Nahdlatul Wathan

Malam Wafatnya Sulthanul Auliya’

NW Online | Senin, 21 Oktober 2019 10:30

“Insya Allah nanti apabila Tuan Guru Bajang Zainuddin 2 sudah besar semua yang malas mengajar Akan diberhentikan setelah 15 tahun yang akan datang atau 25 tahun tetapi mudah-mudahan 1 tahun yang akan datang.” (Fatwa Maulana Syaikh, Jumat 07-5-1409 H./16 Desember 1988 M.) Umur Zainuddin II saat itu sekitar 7 tahun

Pada malam wafatnya Maulana Syaikh (Isya, malam Rabu), di hadapan pembaringan Maulana Syaikh, Drs. H. Lalu Gede Wiresantane, H. Ma’sum, dan Drs. H. Alidah Nur duduk, sedangkan Tuan Guru Bajang yang kala itu telah beranjak remaja, duduk di samping pembaringan Maulana Syaikh hingga larut malam. Tepatnya di kaki Maulana.

Tiba-tiba Hajah Rahmatullah (ninik Tuan Guru Bajang) memanggil Tuan Guru Bajang “Gede wah jauk malem ne, bekelor juluk jauk malem ne” (Gede sudah larut malam ini makan dulu sudah larut malam ini). Lantas Tuan Guru Bajang menjawab “nggeh masih ne tiang ngantih juluq, masih ndekne man” (Iya, masih ini saya menunggu dulu, masih belum), tanpa sedikit beranjak dari pembaringan Maulana Syaikh.

Zainuddin Atsani menuturkan Bahwa saat itu beliau masih berbicara dan diberikan sesuatu. Beliau menyebutkan pembicaraan satu dan lain hal. Beliau masih berbicara layaknya Maulana saat masih hidup. Karena demikian halnya Zainuddin Atsani tidak sedih atau menangis. Beliau amat tenang saat itu. Beliau justru sadar dan tak mampu menahan tangis ketika TGH. Mahmud Yasin dan TGH. Lalu Anas Hasyri telah menutup wajah Maulana dengan kapas dan kain kafan lepas dimandikan. Sebelumnya ia sama sekali tidak diterpa kesedihan.

Menurut penuturan saksi mata yang hadir pada saat itu, Tuan Guru Bajang di samping pembaringan Maulana Syaikh duduk dengan menekukkan kaki ke belakang (seperti posisi tahiyat awal) sembari mendekatkan mukanya berhadap-hadapan dengan muka Maulana Syaikh. Beberapa kali kaki Maulana Syaikh terlihat masih bergerak-gerak.

Kehendak itu, iradah

Iradah “menjadi” biasanya melalui proses menjadi murid

Iradah “menjadi” juga bisa spontan(laduni) yakni murad

Iradah Allah itu cinta; mencintai atau dicintai. []

Sumber: Buku Barakah Cinta Maulana (Catatan Murid Maulana, dari Majlis Al-Aufiya’ wal-Uqala’)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker