Surah Al-Insyirah adalah surah yang turun sebagai pelipur lara bagi Rasulullah ﷺ ketika beliau dalam keadaan sempit, sedih, dan terhimpit oleh cemoohan kaum Quraisy. Di dalam 8 ayat yang pendek ini, Allah meringkas 4 modal utama suri tauladan Rasulullah Saw.

1. SYARHU SHODRI (شرح الصدر) – DADA YANG LAPANG / BEGAWAN ILMU
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَك

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” [QS. Al-Insyirah: 1]

Ini adalah modal pertama dan paling utama.

Secara bahasa, _Syarah_ artinya membuka, melapangkan, dan meluaskan. Jadi Allah membuka dada Rasulullah ﷺ seluas-luasnya.

Ada 2 lapangnya dada Rasulullah:

a. Lapang secara fisik شرح الحس (Syarhul Hissi):

Yaitu peristiwa pembelahan dada Rasulullah yang terjadi 4 kali dalam hidup beliau – saat umur 4 tahun di kampung Bani Sa’ad, umur 10 tahun, saat akan di Isra’ Mi’raj, dan sebelum turun wahyu. Dada beliau dibelah oleh Malaikat Jibril, dicuci hatinya dengan air zamzam, dan diisi dengan cahaya iman dan hikmah. Ini adalah operasi spiritual agar wadahnya siap menampung wahyu seberat Al-Qur’an.

b. Lapang secara maknawi شرح المعنوي (Syarhul Maknawi):
Inilah yang dimaksud Begawan Ilmu Pengetahuan. Dada yang lapang artinya:
– Lapang dalam menerima ilmu. Ilmu apapun masuk. Rasulullah adalah manusia paling cerdas, paling bijaksana.
– Lapang dalam menerima perbedaan. Beliau tidak sempit hati melihat orang yang berbeda pendapat.
– Lapang dalam menerima ujian. Dicaci, dihina, dilempar batu di Thaif, tapi dadanya tetap lapang, tidak dendam.
– Lapang dalam memaafkan. Ketika Fathu Makkah, beliau memaafkan semua orang yang pernah ingin membunuhnya

Seseorang tidak akan bisa sukses jika dadanya masih terasa sempit. Ketika berbeda pendapat dalam dialektika keilmuan langsung marah dan lain sebagainya. Itu tanda dadanya belum disyarah. Maka mintalah kepada Allah kelapangan dada, karena ilmu hanya akan masuk ke dada yang lapang.

2. WAD’UL WIZRI (وضع الوزر) – MERINGANKAN BEBAN / TIDAK MENJADI BEBAN ORANG

وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ

“Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu” [QS. Al Insyiroh ayat 2-3]

وزر
“Wizr”artinya beban yang sangat berat yang sampai membuat punggung bunyi _naqadha_ (retak / patah). Beban itu adalah beban dosa, beban masa lalu, beban pikiran, beban tanggung jawab kenabian yang sangat berat.

Allah mengatakan: Kami telah angkat beban itu darimu ya Muhammad.
ArtinyanAllah mengampuni dosa-dosa beliau yang lalu dan yang akan datang. Allah meringankan beban pikirannya. Sebelumnya beliau bingung bagaimana caranya menyelamatkan umat, bagaimana caranya menghadapi Abu Jahal. Lalu Allah angkat beban itu – “Kamu hanya bertugas menyampaikan, hidayah urusan Aku.”

Beberapa Karakter sifat Rasulullah yang luar biasa dan sudah selayaknya kita contohi. Beliau adalah orang yang paling ringan bagi orang lain.

– Beliau tidak pernah menjadi beban ekonomi bagi orang lain. Beliau berdagang sendiri, bekerja sendiri, bahkan menggembala kambing.
– Beliau tidak pernah menjadi beban perasaan bagi orang lain. Beliau tidak pernah curhat yang membuat orang lain susah. Beliau justru yang menanggung beban orang lain.
– Beliau tidak pernah menuntut dilayani, tapi beliau yang melayani.

Rasulullah bersabda:
خير الناس انفعهم للناس

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain”
dan sebaliknya seburuk-buruk manusia adalah yang menjadi beban bagi manusia lain.

3. ROF’UZZIKRI (رفع الذكر) – DIANGKAT NAMANYA / MENJAGA NAMA BAIK

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu” [QS. Al-Insyirah: ayat 4]

Ini adalah hadiah dari Allah setelah dada dilapangkan dan beban diringankan.

Allah mengangkat nama Muhammad ﷺ setinggi-tingginya.

– Di dunia: Tidak ada nama manusia yang paling banyak disebut selain nama Muhammad. Setiap adzan dikumandangkan, setiap sholat kita menyebut namanya, setiap hari milyaran manusia bershalawat kepadanya. Padahal beliau sudah wafat 1400 tahun lalu.
– Di akhirat: Beliau adalah pemilik Syafa’atul Uzhma, pemilik bendera Al-Hamd, manusia pertama yang membuka pintu surga.

Rof’u Zikri bagi kita adalah menjaga reputasi dan integritas.

Mengapa nama Rasulullah diangkat Allah? Karena beliau sangat menjaga nama baiknya. Sejak muda beliau dijuluki Al-Amin (yang terpercaya). Tidak pernah berbohong, tidak pernah berkhianat, tidak pernah menipu.

Banyak orang pintar, tapi namanya jatuh karena tidak menjaga amanah. Banyak orang hebat, tapi namanya hancur karena perbuatannya yang tidak baik atau tidak pandai menjaga nama baik nya.

Dalam perjuangan, modal terbesar bukanlah uang, tapi kepercayaan (trust) dan nama baik. Rasulullah mengajarkan: “Jagalah nama baikmu, karena nama baik adalah modal yang tidak bisa dibeli dengan uang.”

Jika kita ingin diangkat derajatnya oleh Allah dan manusia, jagalah 3 hal: Jaga lisan dari dusta, jaga tangan dari khianat, dan jaga kemaluan dari zina. Maka Allah SWT akan “Rafa’na Laka Dzikrak “mengangkat nama baik kita.

4. TAISIRUL ‘USRI (تيسير العسر) – DIMUDAHKAN DALAM KESULITAN / RINGAN LANGKAH BERJUANG

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [QS. Al Insyiroh ayat 5-6]

Kenapa diulang dua kali?
Para ulama tafsir mengatakan, pengulangan ini menunjukkan kepastian. Dalam kaidah bahasa Arab: “Satu kesulitan (Al-‘Usr) tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan (Yusra).” Karena kata Al-‘Usri pakai Alif Lam (satu kesulitan yang sama), sedangkan Yusran pakai nakirah (kemudahan yang berbeda-beda). Artinya, setiap satu masalah, Allah sudah siapkan dua jalan keluarnya.

Makna Taisirul Amri – Ringan Langkah Berjuang:

Inilah sifat pejuang sejati. Seorang pejuang tidak akan pernah lepas dari kesulitan. Dakwah itu sulit, ber organisasi itu sulit, membangun usaha itu sulit.

Tapi sifat Rasulullah adalah: Semakin sulit jalannya, semakin ringan langkahnya.
Kenapa? Karena beliau yakin bersama kesulitan itu ada kemudahan.

– Ketika dihina di Makkah, beliau tetap ringan melangkah ke Thaif.
– Ketika diusir dari Thaif, beliau tetap ringan melangkah ke Madinah.
– Ketika kalah di Uhud, beliau tetap ringan melangkah untuk perang lagi.

Bagi beliau: “Jika jalannya untuk Allah, maka semua kesulitan akan terasa ringan.”

Pelajaran untuk kita: Jangan pernah takut dengan _’usr_ (kesulitan). Tugas kita hanya melangkah. Urusan _yusra_ (kemudahan) itu urusan Allah.

Jika kita hari ini sedang merasa berat – berat ekonominya, berat organisasinya, berat perjuangannya – ingatlah ayat ini. Allah tidak berjanji hidup ini tanpa masalah, tapi Allah berjanji setiap masalah sudah sepaket dengan solusinya.

KESIMPULAN:

4 sifat ini adalah paket komplit:

1. Lapangkan dada dengan ilmu (Syarhu Shodri)
2. Ringankan beban orang lain, dengan cara jangan jadi beban (Wad’ul Wizri)
3. Jaga nama baik dan integritas (Rof’udzikri)
4. Tetap ringan melangkah meski sulit (Taisirul Amri)

Jika 4 ini ada pada diri kita, maka ayat terakhir akan terjadi pada kita:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ

“Maka apabila kamu telah selesai (dari satu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

Artinya: Seorang pejuang sejati tidak pernah punya waktu untuk menganggur dan mengeluh. Selesai satu perjuangan, langsung sambung perjuangan berikutnya. Dan harapannya hanya kepada Allah, bukan kepada manusia.

والله اعلم وتم علمه