,

Integrasi ISLAM dan ILMU Pengetahuan

oleh -921 views
INTEGRASI ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN
INTEGRASI ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN

NW ONLINE – Sudah dijelaskan bahwa antara agama dan ilmu pengetahuan tidak ada pertentangan, memiliki sifat yang integral, tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Hubungan tersebut menunjukkan betapa sisi positif islam mendukung ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, Pendidikan islam dapat dipahami sebagai ilmu dan “kaafah” (utuh atau menyeluruh).

Sebagai sebuah konsekuensi dari tidak adanya pemisahan antara ilmu dan agama dapat ditegaskan bahwa tidak ada pemisahan antara apa yang disebut dengan ilmu agama dengan ilmu umum. Murni menyatakan bahwa seluruh ilmu adalah islami sepanjang ada dalam batas yang digariskan Allah SWT kepada manusia.

Dalam konsep islam bagian timur, semua yang dipikirkan, dikendaki dirasakan serta diyakini, memberikan manusia kepada pengetahuan secara sadar menyusun dalam system yang disebut dengan ilmu. Namun, timur berbeda dengan barat yang mengelompokkan ilmu menjadi tiga anatara lain :
1. Natural Sciences, ilmu kealaman, fisika, kimia, dan lainnya.
2. Social Sciences, ilmu kemasyarakatan yang menyangkut perilaku manusia.
3. The Humanities (humaniora) terkait ilmu manusia kesadaran, perasaan, dan nilai-nilai yang menyertainya.
Pada kenyataannya, islam memiliki multidisipliner ilmu pengetahuan baik ilmu alam, sosial, atau humaniora. Dengan demikian berarti islam mempunyai ajaran yang lengkap, integral dan universal.

A. Islam dan Ilmu Kealaman (Natural Science)

Dalam pandangan Islam, kriteria keterpujian suatu bidang ilmu adalah kebergunaannya, dan ini berarti bidang ilmu tersebut mampu membawa manusia kepada Tuhan. Bidang ilmu apapun yang memiliki ciri semacam ini adalah terpuji, dan usaha untuk memperolehnya adalah bentuk ibadah.

Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara ilmu-ilmu yang secara fisik bersifat keagaman dan ilmu-ilmu kealaman. Soejati menyatakan bahwa, sebenarnya alam semesta setingkat dengan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu dan hukum Islam yang tak terpisahkan dengan Al-Qur’an berkaitan dan saling menguatkan.

Para ilmuan dewasa ini, baik ahli sejarah atau filsafat sains mengakui, bahwa sejumlah gejala yang dipilih untuk dikaji oleh ilmuan adalah alam materi. Ilmu pengetahuan ke-alam-an ini, menurut A. Mattulada, yang utama menghasilkan peralatan-peralatan kehidupan manusia yang disebut teknologi.

Kemajuan dan perkembangan IPTEK yang dicapai manusia dari masa ke masa tentu tidak lepas dari penyelidikan manusia terhadap alam semesta beserta isinya. Pasalnya IPTEK menggali sumber pengetahuannya dari alam. Dan Islam sebagai agama yang diturunkan Allah yang menyeru manusia untuk melakukan penyelidikan dan eksperimen tentang alam adalah menjadi faktor kemajuan itu.

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. seperti Itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, Mudahmudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al-A’raaf: 57)

B. Islam dan Ilmu Sosia (Social Science)

Ilmu sosial adalah ilmu- ilmu kemasyarakatan yang menyangkut perilaku manusia dalam interaksinya dalam masyarakat. Bukti ilmu sosial sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi, misalnya Ilmu Politik secara umum mempunyai batasan sebagai ilmu yang mempelajari pengelolaan kekuasaan dalam suatu negara.

Penerapan ilmu politik ini sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi negara yang bersangkutan. Kekuasaan Negara di Indonesia mengacu kepada Sistem Demokrasi Pancasila, di Amerika Serikat mengacu kepada Sistem Demokrasi Liberal dan di Republik Rakyat Cina mengacu kepada Sistem Demokrasi Komunis.

Hubungan antar berbagai disiplin ilmu sosial menjadi semakin renggang dan tereliminasi karena pengembangan ilmu-ilmu tersebut semakin terlepas dari induknya yakni filsafat (manusia). Maka dalam pembahasan mengenai ilmu sosial, sebelumnya perlu diuraikan konsep yang jelas tentang definisi manusia secara universal dan objektif. Para ilmuan memberikan definisi yang beragam tentang manusia.

Aristoteles, seorang filosof Yunani kuno, mendefinisikan manusia sebagai manusia yang berakal sehat, mengeluarkan pendapat dan bicara berdasarkan akal pikirannya. Sartre, filosof Pancis abad 19, mengemukakan bahwa manusia itu menaruh minat yang sangat besar mengenai asal mula dan akhirnya, mengenai maksud dan tujuannya, mengenai makna dan hakikat kenyataan.

Hanya manusia sajalah yang membedakan antara keindahan dan kejelekan, antara kebajikan dan kejahatan, antara yang lebih baik dan lebih buruk.
Secara umum, Al-Qur’an memberi batasan tentang manusia, hal ini dapat dilihat dalam surat Al-Mu’minun ayat 115 yang artinya:
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”

C. Islam dan Humaniora (The Humanities)

Humaniora merupakan ilmu yang berkaitan dengan seni yang dimiliki oleh manusia seperti seni sastra, music, pahat, Lukis, dan lainnya. Ilmu pengetahuan humaniora tidak dapat dimasukkan dalam ilmu sosial, karena bukan ilmu yang mempelajari gerak kegiatan (acrtion) kehidupan manusia, tetapi yang menimbulkan bakat dan minat manusia.

Hal ini nampaknya selaras dengan pendapat Muhammad ‘Imaduddin Abdurrahim yang pernah disebutkan sebelumnya, bahwa manusia sebagai makhluk yang memiliki akal (intelligent quotient), rasa (emotional quotient), hati nurani (spiritual intelligence), nafsu, dan instinct.

Tujuan humaniora adalah membuat manusia lebih manusiawi, dalam arti membuat manusia lebih berbudaya. Sedangkan Tujuan Lebih lanjut dijelaskan bahwa muara dari ilmu humaniora adalah munculnya sosok yang humanis yakni orang yang mendambakan dan memperjuangkan terwujudnya pergaulan yang lebih baik, berdasarkan asas-asas perikemanusiaan, pengabdi kepentingan sesama umat manusia.

Manfaat Kajian terhadap ilmu-ilmu humaniora akan membuat seseorang lebih manusiawi dan berbudaya.. Hal ini jelas sangat penting sebagai antisipasi kemajuan teknologi yang kadang kadang membuat manusia seperti kehilangan hakikatnya karena hampir semua peran dapat digantikan oleh mesin sehingga tidak tertutup kemungkinan manusia juga bertindak seperti mesin dan kehilangan Nurani.

Agama Islam sesuai dengan fitrah manusia, maka dari itu jelas bahwa Islam memberi dasar yang cukup kepada manusia untuk hidup berkebudayaan. disamping urusan akhirat, urusan dunia pun mendapat perhatian yang besar. Firman Allah :

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiamu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. AlQashash: 77).

Dengan demikian, Integrasi antara Islam dan humaniora semacam ini, sesungguhnya menyediakan basis filsafat untuk mengkaji kehampaan spiritual yang merupakan produk dunia perkembangan IPTEK.
Dikotomisasi ilmu pengetahuan dengan agama sebenarnya merupakan persoalan klasik dan berkepanjangan, namun seirirng dengan berubahnya paradigma serta berkembangnya penguasaan keilmuan disegala bidang, menjadikan terbuka luasnya peluang integrasi ilmu.

Sesungguhnya sumber ilmu terintegrasi dari tiga skema besar, yakni, ilmu alam, ilmu social, dan humaniora yang sesungguhnya bersumber dari bangunan ilmu yang integratif yaitu Al-Qur’an dan Hadis. Dalam konsep Islam Ilmu berawal dari pengetahuan yang merupakan manifestasi pikiran, perasaan, keyakinan serta keinginan.

Namun dalam konsep barat dikotomisasi ilmu masih terlihat dengan pemisahan antara IPTEK dan IMTAQ, tetapi dikotomisasi tersebut tidak berlangsung lama, karena semakin jelas perkembangan ilmu mengarah kepada satu sumber yakni Allah SWT, sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh cabang ilmu dan pengetahuan yang terdapat di alam semesta ini merupakan satu kesatuan Islam yang semakin luas penguasaannya maka semakin mengerucut pemahamannya.

 

(Oleh: L.M Ridho Mustafid, Santri Nahdlatul Wathan. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)