NW ONLINE

Hari Jadi Nahdlatul Wathan (HADI NW) Ke-66 (01/03/1953 – 01/03/2019) Momentum Revitalisasi Pancalogi ke-NW-an dan ke-Aswaja-an Nahdlatul Wathan

NW Online | Ahad, 3 Maret 2019 08:00

Oleh: Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, QH.,SS.,MA

NW sebagai organisasi diresmikan oleh Maulanassyaikh pada hari Ahad, 15 Jumadil Akhir 1376- bertepatan dengan 1 Maret 1953 M. Setahun setelah deklarasi organisasi NW diadakan Muktamar I pada tanggal 22-24 Agustus 1954 di Pancor Lombok Timur dan terpilih menjadi PB NW Pertama adalah TGKH. M. ZAINUDDIN ABDUL MADJID Masa Bakti 1953-1958. Untuk legalitas formal NW dapat dilihat dalam sejarahnya sebagai berikut:
NW dengan Akte Nomor 48 Tahun 1957 M yang dibuat dan disahkan oleh Notaris Pembantu Hendrix Alexander Malada di Mataram. Akte sementara. 
Akte berikutnya Nomor 50,tanggal 25 Juli 1960 M di hadapan notaris Sie Ik Tiong di Jakarta kemudian pengakuan dan penetapan juga diberikan oleh Menteri Kehakiman RI No. J.A.5/105/5 tanggal 17 Oktober 1960 dan Dimuat dalam BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 90, tanggal 8 November 1960. Dengan ketetapan Negara terhadap NW maka NW dapat mengembangkan sayap organisasi ke suluruh nusantara.

Seiring dengan dinamika yang terjadi di intenal Organisasi Nahdlatul Wathan dari muktamar ke muktamar sehingga puncak konflik dualisme Organisasi pada saat muktamar ke 10 di Praya yang mengesahkan Ummuna Hj Sitti Raehanun Zainuddin Abdul Madjid yang terpilih secara demokratis sebagai PB NW. Berlanjut dinamika di NW sampai ke meja hukum karena ada perubahan administrasi yang terjadi pada tahun 2014, dan intinya Negara melegalkan PB NW di bawah komando Ummi Hj.Sitti Raehanun ZAM dengan SK Kemenkum HAM RI. NOMOR: AHU- 26.AH.01.08. TAHUN 2016 TENTANG PEMBATALAN KEPUTUSAN MENKUMHAM NO. AHU-00297.60. 2014 TENTANG PENGESAHAN PENDIRIAN BADAN HUKUM PERKUMPULAN NAHDLATUL WATHAN. 
Berangkat dari dinamika -dinamika tersebut, Mari kita renugnkan bersama kesadaran kita untuk mengawal NW dengan mengedepankan akal sehat, akal administrasi negara yang resmi. sehingga tidak ada lagi dualisme dalam tubuh NW.

HADI NW dirayakan ulang tahunnya yang ke 66 sebagai momentum untuk memperkuat dan memperkukuhkan konsolidasi organisasi.

Berangkat dari itulah, al-Faqier mengajak warga dan elit NW untuk merenungi Wasiat Maulanassyaikh terkait dengan kesadaran kita berorganisasi yang kemudian al-Faqier mengistilahkan dengan PANCALOGI KE-NW-AN yang bersumber otentik dari Wasiat Renungan Massa Pengalaman Baru karya Maulanassyaikh.

انما المرأ حديث بعده فكن حديثا حسنا لمن وعى

Pertama: Wa’yu al-Diin وعي الدين (Kesadaran dan Semangat Beragama)

Bahwa di Lombok sebelum ini
Paham animis anutan asli
Sewaktu-waktu didatangi da’i
Akhirnya lahir Sultan Rinjani (Wasiat No. 30)

79. Agama itu syari’at Tuhan
Dialamatkan ke banil-insan
Untuk dijunjung sepanjang zaman
Agar terhindar godaan syetan

80. Syetan menggoda terus menerus
Siang dan malam tidak terputus
Agar insane terputus terus
Dari Tuhan Yang Maha Quddus

81. Iman Islam Ihsan bertiga
Harus dibela bersama-sama
Selama roh dikandung rangka
Karena ialah rukun agama

Banyak sekali pandai membaca
Tapi takpandai mengkaji yang nyata
Kitab yang gundul dibaca nyata
Di kitab berbaris hatinya buta (Wasiat No. 33.)

Wahai anakku yang telah mengaji
Jaga teguhlah jiwa santeri
(Siddig Amanah Iklas Berani
Berjuang terus liwati Rinjani) (Wasiat No. 98.)

Wali Songo Malik Ibrahim
Sentral da’wahnya pernah bermukim
Beberapa waktu dipengkores intim
Suku Sasak Islamnya Salim. (Wasiat No. 25)

Pulau Sasak kecil sekali
Tapi gunungnya besar dan tinggi
Kalau orang pandai mengkaji
Pastilah sujud seribu kali. (Wasiat No. 34.)

194. Ingatlah nandan da’wahnya Anbiya’
Da’wah ‘Ulama da’wah Auliya’
Menentang ajaran para asqiya’
Agar ummat menjadi atqiya’

Syaikhuna RTGB. K.H. Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani bersama Gubernur NTB

Kedua: Wa’yu al-Ilmi وعي العلم (Kesadaran dan Semangat Ilmu Pengetahuan)

Wahai anakku tuntutlah ilmu
Setiap hari setiap waktu
Janganlah mundur karena dianu
Karena “Tambah air tambah sagu”

Aduh sayang !
Tuntutlah ilmu sepuas-puas
Dari yang rendah sampai fakultas
Jangan sekali lengah dan malas
“Menjemur sementara hari panas”

171. Guru agama khususnya ‘Ulama’…
Atau Aluliya’ atau Ashfiya
Pembawa kunci di alam fana’…
Pembuka pintu di alam baqa’

172. Itulah sebabnya penghulu Nabi
Menyuruh murid setia bakti
Agar ilmunya berkatnya pasti
Dunia akhirat ridha Ilahi

173. Orang yang berbakti kepada guru
Mendapat faidah hikmat yang beru
Tidak terduga lebih dahulu
Memang Allah pemberi selalu

174. Kalau tak tampak semasih hayatnya
Akan tampaklah setelah pindahnya
Banyak terbukti sepanjang masa
Sebab baiknya sambungan pipanya

175. Kalau durhaka kepada guru…
Hatinya kecil selalu terburu
Akhlaknya rusak hatinya pilu
Terkadang hidupnya haram melulu

176. Aktif mengajak melawan guru
Hawa nafsunya buru memburu
Di banyak soal selalu keliru
Terkadang matinya tidak menentu

177. ‘Ulama’ Tasawuf pernah berkata
Dengan jelasnya membuka pakta
Si gila pengaruh perusah agama
Ia selalu menjilat dunia

181. Murid yang putus dari gurunya
Berarti rusak pipa ilmunya
Hilang terbakar sari ilmunya
Dibakar syaitan dan hawanafsunya

182. Kalau guru membuang muridnya
Tidak terputus pertaliannya
Dan sebaliknya putus jalinannya
Ini menurut fatwa “Fuqaha”

183. Guru agama pilih yang mursyid nyata
Yang tetap utuh sambungan pipanya
Jangan yang putus sambungan gurunya
Agar tak nyesal kemudian harinya

184. Guru agama imam ke syurga
Perlu dipilih wajib dijaga
Silsilah yang putus tidak berguna
Dunia akhirat dlalalan-mubina

185. Tuntutlah ilmu sebanyak mungkin
Sampai mendapat gelar muflihin
Gelar dunia perlu dijalin
Dengan ajaran Rabbul ‘Alamin

186. Dunia belaka tak ada artinya
Bila akhirat dibelakanginya
Semua mahluk kembali kesana
Baik dan buruk ternyata padanya

187. Jaga baiklah gelar ananda
Agar ananda jangan ternoda
Pergunakan teguh selama-lamanya
Untuk agama untuk negara

103. Aduh sayang !
Belajar olehmu segala macam
Ilmu yang mufid ningkatkan iman
Yangan belajar ilmu Jahannam
Perusak iman, perusak Islam

Sekretaris PWNW NTB. Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, QH.,MA

Ketiga: Wa’yu al-Jamâi وعي الجماعي (Kesadaran dan Semangat Berorganisasi)

Pembela akhirat tampil ke depan
Membuka jalan Nahdlatul Wathan
Ikut berjuang dalam barisan
Keridhaan Tuhan pokok tujuan. (Wasiat No. 54.)

Nahdlatul Wathan berjalan terus
Siang dan malam tidak terputus
Meskipun dahsyat gelombang arus
Dalam lindungan Ilahi Al-Quddus. (Wasiat No. 55.)

Nahdlatul Wathan modal utama
Bagi NTB dan Sasak semua
Karena lahirnya di zaman Belanda
Sebagai madrasah sumber agama (Wasiat No. 122)

Keempat: Wa’yu al-Ijtimâiy وعي الاجتماعي(Kesadaran dan Semangat Bermasyarakat)

Kabir Akbar Arabi Mina
Khadami rasyid nyebarkan agama
Mamiq Milasih nama samarannya
Supaya Sasak cepat nerima. (Wasiat No. 35.)

Janganlah nanda mau diajak!
Ikut serta merusakkan Sasak!
Jangan terkena pepatah Sasak
“Dengan Sasak girang ngerasak” (Wasiat No. 124.)

Sasak yang tulen nasionalisnya
Selalu dituduh sukuisme-nya
Sungguh penuduhan sukuisme buta
Penuh buktinya di sini di sana. (Wasiat No. 125.)

NTB mengharap pemerataan
Keadilan sejati dan kebenaran
Agar meratalah kemakmuran
Di tanah-air ciptaan Tuhan. (Wasiat No. 126.)

111. Banyaklah orang idenya piring
Siang dan malam berputar keliling
Hanya membela kursi dan piring
Tidak membela pemberi piring

112. Pecah piring tidaklah soal
Karena piring banyak dijual
Asalkan hidup iman dan akal
Tuhan menjamin rizki yang halal

113. Dalam politik bermain curang
Ke kiri kanan aktif menendang
Sehingga tak segan membayar hutang
Dengan NW-nya pada seorang

114. Bila nanda memang berhutang
Janganlah NW yang harus dilelang
NW bukan milik seorang
Tak boleh dipakai membayar hutang

115. NW alat penegak iman
Penegak taqwa ajaran Tuhan
Bukan alat mencari makan
Mencari kursi melelang iman

225. Tak pandai bersyukur kepada Tuhan
Orang yang tidak mensyukuri insani
Karena Tuhan menjadikan wathan
Dan menjadikan Nahdlathul Wathan

226. Anakku kalian kuamanatkan:
“Membela teguh Nahdlathul Wathan
Kompak utuh sepanjang zaman
Iman taqwa diperjuangkan”

NW kembali menjadi Karya
Cita-citanya setinggi Mustawa
Semoga tercapai Jannatul Ma’wa
Bi’aunillahi Robbil Baroya

5. Aduh sayang !
Wahai anakku kalian Abituren
Marilah bersatu sebagai kemarin
Kembali bersatu di satu “Aren”
Sungguh NW lah Bapakmu yang tulen

6. Aduh sayang !
Kalau anakku masih ingatkan
“Kami Benihan Nahdlatul Wathan”
Pasti ta’ suka tinggalkan barisan
Pasti meihak Nahdlatul Wathan

7. Aduh sayang !
Pintu NW terbuka lama
Bagi anakku yang ingin bersama
Mari bersama selama-lama
Jangan kembali ke Orde Lama

8. Aduh sayang !                       
Seperlima abad anakku berpisah
Selama itu timbullah Fitnah
Disana sini anakku berbantah
Sesama saudara di dalam Nahdloh

9. Aduh sayang !
Wahai anakku mari kembali…!
Kepada NW karya sendiri
Ta’usah lari kesana kemari
Agar bersama sepanjang hari

Konon ada menjual gurunya
Menjual ibu serta bapaknya
Menjual NW dan Madrasahnya
Na’uzubillah apa jadinya…

15. Aduh sayang !
Organisasi ada Imamnya
Pengurus besar PB Namanya
Wajib dito’ati instruksinya
Selama berjalan menyelamatkannya

16. Aduh sayang !
Ta’ ada artinya organisasi
Kalau instruksi ta’ dito’ati
Itu namanya bernafsi-nafsi
Ber nafsu-nafsu membakar diri

17. Aduh sayang !
Kalau imam mulai takbirnya
Harus ma’mum mulai pula
Bila imam salamnya nyata
Haruslah ma’mum salam merata

18. Aduh sayang !
Kalau anakku masih mengaku
Bahwa NW Organisasimu
Pastilah nakku tho’at seribu
Menurut “Imam” kompak selalu

19. Aduh sayang ! !
Banyaklah orang tidak mengerti
Pada tugasnya berorganisasi
Dipermainkan orang sehari-hari
Akhirnya ia menjadi Amphibi

Kelima: Wa’yu al-Wathany wa al-Sya’by 
وعي الوطني والشعبي 
(Kesadaran dan semangat berbangsa dan Bernegara)

Negara kita berpancasila
Berketuhanan Yang Maha Esa
Ummat Islam paling setia
Tegakkan sila yang paling utama. (Wasiat No. 44.)

Hidupkan iman hidupkan taqwa
Agar hiduplah semua jiwa
Cinta teguh pada agama
Cinta kokoh pada Negara. (Wasiat No. 68.)

Wajib kompak membela agama
Agama Allah Yang Maha Esa
Yang paling mulia yang paling taqwa
Yang paling tegak membela agama. (Wasiat No. 77.)

Agama bukan sekedar ibadah
Puasa sembahyang di atas sajadah
Tapi agama mencakup aqidah
Mencakup syari’ah mencakup hukumah. (Wasiat No. 78.)

Kalau anakda berjiwa Rinjani
Pastikan tegak sepanjang hari
Tidak berubah tidak amphibi
Walaupun dijanji ranjang dan kursi. (Wasiat No. 99.)

Di Selaparang syukurlah ada
Orang yang tegak tampakkan dada
Membela agama dan membela Negara
Tidak tertawan rayuan harta. (Wasiat No. 100.)

Perlu dijaga bersama-sama
Selaku andil utama kita
Tegakkan iman tegakkan taqwa
“Di Negara merdeka berpancasila”. (Wasiat No. 123.)

203. Duplikat Ngampel dan Kalijaga
Berlaku lebih tiga bulan nyata
Memancar sinar di Nusantara
Menghidupkan iman bersinar Taqwa

Perenungan inilah yang sepatutnya kita sadari dalam berorgansasi dan mari kita singkirkan perbedaan mari kita eratkan ukhuwwah nahdhiyyah kita, ukhuwwah islamiyah kita, ukhuwwah wathaniyyah kita. mari kita kembali ke satu aren lagi seperti masa hayat maulanassyaikh dulu. (H.Fahrurrozi Dahlan. QH)

NW Online

Situs Nahdlatul Wathan Online | NW Online, Media Resmi Nahdlatul Wathan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker