- Ketika Lisan Mengaku Cinta Kepada Allah, Namun Perilaku Masih Setia Bermaksiat Kepada-Nya
Bait ini adalah bait yang sangat masyhur dinisbatkan kepada Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i Rahimahullah. Beliau mengucapkan bait ini bukan sebagai bait percintaan, tapi sebagai kritik epistemologis terhadap keimanan yang kontradiktif.
تَعصي الإلهَ وأنتَ تُظهرُ حبَّهُ
هذا لعمري في القياسِ بديعُ
لو كان حبُّكَ صادقاً لأطعتَهُ
إنَّ المحبَّ لمن يحبُّ مطيعُ
_Artinya: “Engkau bermaksiat kepada Allah, padahal engkau menampakkan kecintaan kepada-Nya. Demi umurku, ini adalah perkara yang sangat ganjil dalam logika. Jikalau kecintaanmu itu tulus, niscaya engkau akan menaati-Nya. Sesungguhnya seorang pecinta itu pasti akan patuh kepada yang ia cintai.”_
Bait ini bukan sekedar syair, ia adalah pisau bedah yang membedah anatomi keimanan kita yang seringkali terbelah.
1. Analisis dari Perspektif Ilmu Logika (Al-Mantiq)
Secara logis, bait ini dibangun di atas struktur silogisme kategoris yang sangat valid. Premis mayornya berbunyi: Setiap cinta yang hakiki secara aksiomatik melahirkan ketaatan. Premis minornya: Perilaku empiris yang tampak pada dirimu adalah maksiat, yang merupakan antitesis dari ketaatan.
Maka konklusi yang ditarik secara deduktif adalah: klaim cinta yang engkau gaungkan itu adalah klaim yang gugur secara logis. Imam Syafi’i menggunakan diksi بَدِيعٌ فِي القِيَاسِ _”badi’ fil qiyas”_ yang secara ilmiah bisa kita terjemahkan sebagai anomali logis, paradoks, atau sebuah kejanggalan nalar. Tidak mungkin dua hal yang saling menafikan berkumpul dalam satu waktu, yaitu mengaku cinta sambil tetap melanggengkan perbuatan yang dibenci oleh yang dicintai.
2. Analisis dari Perspektif Psikologi Perilaku
Dalam kajian psikologi modern, cinta tidak pernah dipahami hanya sebagai afeksi atau emosi yang bergejolak di dalam dada. Cinta yang matang adalah integrasi dari tiga komponen: kognitif (keyakinan bahwa yang dicintai itu layak dicintai), afektif (perasaan rindu dan senang), dan konatif (dorongan untuk bertindak sesuai dengan keinginan yang dicintai).
Ketika seseorang hanya berhenti pada komponen afektif, yaitu merasa cinta, tetapi gagal mewujudkan dalam komponen konatif, yaitu tindakan nyata berupa ketaatan, maka ia sedang mengalami apa yang disebut _cognitive dissonance_ atau disonansi kognitif. Ada keretakan antara apa yang ia yakini dan apa yang ia kerjakan. Untuk menutupi keretakan itu, biasanya manusia melakukan rasionalisasi dengan berkata “Allah Maha Pengampun”, padahal itu adalah bentuk _self-deception_ atau menipu diri sendiri.
3. Analisis dari Perspektif Teologi dan Hakikat Tafwidh
Para ulama ushuluddin merumuskan sebuah kaidah emas:
المَحَبَّةُ تَسْتَلْزِمُ الطَّاعَةَ
_Al-Mahabbah tastalzimu ath-Tha’ah_ – Cinta itu secara dzatiyah menuntut pembuktian berupa ketaatan.
Cinta kepada Allah memiliki dua sayap:
a. مَحَبَّةٌ قَلْبِيَّةٌ – _Mahabbah qalbiyah_, yaitu rasa cinta di hati.
b. اِتِّبَاعٌ عَمَلِيٌّ – _Ittiba’ amaliyah_, yaitu mengikuti perintah-Nya.
Tanpa sayap kedua, sayap pertama tidak akan bisa terbang. Inilah yang membedakan antara Tafwidh yang sejati dengan Tafwidh yang palsu. Tafwidh palsu adalah ketika seseorang berkata “Saya sudah pasrahkan urusan saya kepada Allah” kemudian ia meninggalkan shalat, tetap bermaksiat, dan malas berikhtiar. Ia menjadikan Tafwidh sebagai pembenaran untuk kelalaiannya.
Adapun Tafwidh yang hakiki adalah puncak dari cinta. Rumusnya adalah: kerahkan seluruh bentuk ketaatan dan kesungguhan sebagai bukti cinta, lalu di ujung ikhtiar itu serahkan totalitas hasilnya kepada Allah tanpa syarat. Tugas kita adalah taat, tugas Allah adalah menentukan hasil. Ketaatan adalah bahasa cinta kita kepada-Nya.
4. Analisis dari Perspektif Sastra dan Hikmah Universal
Secara balaghah, bait ini menggunakan uslub ta’ajjub pada dua baris pertama, seolah Imam Syafi’i terheran-heran dengan fenomena manusia. Kemudian pada dua baris terakhir beliau menggunakan uslub taqrir, yaitu penetapan sebuah hukum abadi. Hukum itu adalah:
إِنَّ المُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيعُ
_”Innal muhibba liman yuhibbu muthi'”_
Kalimat ini telah menjadi kaidah universal yang qath’i. Ia tidak hanya berlaku dalam hubungan vertikal antara hamba dengan Rabb-nya, tetapi juga berlaku dalam hubungan horizontal sesama manusia. Murid yang mencintai gurunya pasti akan mendengarkan nasehatnya. Anak yang mencintai orang tuanya pasti akan berusaha membahagiakannya. Pecinta yang jujur pasti akan berusaha melakukan apa yang membuat kekasihnya ridha, meskipun harus mengorbankan egonya sendiri.
5. Implementasi Paling Nyata: Cinta Kepada Guru
Jika kaidah _Innal muhibba liman yuhibbu muthi’_ itu benar, maka timbangan paling jujur untuk mengukur cinta seorang santri kepada gurunya bukanlah seberapa sering ia mencium tangan gurunya, memajang fotonya, atau menulis status pujian untuk gurunya di media sosial.
Timbangan yang paling jujur adalah ketaatan.
Seorang santri yang mengaku cinta kepada gurunya, namun abai terhadap wirid yang diijazahkan gurunya, melanggar adab yang diajarkan gurunya, dan meremehkan nasehat gurunya, maka cintanya adalah cinta yang dusta. Ia mencintai sosok guru sebagai kebanggaan identitas, bukan mencintai ilmu dan keberkahan yang dititipkan Allah melalui guru tersebut.
Guru kita di Ma’had Darul Qur’an Wal Hadits Al Majidiyah Asy Syafi’iyah Nahdlatul Wathan Anjani tidak hanya mengajarkan bacaan Al-Qur’an, tetapi menanamkan _manhaj_ dan _adab_. Maka bentuk cinta yang hakiki kepada guru adalah:
a. Mahabbah Qalbiyah: Menjaga rasa hormat, husnudzan, dan mendoakan guru dalam setiap sujud. Tidak pernah terbesit di hati untuk merendahkan atau membicarakan aib guru.
b. Ittiba’ Amaliyah: Inilah buktinya. Patuh pada disiplin hafalan, menjaga adab, mengamalkan wirid harian, dan menjaga nama baik lembaga di luar. Ketika guru berkata “jaga Ma’had mu”, maka santri yang cinta akan menjaganya bahkan ketika tidak ada yang mengawasi. Itulah _muthi’_.
Cinta kepada guru adalah perpanjangan dari cinta kepada Allah SWT. Karena guru adalah wasilah yang menunjukkan jalan untuk taat kepada Allah. Mustahil seseorang mengaku cinta kepada Allah SWT., tetapi ia durhaka kepada orang yang mengajarkannya cara mencintai Allah.
Maka rumusnya sama: Tugas santri adalah taat dan berkhidmah dengan tulus, adapun keberkahan ilmu dan futuh hafalan adalah hak prerogatif Allah yang dititipkan melalui ridha guru. Tanpa ketaatan, klaim cinta kepada guru hanya akan menjadi slogan kosong yang tidak melahirkan keberkahan.
والله أعلم وتم علمه
Penulis: Muhammad Taufikkurrahman Al-Hizbi, QH., S.Pd.
Angkatan: 60 MDQH NW Anjani
