Pusat Nahdlatul Wathan

“Pusat” dalam artikel ini mengandung dua pengertian, yakni pusat dalam pengertian kedudukan PBNW dan pusat dalam pengertian tempat utama kegiatan Organisasi Nahdlatul Wathan.

Adapun pusat Nahdlatul Wathan dalam arti kedudukan PBNW sejak didirikan tahun 1953 M sampai Muktamar ke-10 tanggal 26 Juli 1998 M berkedudukan di Pancor. Namun setelah Muktamar Nahdlatul Wathan yang ke-10, pusat Nahdlatul Wathan dalam arti tempat kedudukan PBNW adalah di Mataram (Ibu Kota Provinsi NTB) dan Jakarta (Ibu Kota Negara). Hal ini sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Wathan hasil Muktamar ke-10 di Praya, Lombok Tengah. Sedangkan pusat Nahdlatul Wathan dalam arti tempat utama kegiatan Organisasi Nahdlatul Wathan mula-mula di Pancor kemudian sejak tanggal 26 Oktober 1998 M sampai dengan tanggal 25 Maret 2001 M berpindah ke Kalijaga, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur, NTB dan sejak hari Senin 1 Muharram 1422 H (26 Maret 2001 M) berpindah ke Anjani, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur, NTB.

Perpindahan ini terjadi karena pada Muktamar ke-10 Ummi Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid terpilih menjadi Ketua Umum PBNW. Sebagian orang Pancor tidak setuju dengan keputusan Muktamar tersebut. Mereka beralasan bahwa wanita tidak boleh menjadi pemimpin organisasi. Padahal dalam Mazhab Syafi’I tidak ada larangan bagi wanita untuk menjadi pemimpin organisasi. Maulana Syaikh sendiri selaku pendiri Nahdlatul Wathan merestui wanita menjadi pemimpin. Beliaulah yang mengangkat Hj. Sitti Rauhun menjadi Kepala Madrasah Tsanawiyah Mu’allimat NW Pancor. Beliau juga mengangkat Ummi Hj. Baiq Zuhriyah Mukhtar menjadi kepala Madrasah Aliyah Mu’allimat NW Pancor dan menjadi Ketua Pondok Pesantren Az-Zuhriyah Nahdlatul Wathan Tanjung, Lombok Timur. Beliau juga merestui Baiq Sa’diyah menjadi Kepala Desa Terarak Lombok Tengah dan lain-lain.

Ketidaksetujuan sebagian orang Pancor ini diwujudkan dengan meneror para masyayikh, para dosen, para pengasuh, para siswa, santri, mahasiswa dan thullab Pondok Pesantren Darunnahdlatain NW Pancor yang mendukung hasil Muktamar ke-10 sehingga mereka enggan masuk melaksanakan tugas belajar mengajar. Ketidaksetujuan mereka ini juga diwujudkan dengan membuat kerusuhan diPancor pada tanggal 6, 7, dan 24 September 1998. Dalam kerusuhan ini, toko TGH. Mahmud Yasin dirusak dan isinya dijarah atau dibakar, rumah TGH. Lalu Anas Hasyri dirusak, Drs. Abdurrahman Fajri dan Qoharuddin dianiaya dan dipukul dengan senjata tajam dan lain-lain. Bukan saja kerusuhan yang mereka perbuat bahkan mereka juga  merencanakan pembunuhan terhadap pendukung Muktamar Praya. Padahal para pendukung Muktamar Praya dari kalangan Masyayikh, dosen dan pengasuh di Pondok Pesantren Darunnahdlatain NW Pancor itu adalah kader-kader NW yang loyal dan taat kepada wasiat Maulana Syaikh. Dengan demikian, otomatis kondisi pendidikan di Pancor menjadi kocar-kacir dan kacau balau. Oleh dari itu, untuk menyelamatkan proses pendidikan tersebut maka sejak tanggal 26 Oktober 1998 M, Ummi Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid selaku Ketua Umum PBNW, putrid pendiri Nahdlatul Wathan sekaligus penerima kuasa, beliau memerintahkan seluruh orang-orang yang taat dan loyal kepada wasiat Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid untuk berhijrah ke Kalijaga. Di Kalijaga-lah tempatnya direncanakan pendirian Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin Nahdlatul Wathan. Setelah 2 tahun 14 hari di Kalijaga maka Ummi Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid memerintahkan untuk berhijrah lagi ke Anjani Kecamatan Suralaga Lombok Timur NTB, tempat Pembangunan Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin Nahdlatul Wathan. Sejak tanggal 1 Muharram 1422 H/26 Maret 2001 M, pusat kegiatan Organisasi Nahdlatul Wathan adalah Anjani Kecamatan Suralaga Lombok Timur dan pusat perguruan Nahdlatul Wathan adalah Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani Lombok Timur. Di Pondok Pesantren inilah tempat berkumpulnya para Tuan Guru dan tokoh Nahdlatul Wathan yang taat pada wasiat Maulana Syaikh yang sekaligus merupakan kepercayaan beliau pada saat masih hayat. Sehubungan dengan itu, telah disepakati oleh warga Nahdlatul Wathan bahwa Kalijaga adalah Quba’ Nahdlatul Wathan dan Anjani adalah Madinah Nahdlatul Wathan.

Dengan demikian, sejak adanya hijrah dalam organisasi Nahdlatul Wathan maka Pancor bukan lagi menjadi pusat Nahdlatul Wathan karena sudah dipindahkan ke Anjani. Pondok Pesantren Darunnahdlatain NW Pancor, sejak ditinggalkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Wathan menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang tidak taat pada wasiat pendiri Nahdlatul Wathan. Salah satu wasiat yang mereka ingkari adalah Bahwa PB adalah satu. Bukannya dua bukannya telu. Atas pimpinan PB yang satu. Dewan Mustasyar pemberi restu.. Mereka membuat PBNW tandingan lewat Muktamar Reformasi yang diadakan pada tanggal 11-12 September 1999 M. Mereka yang tinggal atau jadi pengurus NW Reformasi di Pancor di antaranya adalah orang-orang yang pernah diberhentikan oleh Maulana Syaikh, orang-orang yang pernah menentang kebijakan Maulana Syaikh, orang-orang yang pernah meremehkan Maulana Syaikh, bahkan ada yang pernah mengatakan Maulana Syaikh tidak adil, na’uzubillahi min zalik, dan sebagiannya lagi adalah orang-orang yang tidak pernah ngaji dan tidak pernah terlihat saat Maulana Syaikh masih hayat. Sedangkan di Anjani, kini Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin Nahdlatul Wathan tumbuh dengan pesat. Pondok pesantren ini sedang dan akan dibangun di atas tanah seluas 23 hektar. Pada tahun 2018, Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani mengelola beberapa jenis lembaga pendidikan, seperti TK, Madrasah Ibtidaiyah, SMP, Madrasah Tsanawiyah Mu’allimin, Madrasah Tsanawiyah Mu’allimat, Madrasah Aliyah Mu’allimin, Madrasah Aliyah Mu’allimat, SMA, SMK, Madrasah Aliyah Syaikh Zainuddin / Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK), Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) HAMZANWADI II, Diniyah Ula, Diniyah Wustha, Diniyah ‘Ulya, Ma’had Darul Qur’an wal Hadits Nahdlatul Wathan, Ma’had ‘Aly, Institut Agama Islam HAMZANWADI, dan beberapa fakultas umum. Selain itu, pondok pesantren Syaikh ZAinuddin NW telah ada koprasi, warung Pos Pesantren, Panti asuhan, Wartel, Klinik Kesehatan, RadiomDewi Anjani, dan lain-lain. Pada waktunya nanti, INSYA’ALLAH, semua jenis dan jenjang pendidikan akan diadakan dari tingkat taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi. Begitu juga sarana penunjang pesantren modern lainnya seperti asrama. Perpustakaan, pertokoan, rumah sakit dan lain-lain.