NW ONLINELOMBOK TIMUR — Dzikrol Hauliyah ke-61 Ma’had Darul Qur’an wal-Hadits (MDQH) Al-Majidiyah Al-Syafi’iyah Nahdlatul Wathan (NW) Anjani tidak hanya menjadi momentum mengenang pendiri Nahdlatul Wathan, Almaghfurlah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Lebih dari itu, Dzikrol menjadi ruang untuk menjaga kesinambungan tradisi, mempererat silaturahmi, sekaligus mengingatkan kembali para alumni tentang tanggung jawab perjuangan setelah menyelesaikan pendidikan di ma’had.

Hal tersebut disampaikan Ketua Panitia Dzikrol Hauliyah ke-61, Muhammad Faisal Hamzah, dalam sambutannya pada puncak Dzikrol Hauliyah ke-61, Kamis (27/8/2026).

Faisal mengatakan, pelaksanaan Dzikrol Hauliyah merupakan upaya melanjutkan dan melestarikan sunnah hasanah atau tradisi baik yang diwariskan pendiri Nahdlatul Wathan.

“Tujuan dilaksanakannya acara Al-Zikr Al-Hawliyah ini adalah untuk melanjutkan dan melestarikan sunnah hasanah atau tradisi baik pendiri organisasi Nahdlatul Wathan, guru besar kita Almaghfurlah Maulana Syaikh Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid,” ujar Faisal.

Menurutnya, Dzikrol Hauliyah juga menjadi ajang silaturahmi, khususnya bagi para calon mutakharrijin dan mutakharrijat, serta seluruh jamaah yang hadir.

Selain silaturahmi, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk kembali mengenang, meneladani, dan mengambil ibrah dari perjuangan serta jasa Maulana Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dalam menyebarkan agama Islam melalui Nahdlatul Wathan.Dzikrol Hauliyah ke-61

Faisal juga memaparkan sejumlah rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan sebelum acara puncak. Rangkaian dimulai dengan pelantikan Panitia Dzikrol Hauliyah ke-61 pada 5 Agustus 2026.

Selanjutnya, pada 17–24 Agustus 2026, panitia menggelar sejumlah lomba, di antaranya desain poster ucapan dan video clipping masyayikh.

Kemudian pada Ahad, 23 Agustus 2026, digelar Seminar Ke-NW-an dan Kebangsaan yang diselenggarakan Panitia Tasyakuran (Pantasy) sebagai bekal wawasan keorganisasian dan kebangsaan bagi thullab dan tolibat.

Rangkaian berikutnya berupa Khutmil Qur’an dan doa bersama pada Senin, 24 Agustus 2026, yang dirangkaikan dengan pengumuman juara lomba.

Sementara pada Rabu, 26 Agustus 2026, dilaksanakan cukuran massal bagi thullab dan tolibat baru serta pengijazahan kitab bagi mutakharrijin dan mutakharrijat angkatan ke-61.

“Dan pada hari ini, Kamis 27 Agustus 2026, kita telah sampai pada puncak rangkaian kegiatan yaitu pengajian Al-Zikr Al-Hawliyah ke-61 Ma’had Darul Qur’an wal-Hadits Al-Majidiyah Al-Syafi’iyah Nahdlatul Wathan Anjani,” kata Faisal.

Dzikrol dan Jejak Pendiri

Sementara itu, Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, QH., MA, yang merupakan salah satu alumni MDQH dan kini dikenal sebagai akademisi, dalam pidatonya mengajak jamaah melihat Dzikrol Hauliyah sebagai kesinambungan antara generasi terdahulu dan generasi hari ini.

Prof. Fahrurrozi mengungkapkan pengalamannya saat menyampaikan pesan-pesan Dzikrol Hauliyah pada 1997. Menurutnya, meskipun waktu telah berlalu puluhan tahun, suasana yang dirasakan dalam Dzikrol tetap memiliki keterhubungan yang kuat dengan masa ketika pendiri NW masih hidup.

Menurutnya, nama ma’had, pendiri, kurikulum, serta para masyayikh yang mengajarkan ilmu tetap menjadi penghubung antara generasi alumni terdahulu dengan generasi hari ini.

Ia kemudian menggambarkan bahwa ketika berada di MDQH dengan tradisi dan sistem yang diwariskan pendiri, para alumni seakan kembali berada dalam majelis yang dahulu dibangun dan diwariskan oleh Maulana Syaikh.

“Sesungguhnya pada hakikatnya, kita semua sedang berada di majelis Almaghfurlah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid,” ungkapnya.

Menurut Prof. Fahrurrozi, hal tersebut menjadi salah satu sumber keberkahan yang diharapkan terus dirasakan oleh seluruh thullab dan tolibat, mulai dari angkatan terdahulu hingga angkatan 2026.

Baiat dan Kesetiaan dalam Perjuangan

Ia juga menyoroti prosesi baiat yang menjadi bagian dari perjalanan para santri dan alumni MDQH.

Prof. Fahrurrozi menyebut bahwa dirinya dan generasi sebelumnya juga pernah menjalani prosesi baiat kepada Maulana Syaikh. Sementara pada generasi sekarang, prosesi tersebut dilanjutkan oleh penerus perjuangan organisasi.

Menurutnya, meskipun generasi dan pelaksana baiat berubah, substansi baiat tetap sama, yakni komitmen untuk setia dan berjuang di dalam organisasi Nahdlatul Wathan.

“Pada hakikatnya dan redaksi baiatnya tetap sama, yaitu baiat untuk kesetiaan, berjuang di dalam organisasi Nahdlatul Wathan,” katanya.

Ia mengingatkan para alumni agar memahami bahwa perjalanan pendidikan di ma’had bukan sekadar proses akademik, melainkan bagian dari pembentukan kader yang nantinya diharapkan mampu melanjutkan perjuangan organisasi.

Cukuran dan Makna Kesucian

Dalam pidatonya, Prof. Fahrurrozi juga menyinggung tradisi cukuran massal yang telah dilaksanakan sehari sebelum puncak Dzikrol Hauliyah.

Menurutnya, prosesi tersebut memiliki makna mendalam bagi thullab baru. Cukuran menjadi simbol masuknya santri ke lingkungan pendidikan ma’had dengan ketulusan, kepolosan, serta kebersihan hati, jiwa dan raga.

Ia juga mengaitkan tradisi tersebut dengan pakaian putih yang dikenakan para santri di lingkungan ma’had sebagai simbol kesucian dalam menuntut ilmu.

Bagi Prof. Fahrurrozi, tradisi-tradisi tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi kenangan dan identitas yang melekat dalam perjalanan seorang santri MDQH.

Agenda sebagai Identitas Alumni

Hal lain yang menjadi perhatian Prof. Fahrurrozi adalah keberadaan agenda atau data mutakharrijin dan mutakharrijat yang diterima para calon alumni.

Menurutnya, agenda tersebut bukan hanya berisi daftar nama, tetapi menjadi dokumentasi perjalanan akademik dan identitas seseorang sebagai alumni MDQH.

Ia menjelaskan bahwa proses pendidikan, mulai dari tingkat awal hingga jenjang akhir, termasuk proses ujian tertulis dan lisan, menjadi bagian dari perjalanan akademik yang terdokumentasi.

“Agenda itu adalah identitas bagi orang yang sudah tamat, yang sudah mengikuti proses-proses akademik,” ujarnya.

Ia berharap data tersebut dapat menjadi kenangan bagi para alumni dalam jangka panjang. Bahkan, puluhan tahun mendatang, agenda tersebut dapat menjadi pengingat terhadap teman-teman seperjuangan yang pernah bersama-sama menuntut ilmu di MDQH.

Lebih jauh, ia memandang para mutakharrijin dan mutakharrijat sebagai bagian dari barisan alumni yang diharapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah melalui organisasi Nahdlatul Wathan.

Alumni Diminta Kembali ke Medan Perjuangan

Di akhir pidatonya, Prof. Fahrurrozi mengajak para alumni ke-61 untuk tidak berhenti setelah menyelesaikan pendidikan di ma’had.

Ia mengingatkan bahwa medan perjuangan masih luas dan membutuhkan kiprah para alumni. Menurutnya, berbagai wilayah di Indonesia masih terbuka untuk menjadi ruang pengabdian dan perjuangan para alumni MDQH.

“Setelah ini selamat kepada seluruh mutakharrijin mutakharrijat yang hari ini melakukan Dzikrol Hauliyah. Mudah-mudahan ilmu kita diberkahi oleh Allah SWT. Mudah-mudahan kita semua bertemu di medan perjuangan,” pesannya.

Ia juga mengajak seluruh alumni untuk terus mengikuti arahan dan perjuangan organisasi serta menjaga semangat yang telah diwariskan oleh pendiri NW.

Sementara itu, Faisal dalam sambutan penutupnya berharap seluruh ikhtiar dan kerja keras panitia serta pihak-pihak yang terlibat dalam Dzikrol Hauliyah ke-61 dicatat sebagai amal ibadah dan menjadi ladang pahala.

Dzikrol Hauliyah ke-61 akhirnya tidak hanya menjadi peringatan tahunan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan lintas generasi alumni MDQH untuk mengenang pendiri, menjaga tradisi, memperkuat silaturahmi, dan mempersiapkan generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan Nahdlatul Wathan.

Sumber: Sambutan Muhammad Faisal Hamzah, Ketua Panitia Dzikrol Hauliyah ke-61, 27 Agustus 2026; pidato Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, QH., MA, pada Dzikrol Hauliyah ke-61, 27 Agustus 2026. Profil akademik Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, QH., MA juga tercantum pada laman resmi Pascasarjana UIN Mataram.