NBDINW ONLINENWDI

Penampilan Maulana Syaikh dalam ingatan Santrinya

Foto yang tanpa surban dan rambut panjang putih terurai.
(3 tahun setelah beliau duduk di kursi roda yang tidak kuat dan mampu berdiri lagi sejak itulah beliau tidak pernah memotong rambut beliau sampai ajal beliau tiba. )
Beliau bernasihat kepada murid-muridnya dan mendengar langsung sebab beliau membiarkan rambut beliau panjang, beliau bertutur:
“Saya sudah tua, saya ingin mengabdikan diri sepenuh jiwa ragaku untuk agama dan ummat, khususnya warga nahdliyyiin nahdliyyat, saya ingin semua jasad saya ini menjadi saksi di hadapan Allah bahwa saya tak pernah berhenti mengaji dan mengajar ummat meski saya duduk di kursi roda seperti ini. Termasuk rambutku ini saya biarkan panjang agar menjadi saksi di hadapan Allah bahwa di saat saya tua seperti ini masih sanggup melaksanakan tugas pengabdianku untuk agama nusa dan bangsa.”
Ingat wahai anak-ankku: apapun yang kamu lakukan di masa tuamu dan kamu tidak mampu melakukannya karena uzur tuamu maka ketahuilah fahalanya sama dengan pahala yang sempurna kamu terima di saat mudamu dan sehatmu. Maka duhai anak2ku murid2ku pergunakan masa muda dan sehatmu untuk meraih ilmu dan amal shaleh yang sebanyak2nya. Biar dimasa tuamu nanti uzurmu adalah pahalamu.

TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
Nahdlatul Wathan Online

Foto ini (tanpa surban dan kopiah putih) adalah bukti beliau masih sehat dan segar ingatan beliau. Saya alfaqier pernah masuk ke kamar khalwat beliau menemukan beliau berbaring dengan suara tegas dan lantang beliau memberikan restu untuk waktu pengijazahan doa ujian untuk santri. Beliau berfatwa biarkan saya pakai baju seperti ini untuk memberikan kesaksian bahwa hidup itu adalah nikmah dan barokah. Tua adalah anugerah dan barokah agar semua menjadi pembelajaran untuk kita umat muslmin.

Pembelajaran yang terbaik dari cara penampilan guru besar kita ini Maulanassyaikh adalah: tidak ada hal yang abadi dari kehidupan kita yang abadi adalah amal sholeh yang bermanfaat untuk ummat.
Semoga kita bisa mengenang jasa perjuangan beliau yang tidak pernah berharap pujian dari sesama manusia.. Sembari beliau mengutif ayat: laa asalukum alaihi ajran…saya tidak mengharap pujian dan upah dari manusia in ajriya illa ala allah. Hanya saya mengharap balasan dari allah.

Dan wasiat terakhir beliau mengutif ayat(Laa asalukum alaihi min ajrin illa almawadata fil qurba)
“aku endekku perlu tepuji tetupa isik manusie endek mek perlu upak aku…sak penting ante pade adekmek tao lek keluargengku adekmek cinte kangen timpak keluargengku”
( saya tdk mengharap upah dari anda semua. Yang saya minta adalah anda cinta kangen dan pupuk kasih sayang kepada keluarga besarku.
Semoga barokah.

Catatan Dr.TGH.Fahrurrozi Dahlan QH.MA.

NW Online

Situs Nahdlatul Wathan Online | NW Online, Media Resmi Nahdlatul Wathan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker