KAJIANKhutbah

Khutbah Idul Adha 1441 H “Hari Raya Qurban”

HARI RAYA QURBAN:
MOMENTUM REFLEKTIF PENGORBANAN TIGA DIMENSI: NAFSU, DIRI SENDIRI, DAN KELUARGA DARI PENGORBANAN SIMBOLISTIK MENUJU PENGORBANAN SUFISTIK
(BELAJAR HIKMAH DARI MODEL KELUARGA TELADAN (USWATUN HASANAH) NABI IBRAHIM AS)
Oleh:
Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan. QH., MA.
(GB FDIK UIN MATARAM – SEKJEND PBNW)
الله أكبر ( ٩ مرات)
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
الحمد لله الذى أعاد العيد كل عام عبرة لجميع الأنام
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له الذى بشر أبراهيم بذبح ولده فى المنام
أشهد أن محمدا عبده ورسوله أشرف المخلوقات والأنام وعلى آله وصحبه الطاهرين ومن تبعه بإحسان الى يوم المحشر والقيام
اللهم صل وسلم وبارك على شفيع الأنام محمد خاتم الأنبياء والمرسلين وخير الختام وعلى آله وصحبه اولى الفضل والإكرام
أما بعد فيا عباد الله أوصيكم ونفسى بتقوى الله فقد فاز المتقين
قال الله تعالى يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون
فقال تعالى انا أعطيناك الكوثر فصل لربك وانحر ان شانئك هو الأبتر
Saudara jamaah kaum muslimin muslimat sidang Iedul Adha yang berbahagia.
Hari ini takbir, tahmid tasbih dari lisan insan yang beriman tak terhenti-hentinya sepanjang malam dan pagi Teri’s terkumandang dan terucap lantang sebagai bukti syukur atas segala karunia dan nikmat Allah yang luas terbentang. Terlebih di hari Raya Iedul Adha kali ini yang sangat berbeda dengan hari raya sebelum-belumnya karena sebab Korona dengan tatanan new normalnya yang kadang tak semua insan riang dan senang. Terlebih banyak kaum muslimin muslimat dunia tak dapat menunaikan ibadah haji karena musibah wabah yang menghalang. Meskipun begitu tetaplah kita bersyukur kepada Allah atas segala karunia yang terulur kepada kita sehingga kita kelak dapat meraih bahagia dan senang sepanjang pagi dan petang.
Shalawat serta salam atas junjungan alam nabi Muhammad Saw yang telah meraih sukses gilang-gemilang dengan hidayah Islam rahmatan lil alamin yang menjadi petunjuk menuju jalan yang terang benderang karena berkat Nabi Muhammad Saw sang Pejuang yang cerdas dan cemerlang. Semoga kita kelak mendapatkan syafaat beliau di saat hari mahsyar nanti semua makhluk gundah gulana dan tercengang.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Saudara Kaum Muslimin -Muslimat Sidang Iedul Adha Rahimakumullah.
Qisah perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim As sesungguhnya diposisikan setara oleh Allah dengan posisi kehidupan Nabi Muhammad Saw dalam dimensi Uswatun Hasanatun (أسوة حسنة) Sebab kedua Nabi Agung nan Mulia ini disebut secara langsung oleh Allah dalam al-Quran dengan sebutan Uswatun Hasanatun.
Terlihat pada Surat ke-33 al-Ahzab Ayat 21:
لقد كان لكم فى رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا (٢١)
Untuk Nabi Ibarahim termaktub dalam surat ke-60 Al-mumtahanah ayat 4 dan 6.
قد كانت لكم أسوة حسنة فى إبراهيم والذين معه إذ قالوا لقومهم إنا برآؤا منكم ومما تعبدون من دون الله كفرنا بكم وبدا بيننا وبينكم العداوة والبغضاء أبدا حتى تؤمنوا بالله وحده الا قول ابراهيم لأبيه لأستغفرن لك وما أملك لك من الله من شيء ربنا عليك توكلنا وإليك أنبنا وإليك المصير (٤)
ربنا لا تجعلنا فتنة للذين كفروا واغفر لنا ربنا إنك أنت العزيز الحكيم (٥)
لقد كان لكم فيهم أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر ومن يتول فإن الله هو الغنى الحميد (٦)
Jamaah Sidang Iedul Adha yang berbahagia
Dua Sosok Pencetus peradaban kemanusiaan itu, Sosok Nabi Ibrahim peletak dasar peradaban manusia dan dilanjutkan peradaban manusia itu oleh Nabi Muhammad saw sehingga dua sosok manusia agung nan mulia ini diabadikan tata cara dan prilaku kehidupan sebagai role model kehidupan kemanusiaan yang berkeadaban dan berperadaban yang kemudian disebut oleh Allah dengan أسوة حسنة
Nah, relevansinya dengan konteks hari raya iedul adha atau lebih familier dengan sebutan hari raya qurban sangatlah erat kaitannya dengan peristiwa peradaban yang lahir dari pikiran dan tindakan kehidupan tiga sosok keluarga ideal yang dimaktubkan oleh Allah dalam al-Quran: Tiga sosok ideal itu adalah:
NABI IBRAHIM Alaihissalam, SANG AYAH DAN SANG SUAMI
NABI ISMAIL Alaihissalam, SANG ANAK
SITI HAJAR Aliaihassalam, SANG IBU DAN SANG ISTRI.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Hadirin -Hadirat yang berbahagia
Peristiwa yang terjadi dalam keluarga nabi Ibrahim ini dapat diambil pembelajaran dalam tiga dimensi sekaligus:
Pertama: Dimensi Normatif – Syariah
Peristiwa apa yang dialami oleh tokoh utama dari pencetus peradaban ini, Sang Ibrahim Alaihissalam menjadi pilar utama dalam syariat islam berupa Ibadah Haji.
Perintah Allah kepada nabi Ibrahim dalam Mimpi Yang Benar (Ru’yah sodiqoh) untuk menyembelih putra Kesayangannya Nabi Ismail menjadi penanda disyariatkannya penyembelihan hewan Qurban mulai dari tanggal 10 sampai tanggal 13 Zulhijjah yang lazim disebut Hari Tasyrik.
Perintah menyembelih putra kesayangannya tak luput dari godaan syaitan dan nabi ibrahim pun melontarkan batu tujuh biji kearah syaitan yang kemudian peristiwa ini menjadi Jumrah Aqobah pada tanggal 10 Zulhijjah.
Peristiwa atas Nabi Ismail saat digoda oleh syaitan kemudian beliau melemparkan tujuh butir batu ke arah syaitan jadilah menjadi ibadah jamarat ibadah melempar jumrah sebagai wajib haji.
Begitu pula peristiwa yang terjadi pada sang Ibu Ismail, Siti Hajar manakala digoda oleh syaitan agar membujuk suaminya untuk tidak menyembelih putranya, Siti Hajarpun melakukan hal yang sama melempar tujuh biji batu ke arah syaitan. Peristiwa yang dialami oleh keluarga besar nabi Ibrahim ini melahirkan syariat yang bernamaJumrah Ula, Wustha dan Jumrah Aqobah.
Peristiwa sang ibu Ismail, yang mencarikan air untuk sang anak, lari lari kecil mengejar bayangan patamorgana selama tujuh kali bolak balik mencari air mulai dari bukit Shofa berakhir dibukit Marwa, kemudian ditetapkan menjadi ibadah Sai yang sebagai salah satu rukun haji. Peristiwa demi peristiwa yang dialami oleh keluarga Nabi Ibrahim ini diabadikan dalam Manasik Haji ( Tapak Tilas peradaban ilahy yang muncul dari keluarga teladan (uswatun hasanatun)
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Hadirin-hadirat jamah shalat ideul Adha yang mulia.
Kedua: Dimensi sosial
Peristiwa peradaban yang lahir dari keluarga tauladan Nabi Ibrahim As melahirkan sisi-sisi sosial yang tak terbantahkan.
Peristiwa pengorbanan dengan menyembelih hewan kurban seperti onta, sapi, kerbau, kambing yang disebut dengan al-an’am (الأنعام) yang daging kurbannya diberikan kepada setiap orang yang membutuhkannya baik kaya miskin tua muda bisa merasakan nikmatnya daging kurban yang disembelih karena semata-mata taqarrub pendekatan totalitas kepada Allah swt. Sebagai argumen bahwa ibadah iedul adha adalah ibadah yang mencakup dua sisi sekaligus sisi kesalehan personal dan sisi kesalehan sosial.
Pengorbanan sang pencetus peradaban kemanusiaan Sang Nabi Berkah Nabi Ibrahim yang melahirkan tiga agama besar dari rahim keluarganya, Yahudi. Nasrani dan Islam telah membuktikan ke mata dunia bahwa peristiwa kenabian adalah peristiwa kepekaan sosial yang kuat dan tersistem. Yang setiap peristiwa kenabian setiap minggu, bulan, setiap tahun selalu sarat dengan dimensi sosial yang fungsional dan produktif.
Pembelajaran yang paling berharga untuk kita dari peristiwa kenabian ini tiada lain kecuali menumbuhkembangkan jiwa sosial, jiwa empati dan jiwa berbagi kepada siapapun yang memerlukan bantuan kita, tak mesti pakai harta benda, dengan pikiran yang sehat pun bisa menjadi sangat berharga bagi orang lain, bahkan tenagapun bisa menjadi sangat berharga bagi orang lain. Justru itulah kita kaum muslimin muslimat harus terus memupuk jiwa kebersamaan dan menjaga semangat solidaritas sosial kita terlebih di era covid -19 ini.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Ketiga: Dimensi Simbolistik – Sufistik.
Pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim terhadap keluargannya ini sesungguhnya sebagai simbol ketakwaan dan ketaatan terhadap perintah Allah swt.
Nabi Ibrahim adalah simbol diri yang pada dirinya mengandung unsur hawa nafsu dan kecintaan terhadap dirinya sendiri.
Nabi Ibrahim seolah-olah menyembelih dirinya dari ketertipudayaan hawa nafsu yang setiap saat dan waktu dapat mengganggunya dalam beribadah kepada Allah swt.
Nabi Ibrahim sembelih nafsunya dengan memantapkan kebaktian dan ketaatannya kepada Allah meski anak biologisnya yang sangat dicintainya harus rela dikorbankan demi kecintaan kepada Allah swt diatas kecintaan kepada putra kesayangannya.
Inilah dimensi sufistik yang dipetik dari sang Ibrahim yang siap siaga melepas hawa nafsunya demi Qurban Taqarrub kepada Allah swt.
Nabi Ibrahim adalah simbol yang tak pernah goyah oleh rayuan siapa pun dan apapun.
Rayuan istri beliau agar tak menyembelih putranya, Nabi Ibrahim mengajak istrinya berdialog sufistik agar bisa menerima perintah Allah yang maha berat ini dan berhasil meyakinkan Istrinya demi Qurban Taqarrub semata-mata karena Allah swt.
Begitu juga Siti Hajar As sang ibu juga sang istri adalah simbol keagungan perempuan yang tegar kuat dan cerdas sekaligus perempuan yang responsif. Tak pelak pada dirinya cobaan demi cobaan yang dihadapinya, cobaan menunggu kelahiran anak selama empat dasawarsa, cobaan mengasuh anaknya, cobaan ditinggal berdua di padang pasir nan tandus oleh suaminya saat ditinggal pergi ke negeri Syam. Kesemuanya itu adalah simbol ketaatan material menuju ketaatan spritual sufistik yang tak semua perempuan dunia mampu menjalaninya. Inilah sosok role model perempuan yang bisa melebihi kapasitas laki-laki dalam aspek-aspek penting dan urgen.
Tak kalah menariknya Sosok anak kecil Nabi Ismail yang masih berusia muda belia diberikan kekuatan naluri sufistik oleh Allah swt untuk melawan godaan pada dirinya sendiri mauapun godaan syaitan dan lingkungannya, sehingga Ismail kecil tampil menjadi simbol anak kecil yang melahirkan kebermanfaatan sepanjang masa dengan munculnya air mata air yang terbaik dan terberkah di dunia bahkan di syurga nanti, yang dikenal dengan Air Zam-Zam. Air zam-zam kehidupan kemanusiaan yang dinikmati oleh milyaran manusia karena sebab ketaatan dan kepatuhan kepada Allah swt.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Hadirin Hadirat yang dimuliakan oleh Allah swt.
Itulah dimensi keberkahan yang bisa diambil dari keluarga tauladan manusia Ibrahim, Ismail, Siti Hajar. Yang diabadikan oleh Allah swt agar kita menjadikan contoh dan tauladan kemanusiaan demi terciptanya masyarakat yang harmonis dalam beragama, harmonis dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Di situlah sisi sisi normatif, sosial dan sufistik dari peristiwa kenabian yang telah melahirkan peradaban kemanusiaan yang unggul dan berkeadaban sosial.
Demikianlah khutbah ini khatib sampaikan sembari kita bermunajat kepada Allah swt.
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين
اللهم أصلح امة محمد صلى الله عليه وسلم وفرج عن أمة محمد صلى الله عليه وسلم وأرحم أمة محمد صلى الله عليه وسلم وانشر واحفظ وأيد نهضة الوطن فى العالمين بحق محمد صلى الله عليه وسلم
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفى الآخرة حسنة وقنا عذاب النار عباد الله
ان الله يأمركم بالعدل والإحسان وايتاء ذى القربى واليتامى والمساكين وينهانا عن الفحشاء والمنكر والبغى يعظكم لعلكم تذكرون فاذكروا الله يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم واسئلوه من فضله يعطكم و لذكر الله أكبر والله يعلم ما تصنعون
والله الموفق والهادى الى سبيل الرشاد
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

NW Online

Situs Nahdlatul Wathan Online | NW Online, Media Resmi Nahdlatul Wathan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker