ARTIKEL

Madrasah Al-Shaulatiyah Makkah Al-Mukarramah Tempat Nyantri 3 Ulama Nusantara Pendiri ORMAS ISLAM Terbesar di Nusantara

“Madrasah Al-Shaulatiyah Makkah Al-Mukarramah Tempat Nyantri 3 Ulama Nusantara Pendiri ORMAS ISLAM Terbesar di Nusantara”

• Maulanassyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Al-Anfanany Al-Masyhur
• Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ary
• KH. Ahmad Dahlan

nwonline.or.id – Madrasah Al-Shaulatiyah merupakan salah satu madrasah legendaris, madrasah tertua di tanah suci Makkah yang didirikan oleh seorang Ulama besar imigran India, yakni Asy-Syekh Rahmatullah Ibnu Khalil al-Hindi al-Dahlawi.

Nama Madrasah Ash-Shaulatiyah sendiri diambil dari nama seorang perempuan yang sangat dermawan asal India, Begum Shaulatun Nisa, yang telah menjadi donatur tunggal pembangunan madrasah tersebut.

Madrasah Al-Shaulatiyah adalah madrasah pertama yg didirikan pada tahun 1292 H di Kerajaan Arab Saudi dan ia juga merupakan madrasah swasta pertama yg didirikan di negeri tersebut, sehingga gaungnya menggema ke seluruh dunia.

Madrasah ini telah menghasilkan Ulama-ulama besar dunia, termasuk dari Nusantara, sehingga dijuluki dg “mashnaurrijal” yg berarti “pabrik dan pencetak para ulama”.

Madrasah Shaulatiyah merupakan Madrasah Tradisional di tengah deru pembaruan pendidikan di Hijaz yang dilancarkan Kesultanan Utsmaniyah.

Ia merupakan salah satu institusi pendidikan Islam yang cukup terkenal di Makkah di kalangan masyarakat India, Pakistan dan lain-lain termasuk juga komunitas Islam dari dunia Melayu pada saat itu.

Pendiri madrasah ini adalah salah seorang keturunan Sayyidina Utsman bin Affan, yang lahir dan berasal dari Delhi, India, sehingga sering diasosiasikan dengan Muslimin Anak Benua India.

Murid terbanyak di madsarah ini justru dari Nusantara, 95% siswa di Shaulatiyah berasal dari Indonesia.

Bagi masyarakat Melayu, selain mendapat pendidikan di Masjidil Haram banyak juga yang memasuki Madrasah Al-Shaulatiyah.

Madrasah Shaulatiyah adalah Madrasah Tradisional di abad ke-20 yang banyak beraviliasi dengan Madrasah Darul Ulum di Deoband, India.

Diantara almni dan santrinya adalah tokoh Ulama Nusantara, pendiri Ormas terbesar di Nusantara yakni K.H. Hasyim Asy’ary (pendiri Nahdlatul Ulama), K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Maulanassyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Al-Anfanany (pendiri Nahdlatul Wathan Lombok-NTB) pernah belajar di Madrasah Shaulathiyah.

Maulanassyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid masuk Madrasa Shaulatiyah pada tahun 1345 H atau 1927 M. Saat itu sebagai mudir atau direktur Madrasah ash-Shaulatiah adalah Syeikh Salim Rahmatullah, cucu pendiri Madrasah ash-Shaulatiyah

Karena itu, ada hubungan historis antara NU NW dan MUHAMMADIAH di Indonesia karena basis ilmu pendirinya sama-sama dari almamater Madrasah Shaulatiyah.

TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, kelahiran 19 April 1898, menyelesaikan studinya di Madrasah ash-Shaulatiyah Makkah pada 1351 H atau 1933 M, dengan predikat istimewa (mumtâz). Predikat istimewa disertai perlakuan yang istimewa dari Madrasah ash-Shaulatiyah.

Para gurunya menilai Zainuddin memiliki ketekunan tinggi dalam belajar. Beberapa guru mengakuinya sebagai murid yang tergolong cerdas. Syekh Salim Rahmatullah selalu mempercayakan kepadanya untuk menghadapi penilik(pengawas) madrasah Pemerintah Arabi Saudi yang sering kali datang ke madrasah. Penilik madrasah adalah penganut paham Wahabi. “Dan Zainuddin, satu-satunya murid Madrasah ash- Shaulatiyah yang dianggap menguasai paham Wahabi dan ia selalu berhasil menjawab pertanyaan penilik itu dengan memuaskan,” kata seorang teman sekelasnya, Syeikh Zakariyah Abdullah Bila, ulamabesar di Tanah Suci Makkah.

Mudir madrasah tersebut, saat itu Maulana Syaikh Salim Rahmatullah, generasi ketiga dari pendiri madrasah tersebut, punya penilaian tersendiri. “Cukup satu saja murid madrasah ini asalkan seperti Zainuddin yang semua jawabannya menggunakan syair, termasuk ilmu falak yang sulit sekalipun,”

Ijazahnyapun ditulis tangan langsung oleh seorang ahli khath terkenal di Makkah saat itu, yaitu al-Khaththath asy-Syaikh Dawud ar-Rumani atas usul dari Direktur Madrasah ash-Shaulatiyah. Kemudian, ijazah tersebut diserahterimakan kepadanya pada 22 Dzulhijah 1353 H.

Pada tahun 1346 H/1928 M, Syaikh Yasin bin Isa Al-Faddani juga pernah melanjutkan pendidikan ke Madrasah ash-Shaulatiyah, menimba ilmu disana selama kurang lebih 7 tahun.

Lokasi Madrasah Al-Shaulatiyah pada mulanya berada sepelemparan batu dari Masjidil Haram, sampai kemudian dengan adanya proyek perluasan Masjidil Haram, Madrasah Shaulatiyah dipindah ke Kakiyah.

Gedung kedua yang didirikan pada 1320 H saat Perang Dunia pertama, batu pertama diletakkan dengan dihadiri para Ulama dan Masyaikh Makkah, kemudian pembangunan dihentikan karena masih ada perang dunia, lalu dilanjutkan pembangunannya dan baru selesai pada 1343 H.

Di bawah ini fhoto kenangan Madrasah Al-Shaulatiyah sebelum di runtuhkan oleh pemerintah Arab Saudi.

Diambil dari berbagai sumber

Tags

NW Online

Situs Nahdlatul Wathan Online | NW Online, Media Resmi Nahdlatul Wathan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker