NBDI & RA KARTINI: Suatu Pertautan ESENSI

NBDI & RA KARTINI: SUATU PERTAUTAN ESENSI

NW ONLINEPress release, Menemukenali lembaran-lembaran tapak sejarah pengalaman yang pernah
Almaghfurulah Maulana Syaikh alami sejak mendirikan organisasi NW yang pengalaman-pengalaman tersebut beliau tuangkan dalam bentuk wasiat dan di dalam wasiat tersebut terdapat nilai-nilai yang berfungsi sebagai peta jalan kebaikan bagi kita dalam menjalankan penghidmatan yang tidak hanya untuk agama namun juga untuk bangsa dan negara.

Disebut sebagai peta jalan dikarenakan dalam wasiat renungan masa termuat pesan perjuangan baik spirit perjuangan, rahasia perjuangan, nilai-nilai luhur perjuangan, hikmah dan dinamika perjuangan, termasuk antisipasi langkah perjuangan.

Salah satu dinamika perjuangan yang sangat penting untuk diketengahkan yakni tentang diskursus pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi para wanita dimasa colonial. Di masa itu kaum hawa mengalami siluet buram tanpa wajah kesetaraan pendidikan.

Menangkap realitas yang demikian, Almaghfurulah Maulana Syaikh sebagai seorang alim yang rabbani. Bergegas membuka sumbatan akses pendidikan bagi para kaum hawa, dan berkat kegigihannya, beliau berhasil mendirikan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyyah Islamiyyah (NBDI) sebuah madrasah khusus Wanita pada tanggal 15 Rabiul Akhir 1362 H bertepatan dengan tanggal 21 April 1943 di Pancor Lombok Timur NTB.

Keberhasilan beliau mendirikan madrasah Nahdlatul Banat Diniyyah Islamiyyah (NBDI) sebagai suatu ikhtiar restorasi yang agung nan mulia dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi kaum wanita di NTB yang dijadikan sebagai lokomotif bagi kaum wanita didalam menjalankan penghidmatannya pada agama dan bangsa.

Dengan kata lain, NBDI sebagai ruang untuk meneguhkan nilai kesederajatan; mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan dan akses yang sama dalam berkhidmat kepada bangsa dan negara yang tentunya dengan tetap menjunjung tinggi norma-norma agama.

Pesan dan ekspektasi Almaghfurulah Maulana Syeikh yang demikian, kita dapat temukan dalam “Wasiat Renungan Masa” pada bagian Syair nomor 91:

Kaum Wanita Tetap Wanita
Sekalipun SH dan Doktoranda
Wajib Berjuang Dengan Pelita
Membela Agama Nusa Dan Bangsa

Kontribusi Almaghfurulah Maulana Syaikh yang telah mendirikan NBDI telah meletakkan tonggak dasar atas kebangkitan peran aktualisasi dan emansipasi wanita di Indonesia pada umumnya dan di NTB pada khususnya adalah satu fakta sejarah yang monumental sebagai bentuk penghormatan pada kaum wanita sekaligus sebagai stimulus penting dalam pengembangan diri melalui wadah pendidikan baik pengembangan kecerdasan intlektual dan kemuliaan adab.

Selain nukilan lembaran-lembaran dedikasi Almaghfurulah Maulana Syeikh yang turut serta sebagai peletak tonggak dasar atas kebangkitan peran aktualisasi dan emansipasi wanita. Fakta sejarah lainnya yang menarik pula untuk dipertautkan dengan kelahiran Madrasah NBDI pada tanggal 21 April tersebut, entah mungkin secara kebetulan dapat bersamaan dengan penetapan pemerintah Indonesia yang menetapkan tanggal dan bulan tersebut untuk diperingati sebagai Hari Kartini. Penetapan pemerintah pasca kemerdekaan RI, tentu mengacu pada kelahiran RA Kartini yang lahir pada tgl 21 April 1879 di Kota Jepara Jawa Tengah.