ARTIKELKajian Fiqih

Korelasi Covid-19 dengan Ayat-Ayat Allah

TAFSIR VIRUS (FAUQA BA'ŪDHAH): Korelasi Covid-19 dengan Ayat-Ayat Allah

AYAT ALLAH: Covid-19 sebagai Objek Iqra’

Renungan mendalam terhadap segala sesuatu dan segala objek merupakan aplikasi term iqra’, tak terkecuali mengkaji tentang Coronavirus Disease (Covid-19). Meng-iqra’ Covid-19 adalah bagian dari membaca ayat Allah yang berwujud (ayat Kauniyah) sama halnya dengan membaca manusia, angin, air, api, gunung, laut dan membaca semua isi alam jagad raya ini. Nilai membacanya pun sama dengan membaca wahyu Allah (Ayat Qouliyah) yaitu Alqur’an. Karena antara ayat Qouliyah dan ayat Kauniyah tidak akan pernah bertentangan sebab semuanya berasal dari yang Maha Satu, Maha Esa Allah SWT.

Hari ini Covid-19 paling menarik untuk di-iqra, bagaimana tidak semenjak kemunculannya pada akhir tahun 2019 di kota Wuhan Cina, dunia dibuat heboh karena hampir seluruh negara di dunia terinfeksi virus mematikan ini yang menyerang system pernapasan manusia. Akibatnya tatanan dunia atau sistem dunia “kocar-kacir” berubah drastis, kehidupan sosial berubah, pendidikan, komunikasi, kesehatan, ekonomi, politik, hukum-agama, transportasi dan aspek kehidupan lainnya berubah sistem kerjanya seketika hingga saat ini.  Dan masih belum dapat dipastikan sampai kapan akan berakhirnya Covid-19 dalam mengganggu stabilitas kehidupan dunia.

Terlebih teknologi transportasi memudahkan transfer virus dengan cepatnya. Globalisasi membuat segalanya berpindah tanpa batas. Era modern dengan seluruh peradabannya terancam runtuh, jika dunia tak membuat langkah-langkah besar untuk mengatasinya. Ketidakdisiplinan satu negara dalam penanganan Covid-19, dapat mengacaukan keselamatan semua negara. Negara-negara saling tergantung dan diperlukan kerjasama.

Terjadinya masalah besar akibat virus ini memaksakan WHO untuk menyatakan dunia masuk kedalam darurat global dan menyarankan masyarakat dunia agar berwaspada. Ini merupakan fenomena luar biasa yang terjadi di dunia pada abad ke 21, yang skalanya dapat disamakan dengan Perang Dunia II, karena event-event skala besar (pertandingan-pertandingan olahraga internasional contohnya) hampir seluruhnya ditunda bahkan dibatalkan. Kondisi ini seperti yang pernah terjadi disaat perang dunia, yang dapat membatalkan acara-acara tersebut. Dan berdasarkan data hingga Senin (20/04/2020) pagi, jumlah kasus Covid-19 di dunia adalah sebanyak 2.394.291 orang terinfeksi (2,39 juta).

Dari jumlah tersebut, 164.938 orang dilaporkan meninggal dunia, dan 611.880 pasien telah dinyatakan sembuh.

Namun menariknya walaupun sudah jutaan menjadi korban virus ganas ini anehnya hingga saat ini masih belum dipastikan asal mula kemunculan Covid-19, masih bertahan pada beberapa spekulasi tentang dari mana Covid-19 datang. Apakah benar ia berasal dari hewan liar yang bermigrasi ke tubuh manusia sebagaimana dilaporkan oleh peneliti asal Prancis, bahwa Covid-19 memiliki pengurutan DNA yang 96 persen mirip dengan virus kelelawar RaTG13. Ataukah alasan migrasi tersebut semacam alibi bahwa diam-diam China tengah memproduksi senjata biologis yang kemudian bocor?. Hal ini berdasar pada pernyataan Profesor Fang Chi Tai dari College of Public Health di National Taiwan University (NTU)  bahwa Covid-19 merupakan virus yang dibuat secara sintetik sedangkan lokasi awal kemunculan wabah tersebut, yaitu Wuhan ibu kota Provinsi Hubei yang terdapat sebuah laboratorium penelitian pemerintah dengan memiliki tingkat biosafety tertinggi (BSL-4), yaitu Wuhan Virology Institut dan laboratorium ini memiliki patogen yang sangat berbahaya seperti virus-virus SARS dan Ebola.

Ataukah kemunculan Covid-19 dibawa intelijen Amerika yang sengaja melepaskan virus itu di tengah-tengah peperangan ekonomi global, yang beberapa tahun terakhir ini telah memaklumatkan perang dagang dengan China, dengan semboyan yang cukup popular: America First. Dan ataukah akibat peperangan nuklir antara Amerika dan Iran, apa pun jawabannya, jika salah satu dari keempat hal itu benar, maka itu adalah asbab terjadinya Sunnatullah atau fenomena alam sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Alquran dan Alhadits. Karena sebagai makhluk yang ber-Tuhan akan senantiasa kembali kepada meng-iqra’ pesan Wahyu Allah dan membaca pesan Hadits Rasulullah-Nya.

EKSISTENSI VIRUS: Covid-19 Mengulangi Sejarah Yang Terus Berulang

Sama halnya dengan banyaknya spekulasi kemunculan Covid-19 untuk kapan berakhirnya pun masih banyak spekulasi, sebagian pengamat menyampaikan paling tidak akan berakhir pada bulan September 2020, pendapatan lain mengatakan bulan Mei 2020 karena diwaktu itu nanti akan terbit bintang Surayya di pagi hari yang menandakan wabah sudah hilang, sebagian lagi menyebutkan hanya tiga bulan disetiap negara seperti pengalaman di Cina, pendapat lain menyebutkan akan berakhir setelah salah satu dari dua negara yang sedang bertikai yaitu Amerika dan Cina hancur karena merekalah aktor dari kemunculan dan penyebaran Covid-19 selama ini dua negara ini ambisius menguasai dunia, pendapat ‘nyeleneh’ lainnya  Covid-19 akan berakhir setelah manusia tersisa tinggal 500 juta dari total manusia saat ini 8 miliar berdasar pada konspirasi iluminasi dan konspirasi Amerika Serikat, dan pendapat yang sejenisnya mengatakan bahwa Covid-19 ini adalah cara alam untuk memusnahkan spesies manusia di muka bumi  karena alam memusnahkan makhluk hidup yang tidak lagi mendukung yang lain, selama ini begitulah alam terus menerus melakukannya selama jutaan tahun, alam memusnahkan dinosaurus dan lainnya. Pendapat terbaru juga menyatakan bahwa Covid-19 akan terus berlangsung (tanpa kepastian) karena orang yang pernah terjangkini virus ini tidak dapat sembuh total karena virus ini juga bias bermutasi yaitu Covid-19 dapat berubah dalam bentuk virus yang berbeda. Pendapat lain menyebutkan Covid-19 sama halnya dengan virus yang semasa dan selevel dengan virus SARS-2003 dan virus MERS-2012 artinya Covid-19 akan berakhir dalam masa yang dekat yang datang hanya untuk mengurangi sesaknya manusia di dunia dan meminimalisir rusaknya lingkungan yang disebabkan industrialisasi.

Banyaknya spekulasi tersebut menunjukkan banyaknya pandangan manusia tentang kelanjutan hidup manusia di bumi yang dihubungkan dengan eksistensi wabah penyakit dan tentunya pandangan tersebut ada benarnya, ada juga pandangan ‘asal bunyi’. Sebenarnya kalau melihat sejarah adanya wabah penyakit seperti Covid-19 bukan lah kali pertama terjadi namun terjadi berkali-kali yaitu sejarah yang berulang.

Dalam sejarah, Asia dan Eropa pada tahun 1346-1351 M, pernah diserang virus Yersinia pestis yang dikenal dengan black death atau wabah pes. Awalnya dari 12 kapal yang mendarat di pelabuhan Sisilia Messina Spanyol. Eropa kalang kabut karena hampir sepertiga penduduknya mati. Negara-negara Timur Tengah, Mesir, Suriah, Mekah, dan lain-lain juga tak luput dari ganasnya wabah pes ini. Ganasnya virus ini diabadikan dalam buku-buku Barat dan Timur. Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah menyatakan wabah pes menyerang peradaban Timur dan Barat dan menewaskan banyak penduduk yang mengurangi populasi. Kota-kota dan banyak bangunan ditinggalkan; jalan-jalan senyap; dan seluruh tempat tinggal di negara-negara tersebut telah berubah.

Penulis Muslim lain, Ibnu Batutah dalam memoarnya al Rihla, merekam wabah yang menewaskan penduduk 2000 orang setiap harinya di Suriah dan Mesir dengan sangat pilu. Ia menulis, “Orang-orang Islam keluar bersama-sama berjalan kaki sembari membawa Al-Qur’an di tangan mereka. Seluruh warga kota itu bergabung dalam eksodus, laki-laki dan perempuan, besar dan kecil. Kaum Yahudi keluar dengan kitab Taurat dan kaum Kristen dengan Injilnya, bersama isteri dan anak-anak mereka. Mereka semua dalam air mata dan doa, memohon kemurahan Tuhan melalui kitab-kitab suci dan Nabi-Nabinya”.

Catatan sejarah juga secara terperinci menyebutkan kejadian wabah penyakit (virus) di dunia yang sudah banyak makan korban antara lain; wabah Justinian (541-750 M) korban 30-50 juta jiwa, wabah Black Death (1347-1351 M) korban 25 juta jiwa, wabah Cacar (abad 15-17) korban : 20 juta jiwa, wabah Kolera (1817-1823 M) korban 21.000-143.000 meninggal/ tahun, Flu Spanyol/ H1N1 (1918-1919) korban 50 juta jiwa, Flu Hongkong/ H3N2 (1968-1970) korban : 1 juta jiwa, HIV/ AIDS (1981-sekarang) korban: 32 juta jiwa, SARS (2002-2003) korban 774 jiwa, Flu Babi/H1N1 (2009-2010) yaitu virus corona dari babi ke manusia korban 151.000-575.000 jiwa, Ebola (2014-2016) korban 11.325 jiwa dan Covid-19 dengan korban 2,2 juta terhitung bulan April 2020.

Cerita lokal (Sasak) pun membenarkan adanya wabah penyakit, penulis mendaptkan cerita secara turun menurun bahwa benar wabah penyakit semacam Covid-19 terjadi dalam tiap masa tertentu namun namanya berbeda-beda, cerita sasak menyebut wabah ini sebagai Rebo’ atau Balek Rebo’, ada juga menyebutnya sebagai Gau-Gale dan saya perkiraan masing-masing tempat di wilayah Lombok menyebutnya berbeda karena saat itu sulitnya komunikasi dan informasi antar daerah dan wilayah dengan keterbatasan transportasi dan alat komunikasi, sehingga masyarakat menyebut wabah penyakit sesuai keadaannya masing-masing. Disebut sebagai Gau-Gale karena saat itu para wanita Sasak ikut terlibat menggali kuburan karena banyak orang meninggal, disebut sebagai Rebo’ karena cara memandikannya harus disungai besar tanpa menyentuh kulit agar penyakitnya larut dan tidak menular. Selain itu, dulu suku Sasak mengetahui persis kapan datangnya wabah penyakit itu, mereka hanya dapat informasi melalui simbol alam yaitu Semut. Bila dijumpai semut merah didalam kemeras bong (tempat penyimpanan beras) maka mereka menandai ada bahaya wabah. Filosofis semut terinsfirasi dari surah An-Naml ayat 18. Ketika Seekor Semut Merasakan adanya bahaya yang mengancam Penduduk kampungnya, ia berkata: Udkhulū Masākinakum, “Masuklah ke dalam rumah-rumah kalian”. Menurut kaum Sasak, begitu yang dicontohkan Semut sebagai isyarat untuk manusia.

Berulang-ulangnya wabah penyakit sejenis Covid-19 ini juga disampaikan dalam catatan berbeda bahwa wabah penyakit terjadi sekali dalam kurun seratus tahun, yaitu pada tahun 1720, 1820, 1920, dan 2020 tahun ini, setiap seratus tahun yang berakhir dengan tahun 20 itu, adalah waktu terjadinya wabah penyakit yang disebut thā’ūn (طاعون) dalam Hadits. Istilah thā’ūn (طاعون) dalam Hadits diartikan sebagai wabah penyakit, ini menunjukkan bahwa Covid-19 adalah sejarah yang berulang karena 15 abad yang lalu Rasulullah Saw sudah menyebut istilah tersebut dalam beberapa hadits, salah satunya hadit yang diriwayatkan oleh Ahmad yang bersumber dari dari beberapa orang sahabat, di antara Usamah bin Zaid,

,

وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، قَالُوا: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ هَذَا الطَّاعُونَ رِجْزٌ، أَوْ بَقِيَّةٌ مِنْ عَذَابٍ عُذِّبَ بِهِ قَوْمٌ قَبْلَكُمْ، فَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ، وَأَنْتُمْ بِهَا فَلا تَخْرُجُوا مِنْهَا فِرَارًا مِنْهُ، وَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فِي أَرْضٍ فَلا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ.”  رواه أحمد

Artinya: Dari Usamah dan kawan-kawannya, mereka berkata bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: “Sesungguhnya penyakit thā’ūn (طاعون) itu adalah suatu azab atau sisa dari suatu azab yang pernah ditimpakan kepada kaum-kaum sebelum kalian. Apabila penyakit thā’ūn (طاعون) itu terjadi di suatu tempat, di mana kalian tinggal di dalamnya, maka janganlah keluar dari tempat itu untuk tujuan melarikan diri darinya. Apabila kalian mendengar bahwa penyakit itu sedang terjadi di suatu tempat, jangan kalian masuki (datangi) tempat itu.” HR. Ahmad.

 

Sebagaimana yang dijelaskan diatas bahwa hadits ini memperkuat bahwa wabah penyakit thā’ūn (طاعون) sejenis Covid-19 adalah sisa dari hukuman (azab) yang ditimpakan kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad Saw. dan terjadi pada masa Nabi. Buktinya adalah ada beberapa hadis Nabi yang menerangkan bahwa penyakit thā’ūn (طاعون) itu pernah mewabah di Kufah, salah satu kota di Irak, dan juga pernah terjadi di Syam (Syria). Yang menarik dari berbagai hadis tentang penyakit thā’ūn (طاعون) itu, Rasulullah Saw. selalu mengingatkan dua hal. 1. Jangan datangi daerah (negeri) yang sedang mewabah penyakit itu. 2. Jangan tinggalkan daerahmu, jika penyakit itu sedang mewabah di negeri.

Diperkuat juga dengan hadits lain imam Bukhari meriwayatkan dari Yahya bin Ya’mar, Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan kepadanya bahwa ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ath-thā’ūn (wabah yang menyebar dan mematikan), maka beliau menjawab,

كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ ، مَا مِنْ عَبْدٍ يَكُونُ فِى بَلَدٍ يَكُونُ فِيهِ ، وَيَمْكُثُ فِيهِ ، لاَ يَخْرُجُ مِنَ الْبَلَدِ ، صَابِرًا مُحْتَسِبًا ، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ

Artinya: “Itu adalah adzab yang Allah turunkan pada siapa saja yang Allah kehendaki. Namun Allah menjadikannya sebagai rahmat kepada orang beriman. Tidaklah seorang hamba ada di suatu negeri yang terjangkit wabah di dalamnya, lantas ia tetap di dalamnya, ia tidak keluar dari negeri tersebut lalu bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah, ia tahu bahwa tidaklah wabah itu terkena melainkan dengan takdir Allah, maka ia akan mendapatkan pahala syahid.” (HR. Bukhari).

 

Dalam kitab Fath Al-barri Ibnu Hajar menerangkan bahwa yang dimaksud sebagai adzab adalah untuk orang kafir dan ahli maksiat. Sedangkan wabah itu jadi rahmat untuk orang beriman dan apabila orang beriman meninggal karena wabah sejenis Covid-19 termasuk mati syahid.

Salah satu tokoh Muslim yang pernah meninggal keluarganya akibat wabah penyakit thā’ūn (طاعون) adalah Ibnu Hajar Al’Asqālani ra. Beliau kehilangan ketiga anak perempuannya yang sangat dicintainya, yaitu Fathimah, Zeinah dan Gholiyah. Kemudian pasca keberdukaannya beliau menulis kitab kitab yang berjudul “Badzlul mā’ūn fī fadhlith thā’ūn” (pemberian bantuan kepada para pederita penyakit thā’ūn).

Keperihatinan Imam Ibnu Hajar direfleksikan dalam kitab tersebut, menurut beliau wabah thā’ūn itu semacam wabah penyakit kolera yang sangat mematikan, hingga sulit disembuhkan oleh dokter. Namun dalam catatan terakhir beliau menuturkan bahwa para ulama adalah orang- orang yang telah memperoleh cobaan dari Allah Swt melebihi dari yang lain karena mereka adalah pewaris ilmu para nabi.

Berkaitan dengan banyaknya orang yang meninggal karena wabah penyakit thā’ūn (طاعون) yang ganas dan mematikan imam Abu al-Hasan al-Mada’ mengatakan bahwa wabah penyakit thā’ūn yang masyhur dan paling besar terjadi dalam sejarah Islam ada lima, yaitu: Thā’ūn Syirawaih, yang terjadi pada zaman baginda Nabi saw yakni pada tahun keenam hijriah; Thā’ūn ‘Amwas, terjadi pada masa kholifah Umar bin al-Khaththab ra, wabah tersebut melanda hingga negeri Syam hingga mengakibatkan 25 ribu orang meninggal dunia; Thā’ūn pada yang terjadi pada zaman Ibnu Zubair yaitu pada bulan Syawwal tahun 69 H yang menyebabkan kematian selama tiga hari, yang dalam setiap harinya ada 70 ribu orang meninggal. Hingga diriwayatkan ada selkitar 70 sampai 80 anak dari sahabat Anas bin Malik yang meninggal dunia dan 40 anak dari Abdurrahman bin Abi Bakrah meninggal dunia; Thā’ūn Fatayāt pada Syawwal tahun 87 H. yang terkena wabah tersebut mayoritas para gadis, hingga disebut fatayat; dan Thā’ūn yang terjadi pada pada tahun 131 H pada bulan Rajab, dan semakin parah pada bulan Ramadhan, dan terhitung di perkampungan al-Mirbad dalam setiap harinya terdapat seribu jenazah, kemudian mereda pada bulan Syawwalnya. Sementara di zaman Sahabat pernah terjadi thā’ūn di Kufah pada tahun 50 H, di mana al-Mughirah bin Syu’bah meninggal dunia.

 

VIRUS DALAM ALQURAN: Covid-19 Hewan Terkecil Ciptaan Allah (Fauqa Ba’ūdhah)

Sebagai grand teori dalam kajian Covid-19 ini adalah Alqur’an Surat Al-Baqarah ayat 26:

۞إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡيِۦٓ أَن يَضۡرِبَ مَثَلٗا مَّا بَعُوضَةٗ فَمَا فَوۡقَهَاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرٗا وَيَهۡدِي بِهِۦ كَثِيرٗاۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلۡفَٰسِقِينَ ٢٦

Artinya: Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik

 

Menurut Quraish Shihab, dalam ayat di atas Allah menjelaskan bahwa Allah tidak keberatan menyebut ba’ūdhah (nyamuk) dalam kitab suci walaupun dianggap kecil, remeh, tidak berguna dan membawa virus penyakit. Sesuai dengan asbabunnuzul ayat tersebut sebagaimana diriwayatkan Abdur Razak dari Muammar dari Qotadah menceritakan, bahwa ketika Allah menyebutkan laba-laba (al-angkabūt) menjadi surat dalam Alquran dan menyebutkan lalat (dzubāb) menjadi ayat dalam Surat Alhajj ayat 73, orang-orang Musyrik memandang remeh-temeh atau menyepelekan penyebutan hewan-hewan kecil (binatang) tersebut yang mereka anggap sama sekali tidak penting bahkan binatang hina kemudian mereka jadikan sebagai olok-olokan terhadap Alquran. Lalu Allah menurunkan ayat tersebut untuk memberitahukan kaum musyrikin bahwa Allah pun tidak segan menciptakan binatang seumpama nyamuk (ba’ūdhah) bahkan Allah tidak segan menciptakan binatang yang lebih kecil dari nyamuk yaitu virus (fauqa ba’ūdhah).

Sikap orang-orang Munafik menyepelekan hewan-hewan kecil tersebut karena laba-laba, lalat, nyamuk dan virus masih dilihat dengan kaca mata biasa. Ia hanya dianggap sebagai hewan invertebrata yang lemah tanpa faedah, karena lemahnya mereka memahami ayat-ayat Allah terlebih saat itu mereka belum mengenal teknologi dan ilmu pengetahuan modern, jangkauan pengetahuan mereka tidak seluas jangkauan pandangan al-Qur’an yang melintas capaian zaman. Dalam hal ini al-Qurthuby menerangkan, bahwa perumpamaan nyamuk (ba’ūdhah) dan virus (fauqa ba’ūdhah) merupakan amtsāl al-i’tibar yaitu perumpamaan yang menunjukkan sifat ketakjubkan terhadap sesuatu meskipun nyamuk berparas kecil, ia tetap menjadi bagian dari ciptaan dan tanda-tanda kuasa-Nya.

Menurut sebagian mufassir, seperti Ath-Thabarsī dan Imam Nawawi, menjelaskan bahwa ayat tamtsīl tentang nyamuk dan virus berbicara tentang keunikan dan keajaiban Allah dalam penciptaan-Nya. Dalam hal ini, Imam An-Nawawi, dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa melalui ayat ini sebenarnya Allah ingin berbicara tentang keajaiban dan keindahan ciptaan-Nya, terutama dalam hal ukuran nyamuk (ba’ūdhah) dan virus (fauqa ba’ūdhah) yang sangat kecil. Diketahui bahwa nyamuk memiliki 6 kaki, 4 sayap, ekor, dan belalai yang cekung. Meskipun kecil dia mampu memasukkan belalainya ke dalam kulit gajah, kerbau, dan onta sampai pada tujuannya (menghisap darah), sampai onta pun bisa mati karena gigitannya.

Itulah mengapa Hamka pernah mengatakan, bahwa sesuatu yang tidak penting, tidak mungkin disebut Tuhan sebagai perumpamaan. Al-Qur’an menyajikan banyak perumpamaan dengan menggunakan berbagai objek, keseluruhan dari gambaran perumpamaan tersebut, menggunakan entitas kesemestaan dengan porsi flora dan fauna terbilang banyak, salah satunya adalah nyamuk (ba’ūdhah) atau virus yang lebih kecil darinya (wamā fauqohā/ fauqa ba’ūdhah).

Selanjutnya bagaimana memahami kata ba’ūdhah (nyamuk) dan virus (wamaa fauqoha/ fauqa ba’ūdhah) dalam gramatikal bahasa Arab. Bahwa kata (بعوضة) diakhiri dengan huruf ta’ marbuthah (ة), yang secara otomatis menandakan bahwa itu adalah muannats (bentuk feminin), yang tentunya merujuk kepada nyamuk betina. Begitu juga penggunaan ganti nama (ها) dalam ayat (فمافوقها) yang digunakan bagi merujuk kepada al- ba’ūdhah (البعوضة) menunjukkan bahwa ia adalah muannats. Dari penjelasan ini diketahui unsur al-i`jāz al-bayaniy begitu tersiar dalam ayat ini. Unsur i`jāz yang terdapat dalam ayat ini ialah pemilihan dan penggunaan perkataan yang tepat sesuai dengan maksud yang hendak disampaikan.

Merujuk kata dlamir ها pada ayat tersebut, berarti Allah telah menyebutnya 15 abad yang lalu secara tersirat, bahwa kata nyamuk (بعوضة) dalam ayat tersebut memang menunjukkan bahwa ia betina. Jadi anggapan kebanyakan orang yang mengatakan bahwa semua nyamuk, baik jantan maupun betina adalah penghisap dan pemakan darah tidaklah sepenuhnya benar. Tetapi hanya nyamuk betina yang menghisap darah. Hal ini sesuai dengan ilmu pengetahuan modern, yang mengatakan bahwa hanya nyamuk betina yang menghisab darah, sedangkan nyamuk jantan makan sari pati bunga. Satu-satunya alasan mengapa nyamuk betina menghisap darah adalah karena darah mengandungi protein yang diperlukan untuk perkembangan dan pertumbuhan telur nyamuk.

Adapun mengenai redaksi (فما فوقها) atau (فوق بعوضة) , Al-Maraghi dan sebagian mufassir, menjelaskan bahwa redaksi tersebut diartikan sebagai “lebih kecil dibanding nyamuk”, yaitu sesuatu yang tampak lebih kecil bentuknya dibanding nyamuk. Misalnya virus, bakteri, kuman, virus-kuman-bakteri tersebut tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, dan hanya bisa dilihat dengan bantuan mikroskop. Dapat dipahami bahwa Al-Maraghi mampu mengartikan (فما فوقها), sebagai sesuatu yang lebih kecil dari nyamuk, karena beliau hidup pada masa di mana ilmu pengetahuan modern sudah berkembang sangat pesat. Dan sesuai dengan penelitian ilmu pengetahuan modern, hewan yang bentuknya lebih kecil dari nyamuk memang ada, seperti virus, bakteri maupun mikroorganisme yang sangat kecil, bahkan fakta juga mengungkapkan bahwa diatas punggung nyamuk terdapat mikroorganisme yang sangat kecil, tidak nampak kecuali dengan mikroskop.

Kewujudan mikroorganisme yang sangat kecil yang tidak dapat dilihat oleh kasat mata yang terdapat dalam tubuh badan nyamuk, merupakan juga suatu perumpamaan yang telah diutarakan oleh Allah SWT dalam menggambarkan kekuasaan dan kehebatan Allah dalam menciptakan sesuatu. Justru, penciptaan nyamuk dan mikroorganisme yang kecil dan halus tidak boleh dipandang remeh oleh manusia, karena kesannya sangat besar dalam kehidupan manusia. Penciptaan mikroskop yang digunakan untuk melihat mikroorganisme telah dapat membantu manusia mencungkil dan memahami maksud ayat-ayat al-Qur’ān.

Konteksnya dengan Covid-19, maka binatang ini bagian dari perumpamaan makhluk terkecil yang Allah maksudkan dalam kata فما فوقها atau  فوق بعوضة dalam Surah Al baqarah ayat 26. Diameter Covid-19 diperkirakan mencapai 125 nanometer atau 0,125 mikrometer. Satu mikrometer sama dengan 1000 nanometer. Kecil sekali dan tak mungkin terlihat oleh mata telanjang manusia. Sekalipun sangat kecil virus ini mampu bertahan lebih dari 10 menit di permukaan, termasuk tangan. Bahkan WHO menyebut Covid-19 dapat bertahan selama beberapa jam, bahkan beberapa hari. Bahkan dapat bertahan hidup di suhu 26-27 derajat celcius. Oleh karena itu, manusia diperintahkan untuk senantiasa bertasbih, memuji dan membesarkan Allah Ta’ala. Karena fakta-fakta dalam kehidupan ini jika dipelajari dengan sungguh-sungguh sangatlah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Allah Maha Kuasa.

Seringkali manusia yang tidak mau dan tidak mampu memahami, merasa dirinya hebat, tidak tertandingi dan sebagainya. Padahal semua perasaan itu muncul karena ketidakpahaman diri akan hakikat hidup ini. Manusia milenial saat ini tidak boleh menganggap enteng virus tersebut karena ia juga makhluk Allah, apalagi makhluk tersebut membawa penyakit yang memudaratkan manusia. Dan orang yang menyepelekan Covid-19 termasuk bertsayabbuh (menyerupai diri) dengan kaum Musyrik yang pernah meremehkan binatang kecil yang Allah sebut dalam Alquran.

Maka, lanjutan kalimat setelah kata famā fauqa ba’ūdhah yaitu Allah menjelaskan ada dua golongan dalam menyikapi perumpamaan terhadap makhluk kecil yaitu sikap orang yang beriman dan orang yang kafir. Pertama orang-orang yang beriman, yang dengan keimanannya mereka mempercayai segala sesuatu yang bersumber dari Allah, meskipun mereka tidak mengetahui pentingnya perumpamaan tersebut. Bagi yang belum luas ilmunya, mereka cukup mempercayai akan segala hal yang diturunkan Allah, serta cukup menggantungkan kepercayaan bahwa kalau tidak penting, tidaklah Allah akan membuat perumpamaan tersebut, yakni perumpamaan virus dalam hal ini Covid-19. Dan bagi yang ilmunya luas, mereka akan mengagumi kebesaran Allah, semakin mendekat kepada Allah dan hidup dengan nilai-nilai ibadah kepada-Nya.

Kedua orang-orang kafir, mereka akan menentang perumpamaan yang telah dibuat Allah, dengan segala alasan yang mereka utarakan. Hal ini dikarenakan hati mereka sudah tertutup dari cahaya Ilahi, tidak menghormati Allah, dan tidak mensyukuri nikmat yang diberikan oleh-Nya. Selain itu, juga karena mereka sudah terbiasa menentang kebenaran yang telah dijelaskan dengan hujjah dan bukti kebenaran. Mereka mempertanyakan, apa yang dikehendaki Allah dengan mendatangkan Covid-19? Jika mereka mau berfikir dan menyadari hikmah yang terkandung di dalamnya, jelas mereka itu tidak akan berpaling atau menentang.

Dalam tafsir virus (fauqa ba’ūdhah) yang terdapat dalam surah Al baqarah ayat 26 ini,  bahwa dengan munculnya Covid-19, Allah akan menyesatkan banyak orang dengan statmen beragam yang semakin menjauhkan diri kepada Allah. Dan dengan Covid-19 itu pula, Allah memberikan petunjuk kepada banyak orang dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah, berbuat baik kepada sesama dan menjaga alam semesta yang ditenpati untuk dijaga dan dipelihara. Dan Allah tidak akan menyesatkan seorangpun kecuali dia berada dalam keadaan fasik yaitu orang yang berat untuk mendekat ibadah kepada Allah. Maka orang fasiq ini akan menjadikan kesempatan lockdown karena Covid-19 mengisi hari-harinya bersenag-senang jauh dari Allah Swt.

Sekalipun terjadi perberbedaan dalam menyikapi makhluk Allah yang kecil ini baik dari golongan Mu’min maupun Musyrik, tetap lah Virus Covid-19 bukanlah virus rasis yang hanya menyerang satu golongan atau suku bangsa tertentu. Virus ini telah menyerang secara global tanpa memandang suku, agama, ras, golongan, dan bangsa. Semua negara secara global menghadapi ancaman yang sama. Setiap bangsa juga diuji ketangkasannya dalam meredam pandemi Covid-19 ini.

Umumnya virus-virus apapun jenis dan namanya, akan terus berevolusi. Dan dunia tak pernah sepi dari ancaman ini. Virus-virus yang juga makhluk Allah ini ingin hidup. Mereka selalu mencari ruang tumbuh untuk melestarikan DNA mereka melalui self-replicate dengan sangat cepatnya. Itulah sebabnya, virus-virus ini, meminjam istilah Richard Dawkins dalam bukunya Selfish-Gen, selalu mengejar buat dirinya untuk terus hidup. Maka hewan-hewan seperti kelelawar, ular, tikus, ayam, dan lain-lain sering menjadi lahan empuk bagi ruang tumbuh virus-virus ini. Penularan, karena itu, melalui hewan ke manusia dan akhirnya dari manusia ke manusia.

Dan menurut saintis muslim, bahwa manusialah yang paling cepat tertular oleh Covid-19 ini adalah orang-orang dengan getaran frekuensi rendah yang akan dianggap sebagai “rumah” bagi si virus.  Sejalan dengan teori kimia bahwa virus bergetar pada frekuensi rendah, maka virus akan mencari inang yang sama dengan frekuensinya. Dalam hal ini rasa panik, takut, khawatir, marah, sedih, frustasi menjadikan orang-orang pada getaran frekuensi rendah. Maka orang yang didominasi kejiwaan tersebut ibarat tempat yang subur bagi perkembangan virus. Kejiwan yang rendah hanya akan terjadi pada orang-orang yang lemah dan cacat spiritualnya yaitu jauh dari Allah SWT. Hal senada yang disampaikan Ibnu Sina, bahwa sakit tidak melulu disebakan oleh lemahnya fisik tetapi bisa juga disebabkan oleh kondisi kejiwaan (spiritual) yang lemah karena lemahnya spiritual dan jauh dari nilai-nilai Ketuhanan.

Konteksnya dengan Covid-19, Ibnu Sina pun dalam bukunya yang berjudul Qonun Fi Tib memberikan tiga nasehat saat menghadapi wabah penyakit yang mematikan yaitu jangan panik karena panik adalah setengah dari penyakit, berusaha tenang karena ketenangan adalah separoh dari obat, dan bersabar karena kesabaran adalah awal dari kesembuhan. Maka kalau berbicara secara global, akan didapati kenapa Covid-19 ini bisa muncul dan menyebar subur di dunia ini. Alasannya adalah karena sebagian besar masyarakat dunia berada pada perasaan takut, khawatir, marah, frustasi dan kejiwaan yang lemah lainnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang berhasil sembuh dari Covid-19 adalah mereka-mereka yang selalu mengakses rasa yakin, ikhlas, tawakal, istiqomah, damai, tenang, bersyukur dan sifat spiritual tinggi lainnya.

Alhasil, nyatanya makhluk Allah yang terkecil (fauqa ba’ūdhah) yaitu virus-virus penyakit termasuk Covid-19 dijadikan sebagai bagian dari ayat-ayat-Nya untuk mengingatkan manusia tidak sombong dan angkuh dengan meremehkan ciptaan Allah lainnya, sebagai peringatan untuk terus memerankan diri secara adil dan arif sebagai wakil Allah di muka bumi, virus-virus ini mengajarkan banyak hal kepada manusia untuk berserah diri kepada Allah, tetap belajar, bersikap arif, rendah hati, dan bekerjasama.

Oleh:sdfsdf

Oleh: Dr. Lalu Muhammad Nurul Wathoni, M.Pd.I

Alumni Ma’had Darul Qur’an Wal Hadits (DQH) NW Anjani Angkatan 45

Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram lmnwathan@uinmataram.ac.id/

 

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker