Pagi Sabtu, 1 Agustus, saya kembali melanjutkan pengajian subuh di Mushalla Al-Amin Nahdlatul Wathan Sepit. Di pertemuan tersebut, pembahasan masih berlanjut seputar lafaz basmalah, kalimat yang selalu mengawali berbagai aktivitas seorang muslim. Meskipun hampir setiap hari kita mengucapkannya, ternyata basmalah menyimpan begitu banyak keutamaan dan makna yang sering kali luput dari perhatian. Tidak heran jika Rasulullah saw. menganjurkan agar setiap amal dan pekerjaan yang baik diawali dengan membaca basmalah. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa setiap perkara penting yang tidak diawali dengan menyebut nama Allah maka keberkahannya berkurang.
Salah satu pembahasan yang menarik adalah mengenai keberadaan Ism al-A‘ẓam di dalam lafaz basmalah, yaitu lafaz Allah. Para ulama menjelaskan bahwa Ism al-A‘ẓam merupakan nama Allah yang paling agung. Siapa pun yang berdoa meminta kepada Allah dengan menyebut nama-Nya yang agung ini, maka doa tersebut pasti dikabulkan oleh Allah Swt. Banyak riwayat yang mengisahkan orang-orang saleh yang bertawassul kepada Allah dengan menyebut Ism al-A‘ẓam. Atas izin-Nya, berbagai kesulitan yang mereka hadapi dimudahkan dan doa-doa mereka dikabulkan. Namun, di sinilah muncul pertanyaan yang hampir selalu ditanyakan dalam setiap kajian: jika demikian, mengapa tidak sedikit orang yang telah berdoa dengan menyebut Ism al-A‘ẓam, tetapi doa yang mereka panjatkan tampak belum juga dikabulkan oleh Allah Swt.? Pertanyaan inilah yang kemudian menjadi salah satu fokus pembahasan pada pengajian subuh kali itu.
Persoalan ini kemudia dijawab oleh sayyid Abi Bakar Syatho dalam kitab Kifayah al-Atqiya’ syarah atas kitab Hidayah al-Azkiya’. Beliau mengatakan bahwa doa memiliki adab dan syarat, tanpa itu setiap doa yang dipanjatkan tidak akan dikabulkan oleh Allah. Hal pertama yang harus diperhatikan bagi orang yang berdoa, kata beliau, adalah memperbaiki bathinnya dengan memakan makanan yang halal. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa doa adalah kunci untuk membuka langit sementara geriginya adalah makanan yang halal. Sedangkan puncak dikabulkannya doa adalah menghadirkan hati disaat berdoa. Hal ini beliau kuatkan dengan firman Allah pada QS. Gafir: 14 yang berbunyi:
فَادْعُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ
Diceritakan bahwa suatu ketika ada sekelompok orang datang menemui Ibrahim bin Adham. Mereka mengadukan keadaan mereka seraya berkata, “Kami selalu berdoa kepada Allah, tetapi mengapa doa kami tidak pernah dikabulkan?” Mendengar pertanyaan tersebut, Ibrahim bin Adham menjelaskan bahwa penyebab tidak dikabulkannya doa adalah karena hati telah mati. Adapun matinya hati, menurut beliau, disebabkan oleh sepuluh perkara, yaitu:
1. Kalian mengenal Allah, tetapi tidak menunaikan hak-hak-Nya sebagai Tuhan yang wajib disembah dan ditaati.
2. Kalian mengaku mencintai Nabi Muhammad saw., tetapi kalian meninggalkan sunnah-sunnah beliau.
3. Kalian membaca Al-Qur’an, tetapi tidak berusaha mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya.
4. Kalian menikmati berbagai nikmat yang Allah berikan, tetapi tidak mensyukurinya.
5. Kalian mengatakan bahwa setan adalah musuh, tetapi dalam kenyataannya kalian justru mengikuti bisikan dan langkah-langkahnya.
6. Kalian meyakini bahwa surga itu benar adanya, tetapi kalian tidak bersungguh-sungguh melakukan amal yang dapat mengantarkan kalian ke dalamnya.
7. Kalian juga meyakini bahwa neraka itu benar adanya, tetapi kalian tidak berusaha menjauhi perbuatan yang dapat menyeret kalian ke dalamnya.
8. Kalian mengetahui bahwa kematian pasti akan datang, tetapi kalian tidak mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.
9. Setiap pagi kalian sibuk mencari dan membicarakan kesalahan orang lain, sementara kalian lalai melihat dan memperbaiki kesalahan diri sendiri.
10. Kalian menguburkan orang-orang yang telah meninggal dunia, tetapi kalian tidak mengambil pelajaran dari kematian mereka.
11. Kalian mengatakan bahwa neraka itu benar ada, namun kalian tidak berusaha menajuahkan diri darinya
12. Kalian mengatakan bahwa kematrian itu pasti terjadi, namun kalian tidak berusaha memeprsiapkan diri menghadapinya
13. Kalian bangun di pagi hari dan kalaina sibukkan diri dengan kesalahan orang lain tanpa melihat kesalahan dirimu sendiri
14. Kalian menguburkan jenazah, namun kalian tidak pernah sedikitpun mengambil pelajaran darinya.

Uraian di atas menunjukkan bahwa hati merupakan pintu utama yang menghubungkan seorang hamba dengan Tuhannya. Ketika hati dipenuhi keimanan, ketakwaan, rasa syukur, dan keikhlasan, maka hubungan seorang hamba dengan Allah akan terjalin dengan baik sehingga ibadah, doa, dan amal salehnya memiliki nilai di sisi-Nya. Sebaliknya, apabila hati telah mati karena dipenuhi kelalaian, maksiat, dan kecenderungan mengikuti hawa nafsu, maka hubungan tersebut akan semakin melemah. Akibatnya, seseorang tidak lagi mudah menerima petunjuk, enggan mengamalkan kebenaran yang diketahuinya, dan doa-doanya pun terhalang dari pengabulan.
Memperbaiki hati merupakan syarat penting agar doa dipanjatkan dengan penuh keikhlasan dan adab. Namun, adab seorang hamba tidak berhenti ketika doa telah dipanjatkan. Namun ia juga dituntut untuk menjaga kebersihan hatinya dari sikap tergesa-gesa, berburuk sangka, dan merasa bahwa Allah harus segera mengabulkan apa yang dimintanya. Dalam konteks inilah Imam Ibn ‘Aṭa’illah al-Sakandara dalam Al-Ḥikam mengingatkan bahwa setiap doa pada hakikatnya telah dijawab oleh Allah, hanya saja bentuk dan waktu pengabulannya mengikuti hikmah dan kehendak-Nya. Karena itu, seorang hamba tidak sepatutnya berburuk sangka apabila doanya belum juga terwujud sebagaimana yang diharapkan. Bahkan dalam satu riwayat disebutkan bahwa Allah malu kepada hambanya yang mengangkat tangan berdoa kemudia kembali dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan).
Dalam karya beliau yang lain, al tanwîr fî isqât at tadbîr, juga dijelaskan bahwa “terhalangnya seseorang dari suatu pemberian, pada hakikatnya merupakan sebuah pemberian.” Maksudnya, apa yang tampak sebagai penolakan atau penundaan dari Allah sesungguhnya bisa jadi merupakan bentuk kasih sayang dan perlindungan-Nya. Boleh jadi sesuatu yang diminta tidak baik bagi hamba pada saat itu, atau Allah telah menyiapkan kebaikan yang lebih besar, baik dalam bentuk yang berbeda, pada waktu yang lebih tepat, maupun dengan menggantinya dengan sesuatu yang lebih bermanfaat. Ketika seorang hamba merasa doanya tidak dikabulkan, bukan berarti Allah mengabaikan permohonannya, melainkan Allah mengabulkannya sesuai dengan ilmu, kebijaksanaan, dan kasih sayang-Nya yang sempurna.
Sejatinya, doa merupakan wujud penyerahan diri seorang hamba kepada Tuhannya, bukan sebuah tuntutan yang harus selalu dipenuhi sesuai dengan keinginannya. Dalam doa, seorang hamba mengakui kelemahan dirinya sekaligus meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa para ulama tidak hanya memandang doa dari sisi terkabul atau tidaknya permintaan, tetapi juga sebagai bentuk ibadah yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah.
Tidak mengherankan jika dalam banyak kitab diceritakan bahwa sebagian ulama justru lebih merasa senang, bahkan rasa senangnya berlipat-lipat ketika doa mereka belum segera dikabulkan. Sebab, selama seorang hamba terus menanti dengan penuh harap, bersabar, dan tidak berputus asa, ia tetap berada dalam keadaan beribadah dan bermunajat kepada Allah. Penantian terhadap terkabulnya doa bukanlah waktu yang sia-sia, melainkan bagian dari ibadah yang mendatangkan pahala,
انتظار الفَرَجِ عِبَادَةٌ
“Menanti datangnya jalan keluar adalah ibadah”,
Begitu juga dengan menanati terkabulnya doa dengan penuh kesabaran akan tercatat sebagai ibadah di sisi Allah.

Penulis : Muhammad Ramli Saldiman
Angkatan : 48 MDQH Nahdlatul Wathan Anjani
Hp : 087880470872