KAJIANKajian Fiqih

Hukum Seputar Puasa 6 Hari Bulan Syawal

HUKUM PUASA 6 HARI DI BULAN SYAWAL
Oleh: Ust. Hurnawijaya al-Khairy, QH., S.HI., M.Sy.*)

Assalamu’alaikum wr wb. Mohon penjelasan ustadz,
1. Apakah keutamaan puasa enam hari di bulan syawal?
2. Kalau misalkan seseorang memiliki tanggungan puasa qadha’ bulan suci ramadhan, manakah yang harus didahulukan antara puasa qadha’ ataukah puasa sunnah 6 hari tersebut?. Bolehkah menggabungkan niat antara puasa fardhu (qadha’) dengan puasa sunnah tersebut?

Jawab:
Waalaikumussalam wrwb.
Penanya yang kami muliakan!
Puasa sunnah 6 (enam) hari di bulan Syawal merupakan salah satu puasa sunnah yang sangat dianjurkan dan senantiasa dikerjakan oleh Rasulullah SAW. Berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

من صام رمضان ثم أتيعه ستا من شوال كان كصيام الدهر رواه مسلم

“Barangsiapa berpuasa ramadhan kemudian mengikutinya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka baginya seakan-akan ia berpuasa setahun penuh.” (H.R. Muslim).

Sebagian ulama menjelaskan bahwa puasa enam hari dibulan syawal disunnahkan untuk menggenapi puasa bulan suci ramadhan yang dikerjakan 29 atau 30 hari sehingga menjadi 35 atau 36 hari. Dengan demikian jika setiap puasa ganjarannya adalah sepuluh kali lipat maka puasa 35 atau 36 hari tersebut dihukumkan sama dengan berpuasa sebanyak 350 atau 360 hari yang berarti setara dengan setahun.

Selanjutnya berdasarkan kemutlaqan redaksi hadits tersebut, maka puasa 6 hari di bulan Syawal tidak harus berturut-turut sekalipun yang lebih utama adalah puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal dikerjakan mulai tanggal 2 syawal dan dikerjakan secara berturut-turut.

Adapun mengenai menggabungkan niat antara puasa sunnah enam hari di bulan Syawal dengan niat Qadha’ bagi seseorang yang memiliki tanggungan qadha’ puasa pada bulan ramadhan terdapat perselisihan pendapat di antara para ulama. Di antara mereka ada yang mengatakan keduanya (puasa qadha’ ramadhan dan sunnah syawal) sama-sama sah. Pendapat ini adalah pendapat Imam Ibnu Hajar yang dikuatkan oleh Imam Ramli Rahimahumallah. Ada juga pendapat yang mengatakan hanya puasa qadha’ ramadhan saja yang sah seperti dikemukakan oleh Abu Makhramah dan Imam As-Samhudi.

Menurut hemat kami, untuk keluar dari perkhilafan (khuruj minal khilaf) dan itulah yang lebih utama. Jika memungkinkan untuk melaksanakan qadha’ dan puasa sunnah secara terpisah maka hendaklah dikerjakan secara terpisah. Namun jika memang kesulitan untuk mengerjakannya secara terpisah, maka cukup berniat untuk mengerjakan yang fardu saja yaitu puasa qadha ramadhan yang masih ditanggungnya. Sebab dengan mengerjakan yang fardu maka ada kemungkinan untuk mendapatkan juga pahala puasa sunnah tanpa harus diniatkan.

Berikut kami paparkan pendapat para ulama’ tentang masalah ini sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Bugyatul Mustarsyidin Hal. 113:

مسألة: ك) ظاهر حديث : ثم أتيعه ستا من شوال وغيره من الأحاديث عدم حصول الست إذا نواها مع قضاء رمضان لكن صرح ابن حجر بحصول أصل الثواب لإكماله إذا نواها كغيرها من عرفة وعاشوراء بل رجح (م ر) حصول أصل ثواب سائر التطوعات مع الفرض وإن لم ينوها مالم يصرف عنها صارف كأن قضى رمضان في شوال وقصد قضاء الست من ذي القعدة ويسن صوم الست وإن أفطر رمضان انتهى. قلت: واعتمد أبو مخرمة تبعا للسمهودي عدم حصول واحد منهما إذا نواهما معا كما لو نوى الظهر وسنتها بل رجح أبو مخرمة عدم صحة صوم الست لمن عليه قضاء رمضان مطلقا.

Zahir hadits: ثم أتيعه ستا من شوال dan lain sebaginya mengindikasikan tidak tercapainya kesunnahan puasa enam hari di bulan syawwal jika diniatkan bersamaan dengan niat mengqadha’ puasa yang tertinggal pada bulan ramadhan. Akan tetapi Ibnu Hajar menjelaskan tentang terhasilnya pahala sunnah karena dianggap mengerjakan puasa sunnah juga jika ia meniatkannya termasuk puasa (sunnah lainnya) seperti puasa arafah, asyura dll. Bahkan Imam Ramli menguatkan tentang terhasilnya pahala sunnah semua perbuatan sunnah yang diniatkan bersama fardhu sekalipun tanpa diniatkan selama tidak ada niat lain yang membelokkannya seperti seseorang berniat mengqadha puasa ramadhan di bulan syawal dan berniat mengqadha’ puasa sunnah 6 hari di bulan syawal tersebut pada bulan zulqa’dah. Serta disunnahkan berpuasa 6 hari di bulan syawal bagi seorang yang memiliki tanggungan puasa qadha ramadhan.

Menurut pendapatku (pengarang Bugyatul Mustarsyidin): Imam Abu Makhramah sebagaimana imam as-Samanhudi berpendapat tidak tercapainya salah satu dari keduanya (kedua-duanya tidak sah) jika berniat dengan dua niat secara bersamaan sebagaimana seseorang berniat shalat zhuhur sekaligus niat shalat sunnah qabliyah zhuhur misalnya, bahkan beliau menegaskan tidak sah seseorang puasa sunnah 6 hari di bulan syawal jika ia masih memiliki tanggungan puasa qadha’ ramadhan.

Sedangkan dalam kitab I’anatut Thalibin Juz 2 Hal. 306:

(فرع) أفتى جمع متأخرون بحصول ثواب عرفة وما بعده بوقوع صوم فرض فيها خلاف للمجموع وتبعه الأسنوي فقال إن نواهما لم يحصل له شيئ منهما قال شيخنا كشيخه والذي يتجه أن القصد وجود صوم فيها فهي كالتحية فإن نوى التطوع أيضا حصلا وإلا سقط عنه الطلب —– (قوله فإن نوى التطوع أيضا) أى كما أنه نوى الفرض (وقوله حصلا) أي التطوع والفرض أي ثوابهما (قوله وإلا) أي وإن لم ينوى التطوع بل نوى الفرض فقط (وقوله سقط عنه الطلب) أي التطوع لإندراجه في الفرض.

Cabang: Sebagian ulama’ kontemporer berpendapat terhasilnya pahala puasa sunnah hari arafah dan yang lainnya bersamaan dengan adanya puasa fardu padanya, hal ini menyelisihi kitab al-Majmu’ yang diikuti oleh Imam al-Asnawi bahwa jika seseorang berniat dengan dua niat (fardu dan sunnah) maka keduanya menjadi tidak sah. Berkata guru kami sebagimana guru-guru nya juga bahwa pendapat yang rajih (kuat) bahwa yang tertuju adalah adanya puasa di sana, sehingga disamakan dengan shalat tahiyatal masjid, jika seseorang melaksanakan shalat dan diniatkanjuga sebagai shalat sunnah tahiyatal masjid maka ia mendapat pahala shlata sekaligus pahala sunnah tahiyatal masjid, tapi jika tidak dia niatkan, maka gugur tuntutan (sunnah) tahiyatal masjid baginya.

Dan perkataan beliau: “Jika dia meniatkan sekaligus shalat sunnah tahiyatal masjid sebagaimana ia berniat shalat fardu.” Dan Perkataan beliau: “Keduanya terhasil” yaitu pahala keduanya (fardu dan sunnah). Dan perkataan beliau: “Jika tidak”, yakni jika tidak berniat sekaligus shalat sunnah tahiyatal masjid melainkan hanya berniat shalat fardu saja. Dan perkataan beliau: “Gugur baginya tuntutan (sunah)”, yaitu gugur kesunnahan melaksanakan tahiyatal masjid karena sudah dianggap tergabung bersama shalat fardu yang ia kerjakan. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

*) Pengasuh redaksi Tanya Jawab Keislaman ini adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Wathan periode 2018-2023 dan Pendiri Pondok Pesantren Daruttaqwa al-Khairiyah NW Teko Kec. Pringgabaya Lombok Timur. Saat ini bekerja sebagai Dosen Tetap pada Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Mataram.

Tags

NW Online

Situs Nahdlatul Wathan Online | NW Online, Media Resmi Nahdlatul Wathan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker