُونَ {20}

Saya Ingin mengatakan bahwa, dengan Motto NTB Beriman dan Berdaya saing menuju NTB GEMILANG Sesungguhnya merefleksikan arti dan kandungan ayat 18-20 Surat al-Hasyr ini. Golongan masyarakat yang gagal adalah masyarakat yang tidak bisa menghargai dirinya sendiri dan tidak memiliki visi misi dalam hidupnya, maka saya artikan Ashab an-annar: dengan golongan orang yang gagal, karena dia tidak memiliki identitas yang jelas (fasiq). Jika mau NTB Maju maka harus menampakkan identitas dan kebanggaan menjadi orang NTB. Kemudian golongan orang yang sukses adalah golongan orang yang memiliki semangat beriman dan berdaya saing untuk meraih kehidupan yang baik dan sejahtera kini dan nanti. Justru masyarakat NTB yang seperti ini yang didambakan oleh Nabi Muhammad SAW,
الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت (Maknanya, orang yang cerdas sesungguhnya adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan berkarya nyata untuk investasi nanti di belakang hari).
Ada konsep keunggulan yang dilontarkan oleh Imam Ghazali yang menyatakan bahwa;

لاَغَلَبَةَ اِلاَّ بِالْقُوَّةِ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِالإِتِّحَادِ وَلاَ اتِّحَادَ اِلاَّ
بِالْمُشَاوَرَةِ وَلاَ مُشَاوَرَةَ اِلاَّ بِالْمُسَامَحَةِ

Artinya; Tidak akan meraih kesuksesan, kemenangan, keberhasilan tanpa ada soliditas kekuatan, kekuatan pun tidak akan maksimal tanpa ada persatuan dan kesatuan, persatuan pun tidak akan berfungsi dengan baik jika tidak didasari atas asas musyawarah, begitu juga musyawarah tidak akan efektif tidak jika tidak ada saling harga-menghargai.

Artinya, kata kunci Bangga menjadi NTB dengan mengedepankan semangat soliditas, kekuatan energi dan kekuatan potensi untuk mengembangkan diri menjadi anak NTB yang siap dan tanggap. Kemudian semangat kesatuan dan persatuan sekaligus semangat toleransi dalam menghadapi konpleksitas dan pluralitas masyarakat. Maka dengan demikian, kita bangga menjadi anak NTB yang siap berbenah dan berkompetisi di era global ini.

Ada hal yang menarik untuk kita BANGGA MENJADI ANAK NTB; Batasan “masyarakat NTB” tidak membedakan orang NTB dalam varian mereka sebagai keturunan SASAK, SAMAWA, MBOJO Kesemuanya menyatu dalam ikatan ke-NTB-an yang mereka sandang, bahkan varian-varian strata sosial tersebut sudah mulai berakulturasi dengan yang lain sehingga strata sosial tersebut tidak menjadi suatu hal yang membuat jarak sosial yang satu dengan yang lain menjadi renggang, melainkan bisa diterima sebagai suatu keniscayaan dalam pergaulan, baik pergaulan dalam bidang budaya, adat, sosial, lebih-lebih dalam bidang agama.

Menurut al-Jabiri, mekanisme kebangkitan yang pada dasarnya mengacu ke masa depan, secara keseluruhan tidak menafikan atau mengingkari masa lalu. Sebaliknya, ia bertitik tolak dari suatu kritik atas masa kini dan masa lau yang lebih dekat (dalam kasus Islam berarti penyembahan terhadap berhala, sedang dalam kasus Eropa berarti dominasi Gereja yang menafikan kebebasan akal), dan kembali kepada masa lalu yang jauh (dalam kasus Islam berarti agama hanafiyah Ibrahim dan dalam kasus Eropa berarti tradisi rasionalitas Yunani-Romawi) yang dianggap orisinil atau otentik demi membangun proyek masa depan.(Muhammad Abed al-Jabiri, Formasi Nalar Arab: Kritik Tradisi Menuju Pembebasan dan Pluralisme Wacana Interreligius, Ed. Terj., Yogyakarta: IrciSod, 2003), cet. 1. h. 7-8).

Masyarakat NTB yang baik harus memiliki 6 karakteristik berikut: 1) identitas-mengetahui dia siapa dan dia bukan siapa, memiliki keutuhan dan integrasi, 2) kemandirian-menjadi orang yang bisa mengarahkan dirinya sendiri, 3) keaslian-menunjukkan jati diri yang sesungguhnya pada orang lain, mempertahankan kesesuaian antara nilai diri sendiri dengan nilai yang ada di luarnya, 4) tanggung jawab terhadap tindakan dan keputusan yang dilakukan, 5) keberanian untuk terus melangkah meskipun ada hambatan, dan 6) integritas-dipandu oleh sejumlah prinsip-prinsip moral dan diakui oleh orang lain sebagai orang yang berintegritas.

Saya ingin katakan bahwa, JATI DIRI NTB DAN BANGGA MENJADI ORANG NTB TERLETAK PADA KONSEP KEBERSAMAAN.

Yakin saja, perubahan sosial juga terbentuk karena bukan semata-mata karena ada kepimpinan yang visioner tapi karena kesatuan suku-suku anak negeri melebur menjadi sebuah komunitas kekuatan yang tidak bisa dibendung oleh arus kekuatan apapun.
Inilah yang dibuktikan oleh Teori Sosiolog Muslim Terkemuka, Ibn Khaldun, yang mengatakan, Al-Insanu madaniyuna bi al-Thabi’iy. Sifat sosial ini diturunkan dari fakta bahwa masing-masing orang membutuhkan orang lain untuk membantu beberapa aktivitas supaya bisa eksis. Tak seorang pun yang bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. Karena kebutuhan manusia itu hanya bisa dipenuhi dengan berbagai usaha yang membentuk kerjasama dari orang banyak.( Abdurrahman Ibn Khaldûn, Muqaddimah,(Beirut: Dar al-Fikr, ttp), tt. h. 41)

DIMENSI NTB BERZIKIR: MENGASAH EMOSIONAL: BASIC PERGERAKAN DAN PERUBAHAN.
Ralp Dahrendorf mengatakan, bahwa masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang terus menerus di antara unsur-unsurnya.( Ritzer George: 1998, h.30). Teori ini nampaknya tepat untuk digunakan dalam memahami perkembangan masyarakat NTB, di mana setting sosial masyarakat NTB secara kultural dan agama sangat pluralistik dan kompleks, sehingga sangat perlu disosialisasikan arti keragaman dalam keberagamaan. Artinya bahwa masyarakat yang berada dalam komunitas etnis, kultur, dan agama berbeda, semestinya ada upaya untuk memberikan pemahaman dan penyadaran akan makna sebuah kehidupan yang beragam. Upaya ini menjadi penting sebagai modal untuk menciptakan keharmonisan dalam semua aspek kehidupan majemuk. Maka NTB Berzikir, NTB Berpikir dan NTB Mengukir menjadi urgen untuk dikembangkan.
Kesadaran, “Rekonstruksi Kesadaran” atas masa lalu, masa kini serta hubungan keduanya (i’adah bunyah al- wa’i bi al-madhi wa al-hadhir wa al-alaqah baina huma).

Kebutuhan beragam manusia dari segi sosial. Dia menjelaskan bahwa hidup manusia bagaikan lalu lintas, masing-masing orang ingin berjalan dengan cepat dan selamat. Namun karena kepentingan mereka berlainan, maka apabila tidak ada peraturan lalu lintas kehidupan, pasti akan terjadi benturan dan tabrakan. Nah, dengan demikian, manusia membutuhkan aturan. Persoalannya adalah siapakah yang dapat mengatur lalu lintas tersebut?. Paling tidak dalam persoalan peraturan itu, manusia memiliki dua kelemahan, pertama, keterbatasan pengetahuannya; kedua, sifat egoisme yang ingin mendahulukan kepentingan diri sendiri. Kalau demikian perlu ada yang paling mengetahui dan tidak punya kepentingan dan itu hanyalah dimiliki oleh Allah. (Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1999, cet. 7
KENAPA HARUS BERZIKIR?

Zikir Merupakan Proses Restorasi Hati Penyucian Hati (Tazkiyatun-Nafs).
Caranya: Menurut Abu Abdul Barra’: menempuh kesucian hati dengan lima proses: Pertama, melalui pintu ubudiyah mahdhah secara ikhlas, Kedua, tahsin al-ibadah, Ketiga, tadabbur ayyillah allati fi al-Qur’an wa ma fi kharijil qur’an, Keempat: al-Ta’bir min al-siyar al-insaniyyah, Kelima: Muhasabah (introspeksi diri (Abu Abdul Barra’, Tazkiyah al-Nafs, (Beirut: Dar al-Fikr, 1423 H, h. 75.)
(Sesungguh NTB BERZIKIR intinya memotret dimensi jati diri ke-NTB-an Kita)

DIMENSI NTB BERPIKIR: MENGASAH INTELEKTUAL MENUJU TRANFORMASI PENGETAHUAN
Dalam hubungannya dengan kemampuan memahami, maka antara dimensi ‘Aql dan dimensi Qalb, masing-masing memiliki penekanan objek yang berbeda. Al-Aql lebih menekankan sisi rasional- empiris atau realitas konkret, yang menggunakan kekuatan pikir. Objek pemahaman berkisar pada hukum alam, proses sejarah kehidupan umat manusia, hukum-hukum moral kemanusiaan, dan lain-lain. Sementara itu, al-Qalb menekankan sisi rasional dan emosional. Ia menggunakan daya zikir dalam proses pemahaman terhadap ayat-ayat Allah dan dengan itu ia mampu memahami realitas spiritual. Di sisi lain ia memiliki daya emosional yang dapat menampung penyakit-penyakit jiwa, rasa senang, gembira, cinta, sombong, dan lain sebagainya. Keduanya merupakan daya jiwa manusia manusia untuk memahami kebenaran.

Semua kata Qalb dalam al-Qur’an mempunyai sisi arti daya nalar, opini, kecerdasan praktis (practical intelligence) atau dalam istilah psikologi, kecakapan untuk memecahkan masalah (problem solving capacity). Dalam hubungannya dengan NTB BERPIKIR, Maka qalb memiliki dua dimensi fungsi, yaitu fungsi rasional dan fungsi emosional. Fungsi rasional diistilahkan al-Qur’an dengan Tafaqquh, hilm, zihn. Fungsi ini merupakan manifestasi hubungannya dengan dimensi ‘aql. sementara yang dapat merasakan kehadiran apa yang dipahami dan dilakukan. Keduanya memberikan warna kemanusiaan jiwa yang sekaligus membedakannya dari makhluk lainnya. (Baharuddin, Paradigma Psikologi Islami: Studi Tentang Elemen Psikologi dari al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2007, cet. II, h. 135)

Memikirkan NTB adalah kegiatan yang berpusat pada Aql, sedangkan NTB Berzikir, merupakan kegiatan yang berpusat pada Qalb. Keduanya merupakan kesatuan daya jiwa untuk dapat memahami NTB sesungguhnya, sehingga masyarakat NTB mampu memasuki dunia kesadaran tinggi, yang jauh melampui batas dunia empiris sensoris dan rasionalis. Kesatuan antara NTB Berzikir dan NTB Berpikir merupakan daya jiwa khas manusia NTB. Maka inilah yang dimaksud dengan Dimensi Insaniyah NTB.

Setiap pemikiran manusia dipenuhi oleh konsep dan fakta. Nalar bisa mengkonsolidasikan fakta dan konsep yang berlainan menjadi satu kesatuan yang bermakna. Nalar selalu mempertanyakan, menguji, dan menjawab fakta. Nalar menghubungkan semua orang dan memungkingkan berhubungan dengan orang lain dengan berbagai budaya, bahasa, yang mungkin bertentangan. Perwujudan nalar meliputi: 1) ketrampilan konseptual, yaitu kemampuan untuk melakukan abstraksi dan generalisasi, 2) pemikiran logis, yaitu kemampuan menerapkan pendekatan sistematis dalam pemecahan masalah, 3) pemikiran kreatif, yaitu kemampuan untuk membawa gagasan menjadi kenyataan, 4) pemikiran holistik, yaitu kemampuan mengangkat situasi total, dan 5) komunikasi, yaitu kemampuan berdialog dengan orang lain, beradu nalar dengan orang lain untuk mencari kebenaran yang bisa diterima dua pihak.

DIMENSI NTB MENGUKIR: MENUAI PRESTASI
Menuai prestasi di Era Global tidaklah gampang tapi jika mau sukses, kita pinjam saja pendapat Nils A. Shapiro, editor Gallery Magazine, yang menjelaskan tentang ada enam kiat sukses menghadapi tantangan Globalisasi:
Pertama, perencanaan yang cermat (carefull planning).
Dalam kehidupan yang semakin konpetitif, perencanaan yang cermat merupakan suatu keharusan dan keniscayaan. Dengan perencanaan, keberhasilan menjadi lebih mudah diraih. Tanpa perencanaan hidup seperti berjalan tanpa arah. Sulit dievaluasi apakah gagal atau berhasil, karena tidak ada standar yang dapat dipergunakan sebagai tolok ukur. Dengan perencanaan yang cermat, segala sesuatunya dapat diperhitungkan sebelumnya.

Kedua, latihan dan pengalaman (training and experience)
Latihan dan pengalaman akan meningkatkan profesionalisme seseorang dalam berbagai kehidupan. Seseorang dikatakan profesional di bidangnya setidaknya harus memiliki keahlian, komitmen dan skill yang relevan dengan bidang pekerjaannya. Pada umumnya, pekerja profesional melewati tiga titian; well educated, well trained, dan well paid. Dengan pendidikan yang baik serta pelatihan dan pengalaman yang banyak, biasanya baru akan diikuti oleh penghasilan yang memadai.

Ketiga, bersedia belajar dari orang lain (willingness to learn from others).
Kehidupan orang lain dapat menjadi cermin yang baik bagi siapa pun yang bersedia berkaca. Maka sangatlah merugi jika orang tidak mau belajar dari pengalaman orang lain. Ki Hajar Dewantara memberi nasehat, kalau mau maju, dapat melakukan 3 N: Niteni, Niraoke, dan Nambahi. Maksudnya, kita contoh dan kita ikuti keberhasilannya, baru kemudian kita tambahi kita kembangkan lebih lanjut agar lebih mempunyai nilai tambah.
Keempat, bersedia bekerja sama selama dan sekeras yang diperlukan (commitment to working as long and as hard as necessary)

Kerja keras adalah ciri utama orang sukses. Peluang dan kesempatan hanya akan datang kepada pekerja keras. Orang harus memiliki motivasi yang kuat untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki, agar dapat meraih keberhasilan hidup. Kerja keras muncul karena dorongan psikologis dalam diri yang meransangnya sedemikian rupa sehingga bersedia melakukan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan yang didambakan. Motivasi ini akan kuat kalau timbul dari dalam diri sendiri tanpa ada dorongan dari orang lain atau hal lain.
Untuk itu, masyarakat NTB perlu mengatur pikiran, energi, waktu, tempat, benda, dan sumber daya yang lainnya dengan baik, agar semua dapat diarahkan guna mencapai tujuan yang dicita-citakan.

Kelima, tabah menghadapi kekecewaan dan kemunduran (courage to overcome disappointment and setbeacks)
Tiada kehidupan tanpa kesalahan, kekalahan dan kegagalan. Keberhasilan biasanya membuat orang merasa puas dan nikmat, tetapi kegagalan dapat membuat orang biasa saja, atau dapat memberikan kepahitan yang berkepanjangan, tergantung bagaiamana ia mensikapinya.

Masyarakat NTB perlu memperbesar ketahanannya terhadap frustasi, kegelisahan, kejengkelan, dan segala macam kekecewaan. Karena dalam hidup, hal itu tidak mungkin dilenyapkan. Kalau Masyarakat NTB dapat menerima kekecewaan secara wajar, hidup akan lebih menyenangkan. Sebenarnya, kegagalan bukanlah hanya memiliki sisi negatif semata, jika saja dihadapi dengan arif dan bijaksana serta cerdas. Kegagalan dapat dianggap sebagai benih keberhasilan (failure is the seed of succes). Agar masyarakat NTB dapat memperoleh manfaat dari kegagalan, ada dua hal yang harus dilakukan: look for couses (cari sebab-sebab kegagalan), dan block recurrence (cegah agar tidak terulang kembali).

Maka momentum Hari Jadi NTB yang ke 61 tiga ini penting untuk merefleksikan keberhasilan dan kegagalan yang telah dicapai dan dirasakan selama ini dengan dua cara tersebut.
Keenam, kemampuan bersikap jujur (ability to be honest).

Kesuksesan yang bertahan lama adalah kesuksesan yang dikembangkan di atas landasan kejujuran. Tanpa kejujuran, keberhasilan yang diraih bersifat semu dan sementara.

Nabi Muhammad Menegaskan, Alaikum bi al-Sidqi, Fa inna al-Sidqa yahdi ila al-Birri wa al-Birra yahdi ila al-Jannah. (hendaklah berlaku jujur dalam segala hal, karena kejujuran pasti melahirkan kebenaran dan kebenaran itu membimbing menuju keberhasilan dan kesempurnaan (surga).

NTB MENGUKIR PRESTASI JIKA:
Pertama, Siap Mewujudkan Masyarakat NTB Yang Beriman Dan Berdaya Saing.
Kedua: Menerima Dan Menghormati Keberagamaan Sebagai Anugerah Tuhan Yang Maha Esa
Ketiga: menjunjung tinggi kearifan budaya lokal sebagai kekuatan pembangunan
Keempat: aktif berikhtiar meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat
Kelima: senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan dalam rangka NKRI (IKRAR KIRAB PETAKA NTB)

EPILOG
Untuk menjadi orang NTB yang berfungsi sepenuhnya, menurut paradigma kepemimpinan, setiap manusia memiliki potensi untuk mendaki empat tingkatan potensi manusia, yaitu:
1) Empirical existence (eksistensi empiris) Hidup dalam dunia sehari-hari, mencari kesenangan dan menghindari kesedihan. Pada tingkatan ini seseorang akan mampu menciptakan peta untuk mengatasi persoalan kehidupan sehari-hari.
2) Consciousness at large (kesadaran yang luas) Memperoleh pengetahuan obyektif, pengetahuan yang valid dan universal. Pada tingkatan ini seseorang bisa menciptakan peta pengetahuan obyektif, valid, dan universal.
3) Spirit (semangat) Mengidentifikasi gagasan-gagasan yang menonjol dalam gerakangerakan, partai politik, lembaga-lembaga atau organisasi. Pada tingkatan ini seseorang akan mampu menciptakan peta untuk memandu mengidentifikasi gagasan dan keyakinan.
4) Existence (eksistensi) Menemukan jati diri secara otentik. Pada tingkatan ini seseorang akan sadar bahwa dia memiliki kebebasan untuk menciptakan peta diri sendiri.
Masyarakat NTB harus jujur mengakui ke-NTB-an nya, jangan berpura-pura, berpura-pura menjadi orang NTB karena faktor pragmatis, dan interst sesaat. Maka harus ada ikrar dan komitment untuk bangga menjadi NTB. Bangga menjadi NTB tidak mesti menduduki posisi, yang terpenting adalah berkontribusi sekecil apapun untuk membangun NTB dengan semangat solidaritas, kebersamaan, dan kesatuan.
Al-Hasil, Bangga Menjadi Masyarakat NTB dengan Pandai Mensyukuri Rahmat Allah dengan Menerapkan kunci sukses menuju NTB GEMILANG yaitu:
1. MEMBANGUN KEKUATAN DAN POTENSI
2. MEMBANGUN SOLIDARITAS
3. MEMBANGUN SEMANGAT MUSYAWARAH
4. MEMBANGUN SEMANGAT TOLERANSI DAN SALING MENGHARGAI.

BANGKIT NTB-KAMI, JAYA NTB-KAMI DAN
SUKSES NTB-UNTUK KITA SEMUA.

WASSALAMU ALAIKUM WR.WB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker