NW ONLINE

Pelantikan Sulthanul Auliya’ (2)

SYAHADAH CINTA YANG TERPENDAM

(2)

Catatan Jumrah alias TGH. Fathurrahman tentang pelantikan Maulana al-Syaikh sebagai Sulthanul Auliya’:

سُبْحَانَ اللّٰهِ وَالْحَمْدُ للّٰهِ وَلَاِالهَ اِلَّا اللّٰهُ وَ اللّٰهُ اَكْبَرُ وَلَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ

صَلَاةُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَفْضَلُ خَلْقِ اللّٰهِ

MENGHADIRI PELANTIKAN MAULANA

“In sya’ Allah jemaq bulan Ramadlan tebedait ito léq Makkah telu kali”

[In sya’ Allah nanti bulan Ramadlan kita berjumpa di Makkah tiga kali],

janji Maulana kemudian.

Keajaiban Cinta

Tibalah saatnya musim haji. Saat musim haji 1982 itu Maulana tidak berhaji. Karena saya dijanjikan berjumpa oleh Maulana al-Syaikh maka saya menunggu-nunggu. Tanggal 11, 17, 21, saya tidak bisa bertemu. Akhirnya saya bisa berjumpa dengan Maulana al-Syaikh pertama kali secara langsung satu kali tepatnya tanggal 27 Ramadlan di Masjidil Haram. Takterkira kesyukuran saya saat itu ditambah perasaan senang dan terharu. Perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Saat itu saya memohon doa dan didoakan oleh beliau. Lalu beliau ngandika: “uah ke, laun gitakne ante sik dengan parane ante jogang laun.” [sudahlah, nanti kamu dilihat orang dan disangkanya kamu gila].

Kemudian beliau margi (pergi).

Pada tanggal 29 Ramadlan saya berjumpa dengan Maulana lewat mubasysyirât (alam kewalian). Saya berjumpa di terowongan air antara sib Ali dengan sib Amir.

Beliau ngandika: “Ante ndéq méq man full keyakinan méq léq aku.”

[kamu ternyata tidak begitu yakin padaku].

Sambil menangis saya menjawab: “yakin tiang Maulana al-Syaikh.”

Beliau mengulangi lagi beberapa kali.

“Ante ndéq méq man full keyakinan méq léq aku.”

[kamu ternyata tidak begitu yakin padaku].

Saya menjawab: “yakin tiang Maulana al-Syaikh.”

Tidak lama kemudian, tempat itu berubah menjadi lapangan luas, seperti lapangan udara.

“Mele ante nggitaq aku jari pesawat terbang ke?, laguq ndak méq taget,” tanya Maulana.

[mau kamu melihat saya laksana pesawat terbang?, tetapi kamu jangan kaget].

“Nggih”.

Maulana langsung berubah menjadi seperti jet tempur dan langsung meluncur ke udara dan setelah melakukan aksi akrobatik berputar-putar beliau meluncur turun tepat di depan saya.

“Ngke.. yakin ante?”, tanya Maulana. [nah.., yakin kamu?]

“Nggih.” [ya]

“Ke méq yakin-yakin léq aku!” pesan Maulana.

[Nah, kamu harus yakin sepenuhnya padaku]

Pertemuan ketiga, saya berjumpa dengan Bapak Maulana pada tanggal 4 Syawal malam Jumat di Ma’la. Saat itu Ma’la berubah tampakannya menjadi tanah lapang yang sangat luas seperti padang Arafah. Yang saya lihat di sana para auliyaullah. Mereka menggunakan top (jubah) putih. Lapangan itu penuh. Menurut keterangan salah seorang yang saya tanya, mereka adalah auliyaullah seluruh dunia. Dalam kebersamaan itu seorang peserta nyeletuk bertanya (terkadang dengan Bahasa Indonesia, terkadang Bahasa Arab):

“Apa kamu mengetahui malam apa ini?”

“Maaf saya tidak tahu,” jawab saya.

Orang itu berkata: “Malam ini adalah malam upacara pembaiatan pengganti sulthânul auliya.”

Saya tanya: “Siapakah calon pengganti sulthânul auliya’ itu?

Dijawab: “Katanya, dari Indonesia.”

Saya tanya lagi: “Dari Indonesia mana?”

“Katanya dari NTB, al-Anfananiy al-Shaulatiy. Nama lengkapnya al-Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Majid al-Anfananiy al-Shaulatiy.”

Saya tidak tahu seperti apa kegembiraan saya.

Dengan tidak sadar mulut saya spontan menjawab: “Itu Guru saya, Sayyidi dan Maulana saya.”

Mendengar pernyataan saya, saya kemudian dipeluk oleh orang tersebut, sembari berkata: “Berbahagialah engkau wahai hamba Allah, menjadi murid orang yang paling mulia di sisi Allah.”

Tidak lama kemudian tiba-tiba kami mendengar komando untuk harus menghadap timur, maka semua yang hadir menghadap timur sambil menengadahkan tangan ke langit. Tiba-tiba datanglah helikopter di tengah keramaian di lapangan luas itu dan langsung merendah (merunduk) di tempat itu. Maulana al-Syaikh turun dari helikopter itu kayak (seperti) orang terjun perlahan seperti terjun payung. Beliau langsung mendarat di telapak tangan para auliya’ yang hadir pada saat itu. Telapak tangan itu menjadi jembatan menuju panggung yang telah disiapkan.

Tiba di atas panggung itu saya saksikan telah berdiri seseorang yang ternyata adalah Maulana al-Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath. Beliau sendiri berdiri menyambut kerauhan (kedatangan) Bapak Maulana al-Syaikh. Beliau berdiri di atas panggung lalu berpidato yang kalau di-bahasa-Indonesia-kan kurang lebih berbunyi:

“Kamu semua sudah maklum kalau saya ini sudah pindah dari alam dunia ke alam lain. Sampai saat ini belum ada pengganti saya sebagai shultânul auliya’. Inilah pengganti saya, murid saya, saudara saya, kekasih saya, al-Muhibb al-Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Majid al-Anfananiy al-Shaulatiy.” Khutbah Syaikh Hasan Masysyath disambut serempak dengan ucapan takbir seluruh hadirin.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Takbir itu menggema memenuhi langit Ma’la.

Saya pun terbangun (dalam mubasysyirat singkat itu) dan langsung mengambil atum (ballpoint) dan buku untuk menulis kejadian yang luar biasa itu.

والله اعلم

Catatan Pelantikan

Dua hari setelah pulang ke Indonesia, yakni saat berada di rumah muncul suatu kejadian. Pada malam Sabtu, jam tiga malam saya bermimpi, Maulana al-Syaikh rauh (datang, hadir) di pondok saya di Teratak.

Beliau ngandika: “jemaq dateng ante aning Abrar, sampiq méq nejak kakaméq Inaq Syahdan. Méq lemaq-lemaq datang ito sendéq man kusugul langan khalwat.”

[besok kamu datang ke rumah al-Abrar, ajak juga kakakmu Inaq Syahdan. Datanglah pagi-pagi sebelum aku keluar dari kamar khalwat-ku].

Kami pun bersiap-siap bersama kakanda Inaq Syahdan. Pagi-pagi itu kami keluar rumah dan sampai di jalan ternyata kendaraan sudah menunggu lalu kami naik (menumpang) sampai Pancor Dao. Di Pancor Dao kendaraan juga sudah menunggu, yakni kendaraan yang menuju Lombok Timur. Wallahu a’lam kami tidak mengetahui bagaimana persisnya perjalanan kami, tiba-tiba kami sudah sampai di Pancor pada pagi buta.

Kami pun langsung marek (menghadap) ke Ummi Hajjah Adniyah.

“Sai sino?,” tanya Ummi. [siapa itu].

“Tiang Haji Fathurrahman, bareng Inaq Sahdan.”

Kami pun dibukakan pintu dan langsung masuk. Ummi berkata: “Auq ngonéq oah aku nyuruq Maulana al-Syaikh ngelék ante, melétku nggitaq ante, laguq nengke méq terus tame aning kamar khalwat, Maulana al-Syaikh wah nganti ante.”

[Benar, tadi saya yang meminta Maulana memanggilmu, saya ingin sekali berjumpa denganmu, tetapi tidak apa-apa kamu langsung masuk ke dalam kamar khalwat, Maulana al-Syaikh sudah menunggumu].

Kami kemudian masuk ke kamar khalwat beliau. Saat sampai di depan pintu, tabir sudah dibuka, kami langsung bersalaman dengan beliau.

“Aoq datang ante?”

[Oh ya, kamu datang?].

“Inggih,” jawab tiang singkat.

“Sai nyuruq ante beketéq?,” tanya Maulana.

[Siapa yang menyuruhmu kemari?].

“Plungguhde Maulana al-Syaikh.” [Anda]

“Piran kunyuruq ante? tanya beliau.

[Kapan saya suruh kamu datang?].

“Ngonéq jam telu plungguhde manikang tiang bareng Inaq Syahdan.” [tadi jam tiga malam, plungguh memerintahkan saya bersama Inaq Syahdan].

“Ape oleh-oleh jauang me ite?,” tanya Maulana.

[Apa oleh-oleh yang kau bawa dari Makkah?].

“Ndek narak Maulana al-Syaikh.”

[tidak ada, Maulana al-Syaikh].

Saya terus didesak.

Akhirnya beliau berkata: “Mno catetan ino.”

[Itu catatan itu].

Maulana al-Syaikh sendiri kemudian bercerita tentang pengangkatannya sebagai Shulthanul Auliya’ yang terjadi di Ma’la Makkah itu.

“Wah badaq-ne aku, angkun-méq siq hadir ito isiq Nabi Khidir as. Laguq ndaq pisan méq becerite léq sai-sai. Parane ante kajuman laun. Ndaq becerite lamun ndéq ku man maté”

[saya sudah diberi tahu tentang kehadiranmu di sana oleh Nabi Khidir as., tetapi jangan sekali-kali kamu bercerita kepada siapapun, khawatir mereka menganggapmu sombong atau ingin dipuji, dan jangan bercerita sebelum aku mati].

Saya pun mohon izin dan minta doa kepada Bapak Maulana al-Syaikh. Pamit.

Membangun Madrasah

Setelah beberapa lama tiang parek lagi ke Maulana al-Syaikh, tiang bercerita bahwa tiang masih mencari tanah untuk madrasah yang di Teratak.

“Aoq ke mudah-mudahan méq mau’. Jemaq mun méq oah mauq klék aku. Nengke ito léq umi méq taoq, ndéq méq kanggo uléq mun déq naraq izinne. Kecuali Inaq Syahdan aku barengne lalo ngaji ito léq Lombok Barat,” pesan beliau. [Ya sudah, moga kamu mendapatkan tanah itu. Nanti kalau kamu sudah mendapatkannya, beri tahu saya. Sekarang kamu temui Ummi-mu dan jangan pulang kalau tidak dizinkan olehnya. Kecuali Inaq Sahdan, ia harus menemani saya berangkat mengajar ke Lombok Barat].

Berangkatlah Inaq Syahdan dan rombongan bersama Maulana al-Syaikh, sementara saya tinggal bersama Ummi Hajjah Adniyah. “Haji Fathurrahman, maksudku meminta Maulana al-Syaikh memanggil kamu, aku ingin mengetahui kenapa kamu naik haji. Saya mengetahui kamu tidak punya apa-apa. Coba ceritakan saya.

Saya pun bercerita singkat: “Saya diperintahkan Maulana naik haji dengan diberi modal Rp. 500. Kata beliau, “me usahayang ie agene jari setambangan.” Maka tiang usahakan beli gabah selama tiga tahun, terus saya berangkat haji,” dan seterusnya.

Setelah cerita itu selesai Ummi mengizinkan saya pulang.

Sejak itu saya berusaha mencari tanah tempat mendirikan madrasah. Akhirnya tahun 1983 mendapat sebidang tanah luasnya 40 are, saya langsung nunas parek kepada Bapak Maulana al-Syaikh sambil meminta kehadiran beliau. Beliau memberi kesaksian sebagai tanda beliau menerima tanah itu.

Kami bersama masyarakat bergotong royong meratakan tanah tersebut ± selama dua minggu. Tanah tersebut digadaikan seharga Rp. 1.500.000, sementara kami hanya memiliki Rp. 800.000 maka kami berusaha mencari tambahan. Ketika diserahkan, sang pemilik tanah tidak mau menerimanya dengan alasan karena belum cukup. Kami pun berangkat ke Maulana al-Syaikh, matur pewikan (menyampaikan laporan) serta mohon doa.

“Méq ketéq ngéndéng képéng? Salaq aning-méq. Ito léq madrasah taoq képéng luéq.”

[Kamu mau minta uang? Kamu salah tempat meminta. Di madrasah ada uang banyak]. Demikian komentar beliau.

Sambil saya ngaturang uang Rp.800.000, saya meminta kepada beliau agar uang itu didoa. Setelah didoa, kendaraan Bapak Maulana al-Syaikh tiba. Beliau berkata: “Kee, mudah-mudahan méq becat cukup.” [ya, semoga segera cukup].

Akhirnya saya tuntun beliau keluar gedeng menuju kendaraan. Ketika tiba di pintu mobil beliau ngandika:

“Fathurrahman, mne masih araq képéng-te.”

[Fathurrahman, ini masih ada uang saya].

Beliau mengeluarkan uang Rp.100.000 dan saya terima, langsung saya bawa ke kendaraan, sampai di pintu kendaraan beliau berkata:

“Fathurrahman kan mne araq képéng-te endah.”

[Fathurrahman, ini masih ada lagi uang saya].

Beliau mengeluarkan uang Rp.10.000. Lalu beliau dibukakan pintu kendaraan dan melinggih (duduk). Beliau ngandika lagi:

“Fathurrahman mne araq képéng te Rp.1000”

[Fathurrahman, ini ada uang lagi, seribu].

Total uang yang diberikan berjumlah Rp.111.000.

Setelah sampai di rumah, saya lelah berpikir, mengapa berjumlah 111.000. Semalaman saya tidak bisa tidur. Akhirnya pagi buta saya menghadap Maulana lagi. Sesampai di sana beliau bebase (berkata):

“Yoq, paling méq ngéndéng képéng?”

[Yok, kamu pasti mencari uang lagi].

Jawab saya: “Nénten, tiang bingung léq jumlah képéng saq uik nike, 111 nike.”

[Saya bingung dengan jumlah uang yang kemarin itu, 111 itu].

Lantas Maulana berkata: “Oo lupakméq shalawat bebadongku, méq amalang ie 111 kali sehari semalam. Aluh uléq ito.”

[oh kamu lupa kepada shalawat andalanku itu, baca dia 111 kali sehari semalam. Sudahlah, pulang saja].

Tiang mohon doa dan pamit. Sesampai di rumah, saya wiridkan shalawat Rahmatan Lil’alâmîn sebanyak 111 kali sehari semalam. (lihat Shalawat ini di bagian akhir) Jarak seminggu uang itu telah berjumlah 1.500.000. Saya pun menyerahkan uang tersebut kepada tempat tanah itu tergadai. Sisanya 750.000 saya serahkan kepada ayahanda saya H. Moh. Zakaria.

Tiba-tiba tanpa disangka-sangka sisa tanah itu 20 are dijual oleh salah seorang putra Bapak Haji Moh. Zakaria, dengan alasan H. Fathurrahman tidak bisa melunasi semuanya. Lebih baik saya yang jual untuk ONH saya, jelas orang tersebut. Setelah resmi mengetahui bahwa sisa tanah itu dijual, berangkatlah saya menghadap Maulana al-Syaikh.

“Mbah, kan ne ngeno, sai siq bejual sino?”

[Mbah, mengapa demikian, siapa yang menjual itu?].

Tiang jawab: “Saudara misan tiang.”

Tanya beliau: “Kangenméq semeton méq?”

[Apa kamu sayang saudaramu?].

“Nggih.”

“Mun méq kangen iye, lawan ie!,” tegas Maulana.

[kalau kamu sayang, lawan dia].

“Kan uah terimaq-te ie. Bee, mun ndéq méq kangen ie, alurne ngumbe-ngumbe.”

[Kan, sudah saya terima itu tanah. Bee, kalau kamu tidak sayang biarkan saja apa maunya].

Setelah sampai di rumah, saya dipanggil oleh misan saya itu. Saya diajak mengantar sisa uang itu ke TGH. A****din A****. Waktu itu Haji A****din membawa jamaah haji umrah. Setelah uang itu diserahkan, Haji A****din berkata: “Terlambat, tahun depan bisa berangkat.” Kami pun pamit. Sampai di rumah takdir sudah menentukan. Misan saya itu jatuh sakit yang luar biasa, lumpuh dan bagian tubuhnya membusuk serta mengeluarkan aroma bangkai yang luar biasa. Semua jenis parfum tidak mempan mengusir bau busuk itu, sampai akhirnya ia menemui ajalnya. Inna lillah.

Orang yang membeli tanah itu pun mendirikan rumah di atas tanah tersebut. Orang itu pun membantu di madrasah. Selang beberapa tahun ajalnya pun datang. Inna lillah. Orang kedua lelaki dan perempuan seorang guru SD yang juga tinggal di rumah itu tak lama kemudian dipanggil Allah. Inna lillah. Yang ketiga datang membeli lagi sebagian, berdekatan dengan yang telah meninggal tersebut, malah suami dan istrinya meninggal dunia. Inna lillah. Tinggallah anaknya yang kini morat-marit kehidupannya. Nauzubillah.

Inilah sekelumit sejarah tanah madrasah yang tidak bisa atau gagal dibeli meskipun sesungguhnya telah diserahkan dan diterima Maulana.

Pada tahun 1985, Maulana al-Syaikh berkenan meresmikan madrasah Fatahillah NW Teratak Batukliang. Namun tanah wakaf dapat diserahkan pada tahun 1990. Tahun 1998 madrasah Fatahillah mendapat status diakui dan kini sudah berjalan 30 tahun.

Ahli Hikmah dan Pewaris Hikmah

Akhirnya pada tanggal 15 Shafar 1436 H bertepatan dengan 16 Desember 2014, pada malam Senin saya bermimpi (mubassyirat) berjumpa dengan al-Mukarram Bapak Maulana al-Syaikh. Beliau mengajak saya langsung ke suatu tempat di lembah Gunung Rinjani. Tempatnya sangat angker dan menyeramkan. Bapak Maulana melinggih (duduk) menghadap kiblat. Di sebelah kanan beliau ada sebuah gua yang gelap gulita. Tidak lama saya ngiring di sana. Tiba-tiba dari arah gua itu seolah-olah ada lampu sorot keluar. Ternyata setelah keluar gua itu yang rauh (datang) adalah Ummuna PBNW al-Mukarramah al-Mujahidah Hajjah Siti Raihanun Zainuddin Abdul Majid. Beliau datang membawa sebuah mahkota kerajaan yang terbuat dari emas melulu (emas murni). Ternyata itulah sumber cahaya yang terang benderang itu. Setelah dekat dengan Bapak Maulana al-Syaikh, sambil mengucap salam. Ummi meminta izin untuk memasangkan Bapak Maulana al-Syaikh mahkota tersebut. Setelah dipasangkan mahkota tersebut beliau pamitan dan masuk lagi ke dalam gua tersebut.

Maulana ngandika:

“Fathurrahman, tao’q-méq knene umiméq sino siq masangang aku mahkota emas siné?”

[Fathurrahman, apa kamu mengetahui maksud Ummi kamu memasangkan mahkota emas ini?]

“Ampurayan Maulana al-Syaikh, ndéq tiang taoq .”

[Maaf, Maulana al-Syaikh, saya tidak tahu].

Lanjut Maulana: “Ngné kenangku, agen-méq taoq, selapuq ilmu hikmahku oah tumpahangku aning ie.

[Begini maksudku agar kamu mengetahui bahwa semua ilmu hikmah yang ada padaku telah aku tumpahkan kepadanya].

Angkaq méq patiq ie. Méq patiq apa jaq suruqne siq umi-méq ine, selama ne nejak ante aneng kebagusan dunie akherat. Ndaq pisan méq bilin ie. Dait méq suruq jemaahméq taat léq Ummi Raehanun agen méq tetu : سمعنا واطعنا (saya dengar, saya taat).

[Taati. Apa saja yang diperintah agar mengikuti selama untuk kebaikan dunia akhirat. Jangan kau tinggalkan dia. Suruh juga jamaahmu taat pada Ummi Raehanun agar benar-benar terisi sami’na wa atho’na].

“Dait Fathurrahman, dakaq-ne ngeno ngne ruen murid méq, dakaqne sekejiq jamaah méq, kangenku ie. Mudah-mudahan ne selamet dunia akhirat bareng NW.” [Demikian juga Fathurrahman, sekalipun begitu, begini rupa muridmu, sekalipun sedikit aku cinta kepada mereka. Semoga semua selamat dunia akhirat bersama NW].

“Kee, wah ito,” saya disuruh pulang.

[Ya, sudah sana].

Lantas saya terbangun.

Kini kondisi saya sudah kurang sehat. Hanya majlis taklim Desa Aik Bukak empat tempat, Mas Mas tiga tempat, Desa Teratak dua tempat yang rutin bisa saya asuh. Mohon maaf beribu maaf atas sekelumit pengalaman saya di NW, tentu banyak kekurangan.

والله الموفق والهادى الى سبيل الرشاد, والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Atas nama khadam Madrasah Fatahillah NW Teratak Batu Kliang Utara Lombok Tengah. الحاج فتح الرحمن

Sumber: Buku “Keagungan Pribadi Sang Pencinta Maulana” (Buku Kedua Trilogi Cinta Maulana)

NW Online

Situs Nahdlatul Wathan Online | NW Online, Media Resmi Nahdlatul Wathan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker