Gambar rumah bedek itu bukan sekadar potret kemiskinan, melainkan jejak sedih dari sebuah perjuangan yang dijalani dalam diam. Rumah kecil dari kayu dan bambu itu berdiri rapuh di atas rawa-rawa, seakan setiap tiangnya menahan beban hidup yang terlalu berat. Atap anyaman daun kelapa telah menguning dan berlubang, dindingnya terbalut kain lusuh yang bergoyang diterpa angin. Saat hujan turun, air masuk tanpa permisi, membasahi lantai, pakaian, dan tubuh yang pasrah menahan dingin.
Di sanalah TGH. Fahmi Kamar menjalani hari-hari paling sunyi dalam hidupnya. Beliau adalah sosok yang begitu tawaddu’, sederhana, dan bersahaja. Lahir di Kebun Pelangeh, Desa Sukaraja, Praya Timur, Lombok Tengah, 31 Desember 1979, hidupnya dipersembahkan sepenuhnya untuk agama dan Nahdlatul Wathan. Ketaatan, kepatuhan, dan istiqamah menjadi jalan hidupnya. Namun ketaatan itu harus dibayar mahal dengan lapar, dingin, dan air mata yang tak pernah dipamerkan.
Setelah menamatkan Ma’had Darul Qur’an wal Hadits pada tahun 2001 dan menikah pada tahun 2000, hidup beliau tidak pernah mengenal kemapanan. Dari satu pesantren ke pesantren lain beliau mengabdi tanpa menuntut apa pun, hingga akhirnya menuntut ilmu ke Mekkah selama enam tahun. Sepulang dari Tanah Suci, beliau kembali mengabdi sebagai kepala madrasah, sebelum pada tahun 2014 menerima perintah Ketua Umum PB NW (Ummuna Hj. Siti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid) untuk berdakwah dan menetap di Kelurahan Bantuas, Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur.
Perintah itu diterima dengan penuh keyakinan dan ketaatan, tanpa bertanya tentang tempat tinggal, tanpa memikirkan bagaimana esok hari akan bertahan hidup. Setibanya di Bantuas, rumah bedek dalam gambar itulah yang menjadi saksi awal perjuangan. Tidak ada listrik, malam hanya diterangi lampu kecil dari sisa minyak goreng. Tidur beralaskan terpal pemberian warga, menahan dingin dan nyamuk rawa. Kadang malam terasa begitu panjang, sunyi, dan menyakitkan.
Untuk sekadar makan, beliau memetik eceng gondok di sawah dan sungai. Siang hari tubuh lelah bergelut dengan lumpur, malam hari kembali menyusuri kegelapan. Padi sisa panen yang tumbuh kembali dipungut satu per satu, dikumpulkan, dijemur, lalu digiling. Beras itu sebagian dimakan seadanya, sebagian dijual untuk membeli kebutuhan paling dasar. Lauk tidak selalu ada, kadang hanya nasi dan air. Rasa lapar menjadi teman setia yang tak pernah pergi.
Demi bisa menjual eceng dan beras ke pasar, beliau berutang sepeda motor tua seharga tiga ratus ribu rupiah. Motor itulah yang menjadi satu-satunya harapan di tengah keterbatasan. Bahkan di waktu malam, ketika tubuh seharusnya beristirahat, beliau dan istrinya bergantian memetik eceng, menahan letih dan perih demi menyambung hidup esok hari.
Tiga tahun lamanya penderitaan itu dijalani. Tidak ada keluhan, tidak ada tangisan yang diperdengarkan. Namun rumah bedek itu, dengan atap bocor dan lantai lembap, seolah menangis setiap kali hujan turun. Di sanalah kesabaran diuji hingga ke batas paling sunyi. Di sanalah seorang dai besar ditempa bukan oleh kenyamanan, melainkan oleh kekurangan, dingin, dan pengorbanan yang nyaris tak terlihat.
Rumah itu mungkin rapuh dan memprihatinkan, tetapi ia menyimpan kisah yang sangat menyayat hati: kisah tentang keikhlasan yang dibangun dari penderitaan, tentang dakwah yang tumbuh dari luka, dan tentang seorang hamba Allah yang tetap tegak berdiri meski hidup berkali-kali menjatuhkannya.
(bersambung)
