Seri Karya Intelektual Maulanassyaikh: Attuhfah al-Anfananiyyah: Sebuah Kado Hadiah Teristimewa untuk Masyarakat Lombok (Anfananiyyah)

Sebuah Kado Hadiah Teristimewa Untuk Masyarakat Lombok (Anfananiyyah)
(Menggali Sisi Inspirasi, Motivasi Dan Edukasi Untuk Kebangkitan Dan Kemajuan Anak Negeri Dalam Menapaki Perjuangan Masa Kini Dan Nanti)
Oleh: Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan. QH., MA (Pembina Ponpes Dana NW, Dosen Fdik Uin Mataram, Sekjend PB NW)

Prolog:

Kajian kitab Attuhfah al-Anfananiyyah ini tersentral pada kajian ilmu faraid ilmu tentang warisan dalam perspektif Islam. Sebuah kajian yang disajikan secara mendetail dan mendalam serta menggunakan metode analisa yang sistematis dan komprehensif di mana ilmu Faraidh ini adalah ilmu yang sangat sulit namun disajikan dengan bahasa dan pembahasan yang mudah, terlihat dalam setiap bait-dan syarah bait nazam diberi contoh dengan menggunakan tabel dan jadwal. Ini sebuah metode penyusunan kitab yang sangat up to date dan responsif dengan kondisi otak dan psikologi anak zaman. Inilah salah satu kekhasan kitab Attuhfah al-Anfananiyyah ini.

Dalam upaya mencari dan mengkaji sisi-sisi lain dari Kitab Karya Maulanassyaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid ini, al-Faqier ingin mengajak pembaca yang budiman untuk memutholaahnya kembali agar terdapati hikmah keilmuan dan barkah kajian yang tertuang dalam pikiran intelektual dan akhlak spritual dari Penulis Kitab Attuhfah al-Anfananiyyah.

A. Historisitas Penulisan Kitab Attuhfah Al-Anfaniyyah.

Kitab Attuhfah al-Anfananiyyah ini selesai ditulis oleh Maulanassyaikh pada malam 17 Ramadhan Pada Tahun 1358 H/ bertepatan dengan Tahun 1938 M. Kurang lebih setahun setelah madrasah NWDI lahir di LOMBOK NTB ini, di rumah GEDENG DESA di GUBUK BERMI PANCOR LOMBOK TIMUR.

Dalam penuturan Maulanassyaikh TGKH. M. ZAINUDDIN ABDUL MADJID saat mengaji kitab ini di hadapan beliau dulu di Mushalla Al-Abrar, beliau menjelaskan kronologis nama kitab ini.

Kata beliau, nama kitab ini sebenarnya saya berinama dengan BINTULLAILAH- بنت الليلة

yang maknanya anak yang lahir satu malam. Ibaratnya ibu bapaknya baru magrib menikah langsung punya anak malam itu. Sebab, kata beliau, saya menulis kitab Attuhfah al-Anfananiyyah sebagai syarah (penjelasan) dari Kitab Nazham Annahdhah Azzainiyyah selepas shalat Isya’ mulai menulis sampai lima menit akan ada subuh atau terbit fajar shodiq. Jadi persis semalam suntuk kitab Attuhfah al-Anfananiyyah ini selesai saya tulis. Pungkas beliau. Alasan itu saya mau beri nama kitab ini dengan : بنت الليلة. Namun setelah saya renungkan dan saya pertimbangkan, serta ada kekhawatiran orang yang faham balaghah menyebut saya orang yang sombong, maka saya rubah nama kitab ini dengan Attuhfah al-Anfananiyyah sebagai kenang-kenangan untuk masyarakat Lombok.

Kitab ini disusun di sela-sela Maulanassyaikh membangun peradaban baru untuk konteks masyarakat Lombok, membangun inovasi baru yang sangat asing di kalangan masyarakat kultural yang terbiasa dengan sistem khalaqah (ngaji tokol, duduk besile, bekerbung: istilah antropologi pesantren di Lombok).

Baca juga:

Nasihat Maulanassyaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid Al-Anfanany Al-Masyhur Dalam Kitab Nazam Al-Nahdhah Al-Zainiyyah

Kitab ini memberikan ruang dialektika dengan komunitas masyarakat Sasak yang kental dengan tradisinya meski mereka berislam namun sisi lain belum sepenuhnya ajaran Islam difahami dan diamalkan. Kitab ini menawarkan perubahan paradigma konstruk berpikir masyarakat yang sesuai dengan tuntunan agama dan tuntutan keadilan dan keberpihakan kepada kepentingan keluarga dan masyarakat, terlebih lagi karena ini persoalan harta benda warisan yang rentan dengan konflik internal keluarga. Kitab ini hadir untuk menjawab dan melerai aneka perselisihan di internal keluarga Sasak Khususnya dan keluarga muslim secara umum.

B. Filosofi Makna Kitab Attuhfah Al-Anfananiyyah.

Nama Kitab ini terdiri dari tiga suku kata:

Pertama: Attuhfah al-Anfananiyyah

Kedua: Syarah

Ketiga: Annahdhah Azzainiyyah.

Kitab ini disebut dengan Attuhfah, Karena secara leksikal dan terminologi bermakna:

التُحفَة : الشيءُ الفاخِر الثَمين :

Pertama: Sesuatu yang amat berharga

التُحفَة و التُحَفَة ج تُحَف : الهَدِيّة :

Kedua: Hadiah, persembahan.

الطُرفَة : التُحفَة :

Ketiga: Sesuatu yang indah, amat berharga.

Sedangkan Al-Fananiyyah beliau jelaskan dalam syarah kitab ini sebagai berikut:

يقول راجى عفو ربه المجيد * الأنفنانى نجل عابد المحيد

الانفنانى بسكون الياء لاقامة الوزن ولغة فى كل منسوب الى “أنفنان” بفتح الهمزة والفاء والنون واسكان الباقية بمعني الجزيرة وهى فى الأصل اسم لمدينة شهيرة بالشاطئ الغربى فى جزيرة لومبوك من جزائر إندونسيا الشرقية فهو من باب التسمية باسم الجزء. وآثرت الانتساب الى أنفنان دون لومبوك تفاؤلا بالمتداول فى الحجاز (وطن الوحى) فانهم يدعون كل من أتى من جزيرة لومبوك بأنفنان كالفقير حينما كان طالبا بالمدرسة الصولتية ذات احترام عمرها الله مدى الأيام. ولأنه أخف وأقرب الى العربية. وإلا فلو قلت اللومبوكى لقلبه الوزن.. (اھ ص ٤)

Al-ANFANANY: Dengan baris mati ya’nya untuk pas timbangan wazannya. Al-anfanany itu dalam bahasa yang disandarkan ke-ANFANAN dengan dibaca baris atas hamzah, fa’, nunnya serta dimatikan huruf sisanya. Anfanan. Anfanan pada dasarnya nama bagi kota yang populer di pesisir pantai barat pulau Lombok bagian dari Indonesia Timur. Ini namanya memberi nama kesemuanya dengan meminjam nama dari salah satu nama yang ada di tempat itu. Saya lebih mendahulukan menyebut dengan sebutan Anfanan bukan Lombok semata-mata tafa’ulan (mengambil berkah) dari tradisi yang biasa terjadi di negeri Hijaz (tempat turunnya wahyu) di mana mereka (orang Arab) memanggil setiap orang yang datang dari Pulau Lombok dengan panggilan Anfanany seperti al-Faqier (Maulanassyaikh) sering disebut Anfanany di saat menjadi mahasantri di Madrasah al-Shaulatiyah nan jaya. Semoga Allah tetap menjaganya. Dan juga karena sebutan Anfenan lebih ringan dan lebih dekat dengan dialek bahasa Arab. Toh juga seandainya saya menulisnya dengan redaksi Al- Lombookiyyu tentu tak seimbang dan tak seirama dalam wazan syair ini.

Jadi Filosofis Attuhfah al-Anfananiyyah ini semata-mata Maulanassyaikh ingin menyuguhkan sebuah kado indah buat kenang-kenangan orang Lombok agar Lombok dikenal Dunia melalui karya ilmiah ini yang dapat dibaca oleh orang banyak di dalam maupun luar negeri.

C. Kontent Kitab Attuhfah Al-Anfananiyyah:

Kitab ini terdiri dari

Pengantar penghargaan dari Mahaguru Maulanassyaikh Hasan Muhammad al-Massyath.

Pengantar Penulis

Muqaddimah

Pembahasan sebanyak 41 pembahasan rincian (baik terkait hitungan, faidah, kesimpulan pembahasan)

Terakhir penutup dibarengi dengan tabel lengkap tentang yang terhalang dan yang menghalangi dalam menerima harta warisan (Al-Hajbu- Alhajibu-almahjubu)

Kitab ini terdiri dari 123 halaman dengan cetakan tulisan komputer print out kertas warna putih, gambar cover foto penulisnya)

D. Inspirasi, Motivasi Dan Edukasi Yang Tertuang Dalam Kitab Attuhfah Al-Anfananiyyah:

Ada banyak aneka pembelajaran yang dapat dipetik dari karya mulia ini:

Pertama: penghormatan guru kepada sang murid-sebuah ikatan kecintaan spiritualitas yang menginspirasi para guru dan murid dalam mendidik.

Coba kita baca sanjungan Maulanassyaikh Hasan Muhammad Al-Massyath:

حضرة الأستاذ الجليل ذى المآثر الجليلة صاحب الهمم الشيخ محمد زين الدين الأنفنانى بلغه الله الأماني السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ولا زالت تفيض على المحبين هباته.

Kehadapan Sang Guru Mulia yang memiliki Wibawa dan pengaruh yang nyata, yang memiliki semangat juang yang tinggi Syaikh Muhammad Zainuddin al-Anfanany. Semoga Allah menyampaikan segala cita-cita mulianya. Keselamatan rahmat dan berkah Allah selalu tercurahkan kepadamu serta senantiasa selalu mengalir cucuran keberkahan dan kemuliaan dari Allah swt kepada semua orang yang berbuat kebaikan.

Baca juga:

Nasihat Cinta Maulanassyaikh dalam Kitab Mi’rajussibyan Ila Sam’i Ilmil Bayan

INSPIRASI dari pernyataan di atas adalah Guru harus terus memberikan motivasi dan bimbangan kepada murid nya dengan memberikan penghormatan dan sanjungan agar terbentuk karakter yang diharapkan menjadi kebiasaan baiknya ke depan dalam memberikan apresiasi dan mengenang jasa baik gurunya.

Kedua: integrasi keilmuan dalam melahirkan pemahaman yang komprehensif untuk generasi saat ini dan nanti.

Coba lihat analogi cerdas oleh Maulanassyaikh TGKH. M. ZAM. tentang konsep integrasi keilmuan dalam bidang Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharaf. Beliau menekankan pada konsep yang baik seperti:

والعلماء محرري العلوم: تحريرا موافقا للأصول الصحيحة القواعد الجلية أي المعهودة شرعا وهي التفسير والحديث والفقه ووسائلها كالنحو والصرف فانهما أهمهما و أعظمها اذ هما مقدمة العلوم طرا ووالداها حقا. اما النحو فأب شقيق معرب عن مقتضيات المعانى المتنوعة بأواخر الألفاظ واما الصرف فأم رؤوف ولود بحيث أنها يمكنها ان تلد فى نحو دقيقة واحدة أربعين كلمة فأكثر مختلفة المبانى والمعانى وبالجملة أن إنتاج العلوم صحيحا يدور عليها إذ هما قطبا رحاها وفى ذلك ينشئ لسان الحال:

النحو يا فتى أبو العلوم * والصرف أمها لدى العموم

فزوجنهما على استعجال * لينتجا بأنجب الأنجال

فمن أدعى نتيجة من غير مقدمات او ولدا من غير والد ولا والدة فقد ادعى عبثا ومحالا ورام ضلالا وإضلالا.

Nahwu itu Pembukaan / muqoddimah Ilmu pengetahuan.

Nahwu dan sharaf itu ilmu yang paling urgen dan paling besar pengaruhnya. Dan Ibu bapak ilmu pengetahuan itu adalah Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharaf.

Ilmu nahwu itu adalah bapak kandung yang dinamis terhadap tuntutan makna-makna yang beraneka makna ditinjau dari akhir lapaz kata.

KETIGA:

KEEMPAT:

KELIMA:

KEENAM:

KETUJUH:

KEDELAPAN:

KESEMBILAN:

KESEPULUH:

EPILOG:

(KITA SIMPAN DULU-SEBENTAR DILANJUTKAN PEMBAHASANNYA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.