NW ONLINE – Lombok Timur, Tahun 1977, Maulanasyaikh mendirikan Universitas Hamzanwadi dan menjabat rektor pertamanya. Empat puluh sembilan tahun kemudian, cita-cita itu akhirnya terwujud. Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Nahdlatul Wathan (NW) Lombok Timur resmi menjadi Universitas Islam Hamzanwadi Nahdlatul Wathan (UIH NW).

Keputusan Menteri Agama (KMA) alih status diserahkan pada Rabu (21/10/2026), di hadapan ribuan santri, alumni, ulama, dan jemaah. Acara Haul ke-29 pendiri NW sekaligus Pahlawan Nasional, Almagfurullah Maulanasyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, itu digelar di Lapangan Ummuna Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid, Desa Anjani, Kecamatan Suralaga, Kabupaten Lombok Timur.

Dari Universitas ke Sekolah Tinggi, lalu Institut

Rektor UIH NW, Dr. TGKH. Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani, Lc., M.Pd.I., yang akrab disapa Maulana Hamzanwadi II, menguraikan sejarah panjang itu dalam amanatnya. Karena belum memenuhi kelengkapan sebagai universitas, Maulanasyaikh mendirikan berturut-turut Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (1978), Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (1987), dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (1990). Pada 1996, seluruh sekolah tinggi digabung menjadi IAIH atas permintaan almarhum Drs. H. Lalu Gede Sentana.

“Penantian panjang dari universitas menjadi sekolah tinggi, menjadi institut, kembali menjadi universitas ini 49 tahun. Cita-cita pendirinya, alhamdulillah, bisa sama-sama kita wujudkan,” kata Zainuddin Atsani, Rektor UIH NW, yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW).

Ia menjelaskan alasan mempertahankan nama Hamzanwadi. Menurutnya, banyak yang bertanya mengapa tidak memakai nama lain, seperti Universitas Syekh Zainuddin.

“Maulanasyaikh sangat cinta kepada nama perjuangan beliau. Hamzanwadi adalah panggilan perjuangan beliau untuk berjuang bagi agama, nusa, dan bangsa melalui Nahdlatul Wathan,” tuturnya.

Nama Nahdlatul Wathan merujuk pada organisasi yang didirikan Maulanasyaikh pada 1 Maret 1953. Adapun singkatan UIH NW dipilih karena sederhana dan mudah diingat generasi muda.

Penyerahan KMA dan Komitmen Kemenag

KMA diserahkan secara simbolis oleh Staf Khusus Menteri Agama RI, Gugun Gumilar, M.A., Ph.D., mewakili Menteri Agama yang berhalangan hadir karena mengikuti sidang kabinet di Istana Presiden. Hadir pula Ummuna Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid, anggota DPR RI Lale Syifaun Nufus, Ketua PW NW NTB TGH. Lalu Gede Muhammad Khairul Fatihin, anggota DPRD NTB Lale Yaqutunnafis, serta unsur Forkopimda dan Kemenag NTB.

Dalam sambutannya, Gugun menyebut alih status ini sebagai penuntasan janji yang ia sampaikan saat berkunjung beberapa pekan sebelumnya.

“Komitmen Kementerian Agama, Bapak Menteri Agama, Presiden Prabowo adalah satu, yakni elevating human capital, meningkatkan sumber daya manusia. Alhamdulillah, hari ini janji kita lunas,” ujar Gugun.

Ia menegaskan, capaian ini hasil kerja para ustaz, ulama, dan dosen, bukan semata Kemenag. Menurutnya, standar untuk menjadi universitas sangat panjang dan ketat.

“Ini adalah perjuangan bukan dari Kementerian Agama, ini adalah perjuangan para ustaz, para alim ulama, para dosen,” katanya.

Dengan status universitas, kata Gugun, UIH NW dapat menerima mahasiswa dari berbagai daerah dan mancanegara, termasuk mahasiswa non-muslim. Ia juga mendorong pembukaan program studi (prodi) umum agar NTB menjadi barometer pendidikan di Indonesia Timur.

Gugun lalu memaparkan sejumlah program. Pertama, beasiswa ke Amerika Serikat bagi lima santri NW, dengan pelatihan dan kunjungan ke Washington D.C. dan New York City. Kedua, penugasan sekitar 20 alumni NW sebagai muazin di Qatar tahun depan, dengan fasilitas tinggal di masjid, digaji, dan kesempatan kuliah. Ketiga, penjajakan dosen tamu dari Amerika dan Eropa. Keempat, beasiswa S2 dan S3 bagi lulusan S1 UIH NW. Ia juga menyebut akan bersama PBNW menyusun proposal pendanaan pembangunan gedung perkuliahan dan pascasarjana ke Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

“Jangan jauh-jauh sekolah ke Jakarta, di sini saja di Universitas Nahdlatul Wathan di Lombok,” ujarnya kepada para santri.

Target Akreditasi Unggul

Menanggapi permintaan Kemenag agar membuka prodi umum, Maulana Hamzanwadi II menyatakan akan lebih dulu meningkatkan kualitas universitas, fakultas, prodi, dan dosen.

“Rekan-rekan civitas akademika Universitas Islam Hamzanwadi Nahdlatul Wathan, saya minta untuk berlari, bukan berjalan. Saya kasih waktu sampai bulan Mei harus selesai semua tahapan yang harus kita kejar untuk menaikkan level, baik fakultas maupun prodi, agar menjadi unggul,” tegas Zainuddin Atsani.

Ia menambahkan, pengelolaan kampus, termasuk penyaluran KIP, selalu dijalankan sesuai prosedur. Di akhir sambutan, ia mengajak hadirin mendoakan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Rangkaian acara ditutup dengan salat zuhur berjamaah dan makan siang bersama. (Nanta)