Allah SWT memuji sebuah karakter hamba yang sangat tinggi, yaitu mereka yang tidak menutup telinga dari berbagai perkataan dan pendapat, namun memiliki filter tauhid untuk hanya mengikuti yang paling lurus dan paling mendekatkan kepada ketaatan.

Melalui penafsiran Imam Ath-Thabari dalam kitab Tafsir At Thabari atas ayat QS. Surah Az Zumar ayat 17 ini

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ.

Tulisan ini akan membedah metodologi seorang mukmin yang ideal dalam menuntut ilmu yaitu dengan menjadi pendengar yang baik, penyeleksi yang tajam, dan pengamal yang cerdas. Dan pada akhirnya merekalah yang berhak menyandang gelar Ulul Albab (orang-orang yang berakal sehat)

Teks Ayat QS:Az-Zumar Ayat 17-18

فَبَشِّرْ عِبَادِ (١٧) الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ (١٨)

Artinya:

“Maka berilah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku. (Yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang berakal sehat.”

Teks Tafsir imam Ath-Thabari:

يقول جل ثناؤه لنبيه محمد صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم: فبشر يا محمد عبادي الذين يستمعون القول من القائلين, فيتبعون أرشده وأهداه, وأدله على توحيد الله, والعمل بطاعته, ويتركون ما سوى ذلك من القول الذي لا يدل على رشاد, ولا يهدي إلى سداد. وبنحو الذي قلنا في ذلك قال أهل التأويل.

Artinya:

“Allah Jalla Tsana’uh berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad SAW:Maka berilah kabar gembira wahai Muhammad kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan dari orang-orang yang berkata, lalu mereka mengikuti perkataan yang paling lurus, paling memberi petunjuk, dan paling menunjukkan kepada tauhidullah dan amal ketaatan kepada-Nya, dan mereka meninggalkan perkataan selain itu yang tidak menunjukkan pada kebenaran dan tidak memberi petunjuk pada kelurusan. Dan seperti yang kami katakan itulah yang dikatakan oleh para ahli tafsir.”

Imam Ath-Thabari membagi ayat ini menjadi 3 pilar utama:

Pilar 1: Objek Kabar Gembira – فَبَشِّرْ عِبَادِ

Perintah fabasysyir berilah kabar gembira. Ini menunjukkan bahwa kriteria hamba yang disebutkan setelahnya adalah kriteria yang sangat tinggi di sisi Allah, sehingga berhak mendapatkan ‘busro’ kabar gembira) langsung dari Allah melalui lisan Nabi-Nya.

Mereka yang mendapat kabar gembira,Bukan semua hamba, tapi`alladzina yastami’unal qaul` yaitu yang mendengar perkataan

Pilar 2: Metodologi Berpikir Kritis Seorang Mukmin – يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

Inilah inti ayat ini yang dimana Ath-Thabari menjelaskan`al-qaul` di sini bersifat umum (semua perkataan).

Seorang mukmin yang ideal memiliki 2 fase:

Fase A: Istima’ – يَسْتَمِعُونَ

Yaitu mendengarkan secara aktif, menyimak, membuka telinga dan hati. Dia tidak menutup diri. Dia mendengarkan semua pendapat, semua hujjah. Ini adalah sikap ilmiah, tidak fanatik buta.

Namun tidak berhenti di istima’.

Fase B: Ittiba’ Ahsanahu – فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

Setelah mendengar semua, dia melakukan seleksi. Hanya mengikuti yang `ahsana` – yang paling baik.

Ath-Thabari menafsirkan `ahsana` dengan 3 kriteria:

1.  Arsyadahu (أرشده): Yang paling rasional, paling lurus, paling masuk akal.

2.  Ahdahu (أهداه): Yang paling memberi petunjuk pada kebenaran.

3.  Adallahu ‘ala tauhidillah wa al-‘amal bi tha’atih (أدله على توحيد الله والعمل بطاعته): Yang paling menunjukkan kepada Tauhid dan ketaatan kepada Allah.

Jadi, seorang mukmin itu mendengar semua, tapi dia punya filter tauhid. Apapun perkataan yang paling dekat dengan tauhid dan ketaatan, itulah yang dia ikuti. Dan dia meninggalkan perkataan yang tidak menunjukkan pada kebenaran (la yadullu ‘ala rasyad`).

Ini adalah kaidah emas dalam menuntut ilmu. Kita diperintahkan untuk mendengar semua pendapat, tapi hanya mengamalkan yang paling kuat dalilnya dan paling dekat kepada Sunnah.

Pilar 3: Hasil Akhir – هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولُو الْأَلْبَابِ

Allah SWT menutup ayat ini dengan 2 gelar agung bagi mereka yaitu :

1.  Ulaika alladzina hadahumullah: Mereka adalah orang-orang yang telah diberi hidayah oleh Allah. Artinya, kemampuan untuk menyaring perkataan dan mengambil yang terbaik itu sendiri adalah hidayah dari Allah. Bukan kepintaran kita semata.

2.  Wa ulaika hum ulul albab: Dan mereka itulah pemilik akal murni. Albab` jamak dari lubb`, yaitu inti akal. Orang yang berakal sehat bukanlah orang yang banyak tahu, tapi orang yang mampu membedakan mana perkataan yang baik dan mana yang paling baik, lalu berani meninggalkan yang hanya baik demi yang paling baik.

Ayat ini adalah dalil dasar manhaj tarjih. Dalam fiqih, dalam mendengar nasihat guru, dalam kehidupan, seorang thalibul ilmi harus menjadi pendengar yang baik, lalu menjadi penyeleksi yang tajam. Jangan menjadi pengikut hawa nafsu yang hanya mendengar apa yang ingin didengarnya saja. Mendengar semua, tapi mengikuti yang terbaik.

والله اعلم وتم علمه

Penulis: Muhammad Taufikkurrahman Al Hizbi, QH., S.Pd.

Angkatan: 60 MDQH NW Anjani