NW ONLINE – Lombok Timur — Sekitar 10 ribu jamaah diperkirakan menghadiri puncak Adz-Zikrol Hauliyah ke-61 Ma’had Darul Qur’an Wal Hadits (MDQH) Al-Majidiyyah As-Syafi’iyyah Nahdlatul Wathan (NW) Anjani, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Kamis (27/8/2026).
Jumlah tersebut terdiri dari thullab dan tolibat baru, calon mutakharrijin dan mutakharrijat yang akan menyelesaikan pendidikan, keluarga santri, alumni, serta jamaah Nahdlatul Wathan dari berbagai daerah.
Puncak peringatan tersebut menjadi momentum mengenang perjuangan pendiri Nahdlatul Wathan, Almaghfurlah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, sekaligus memperkuat kembali nilai pendidikan, keilmuan, dan perjuangan yang diwariskan kepada generasi penerus.
Amidul Ma’had Tekankan Perjuangan dan Kebermanfaatan
Amidul Ma’had yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan, Dr. TGKH. Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani, mengingatkan para mutakharrijin dan mutakharrijat agar tidak menjadikan kelulusan sebagai akhir dari perjalanan menuntut ilmu.
Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama berada di MDQH harus terus dikembangkan dan diamalkan di tengah masyarakat.
“Teruslah menimba ilmu di manapun kalian berada. Jadikan diri kalian orang yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” pesannya.
Ia juga menekankan bahwa semangat hauliyah diharapkan mampu menjaga nilai perjuangan Maulana Syaikh agar tetap hidup dalam diri para kader Nahdlatul Wathan.
Menurutnya, perjuangan NW berlandaskan pada penegakan iman dan takwa serta kecintaan terhadap tanah air yang diwujudkan melalui bidang pendidikan, sosial, dan dakwah.
Karena itu, para alumni diharapkan tidak hanya membawa pulang ijazah dan pengalaman akademik, tetapi juga semangat untuk terus mengabdi dan memperluas manfaat di tengah masyarakat.
Syaikh Musthofa Uraikan Makna Ma’had
Pengajian pada puncak Dzikrol Hauliyah ke-61 disampaikan Syaikh Dr. Musthofa At-Tilimsani dan diterjemahkan oleh Dr. TGH. Syahri Ramadhan.
Dalam tausiyahnya, Syaikh Musthofa menguraikan makna yang terkandung dalam nama Ma’had Darul Qur’an wal Hadits.
Ia menjelaskan bahwa ma’had berkaitan dengan tempat yang didatangi secara rutin untuk menimba ilmu. Sementara ad-dar menggambarkan tempat yang memiliki batas dan dikelilingi pagar.
Adapun Al-Qur’an merupakan sesuatu yang dikumpulkan dan tersimpan dalam hati orang beriman serta dibaca dengan lisan.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupan seorang muslim.
“Seafdhol-afdhol ibadah adalah membaca Al-Qur’an,” tegasnya.
Prof. Fahrurrozi: Dzikrol Menghubungkan Lintas Generasi
Pesan dan kesan alumni turut menjadi bagian dari puncak Dzikrol Hauliyah ke-61. Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, QH., MA, alumni MDQH angkatan ke-33, menyampaikan refleksi mengenai kesinambungan tradisi yang diwariskan Maulana Syaikh.
Prof. Fahrurrozi mengungkapkan bahwa dirinya pernah menyampaikan pesan-pesan Dzikrol Hauliyah pada 1997. Menurutnya, meskipun waktu telah berlalu, suasana yang dirasakan dalam Dzikrol Hauliyah hari ini memiliki keterhubungan dengan masa ketika Maulana Syaikh masih hidup.
Kesamaan nama ma’had, pendiri, kurikulum, serta para masyayikh yang meneruskan pembelajaran menjadi pengikat antargenerasi.
Menurutnya, keberadaan para alumni dan thullab di lingkungan MDQH dengan tradisi yang diwariskan Maulana Syaikh membuat mereka seakan kembali berada di majelis sang pendiri.
“Sesungguhnya pada hakikatnya, kita semua sedang berada di majelis Almaghfurlah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid,” ungkapnya.
Prof. Fahrurrozi juga mengaitkan tradisi cukuran massal dengan proses awal seorang santri dalam menuntut ilmu. Menurutnya, prosesi tersebut memiliki makna simbolik tentang ketulusan dan kebersihan hati, jiwa, serta raga.
Selain cukuran, ia menyinggung almamater yang dikenakan calon mutakharrijin dan mutakharrijat. Menurutnya, atribut tersebut menjadi salah satu penanda bagi santri yang akan menyelesaikan pendidikan.
Ia juga menekankan pentingnya agenda mutakharrijin dan mutakharrijat sebagai dokumentasi perjalanan akademik.
“Agenda itu adalah identitas bagi orang yang sudah tamat, yang sudah mengikuti proses-proses akademik,” ujarnya.
Menurut Prof. Fahrurrozi, dokumentasi tersebut akan menjadi kenangan yang menghubungkan para alumni dengan teman-teman seperjuangan mereka, bahkan hingga puluhan tahun mendatang.
Ia kemudian mengajak para alumni angkatan ke-61 untuk tidak berhenti pada kelulusan, tetapi kembali ke tengah masyarakat dan melanjutkan perjuangan Nahdlatul Wathan.

968 Santri Baru Ikuti Serah Mayung Sebungkul
Selain pengajian dan pesan alumni, puncak Dzikrol Hauliyah ke-61 juga diisi sejumlah prosesi bagi santri baru dan calon lulusan.
Sebanyak 968 thullab dan tolibat baru, terdiri dari 491 banin dan 477 banat, mengikuti prosesi Serah Mayung Sebungkul. TGH. Sirrul Wathon mewakili seluruh wali santri dalam prosesi tersebut.
Sementara itu, dari 1.175 mutakharrijin dan mutakharrijat angkatan ke-61, diumumkan 25 mutakharrijin terbaik dan 17 mutakharrijat terbaik.
Sebanyak 94 thullab dan tolibat yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz juga turut diumumkan dalam rangkaian acara.
Prosesi tersebut melengkapi rangkaian kegiatan Dzikrol yang sebelumnya telah diisi dengan cukuran massal, pengijazahan kitab, kegiatan keorganisasian, Khutmil Qur’an, dan sejumlah kegiatan pendukung lainnya.
Faisal: Dzikrol untuk Melestarikan Tradisi Pendiri
Ketua Panitia Dzikrol Hauliyah ke-61, Muhammad Faisal Hamzah, dalam laporannya menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan telah dipersiapkan sejak awal Agustus.
Panitia dilantik pada 5 Agustus 2026, kemudian pada 17–24 Agustus digelar sejumlah lomba berupa desain poster ucapan dan video clipping masyayikh.
Pada Ahad, 23 Agustus, dilaksanakan Seminar Ke-NW-an dan Kebangsaan yang diselenggarakan Panitia Tasyakuran (Pantasy). Kegiatan tersebut menjadi bekal wawasan keorganisasian dan kebangsaan bagi thullab dan tolibat.
Rangkaian dilanjutkan dengan Khutmil Qur’an dan doa bersama pada Senin, 24 Agustus, sekaligus pengumuman pemenang lomba.
Kemudian pada Rabu, 26 Agustus, dilaksanakan cukuran massal bagi thullab dan tolibat baru serta pengijazahan kitab bagi mutakharrijin dan mutakharrijat angkatan ke-61.
Faisal mengatakan seluruh rangkaian tersebut merupakan bagian dari upaya melanjutkan dan melestarikan sunnah hasanah atau tradisi baik yang ditinggalkan pendiri Nahdlatul Wathan.
“Tujuan dilaksanakannya acara Al-Zikr Al-Hawliyah ini adalah untuk melanjutkan dan melestarikan sunnah hasanah atau tradisi baik pendiri organisasi Nahdlatul Wathan, guru besar kita Almaghfurlah Maulana Syaikh Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid,” ujar Faisal.
Menurutnya, Dzikrol Hauliyah juga menjadi ajang silaturahmi bagi calon mutakharrijin dan mutakharrijat pada khususnya serta seluruh jamaah pada umumnya.
Faisal berharap momentum tersebut dapat menjadi ruang bagi seluruh jamaah untuk kembali mengenang, meneladani, dan mengambil ibrah dari perjuangan serta jasa Maulana Syaikh dalam menyebarkan agama Islam melalui Nahdlatul Wathan. (nanta)
