Seringkali kita mencari rahasia kekuatan pada hal-hal yang besar. Padahal kekuatannya ada pada hal yang paling sederhana: hati yang saling menyayangi (mawaddah) dan tangan yang saling membantu (ta’awun). Ketika dua ini bertemu, maka lahirlah kekuatan yang tidak akan mampu dikalahkan oleh apapun. Mari kita ulik sedikit Kalam Hikmah Arab kuno ini.

Nash Hikmah:

إِنَّ المَوَدَّةَ وَالتَّعَاوُنَ قُوَّةٌ لَا تَصْفِقُ الكَفُّ الوَحِيْدَةُ فِي الهَوَاءِ

“Sesungguhnya kasih sayang dan gotong royong adalah kekuatan, karena satu telapak tangan tidak akan pernah bisa bertepuk di udara.”

(المَوَدَّةُ)

1. Modal Dasar Yang Sering Dilupakan.

Mawaddah bukanlah cinta pasif yang hanya disimpan di dalam hati, melainkan cinta aktif yang bergerak dan memberi. Inilah yang membedakan mawaddah dengan mahabbah. Mahabbah bisa hanya sekadar rasa, tapi mawaddah pasti melahirkan amal. Kenapa ia menjadi modal dasar kekuatan? Karena tanpa mawaddah, sekelompok orang hebat pun hanya akan menjadi kumpulan individu yang saling curiga dan saling menjatuhkan. Mawaddah inilah yang menjadi perekat, yang membuat perbedaan suku, karakter, dan kemampuan bisa menyatu dalam satu tujuan.

Dalam konteks keummatan, Allah SWT sendiri yang menegaskan bahwa persatuan hati itu bukan hasil dari banyaknya harta, tapi murni anugerah dari mawaddah yang Allah tanamkan. Allah berfirman وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ. Seandainya engkau infakkan seluruh isi bumi, engkau tidak akan mampu menyatukan hati mereka. Ini menunjukkan bahwa modal pertama untuk membangun kekuatan bukanlah uang, melainkan hati yang saling mencintai karena Allah. Ketika hati sudah saling mencinta, maka pekerjaan seberat apapun akan terasa ringan.

( التَّعَاوُنُ)

2. Dari Rasa Menjadi Gerakan Nyata.

Jika mawaddah adalah ruh dan energi yang ada di dalam hati, maka ta’aawun adalah jasad dan perwujudannya di lapangan. Ta’aawun berasal dari wazan _tafaa’ul_ yang maknanya saling, bukan satu arah. Filosofinya sangat dalam: aku tidak sempurna, engkau pun tidak sempurna, tapi kekurangan ku akan ditutupi oleh kelebihan mu, dan kekurangan mu akan ditutupi oleh kelebihan ku. Inilah hakikat gotong royong yang sebenarnya, bukan hanya sekadar membantu, tapi saling membantu.

Dalam ilmu manajemen modern, inilah yang disebut sinergi. Dimana 1 + 1 hasilnya bukan 2, tapi bisa menjadi 11 atau bahkan 100. Karena hasil kerja kolektif yang dilandasi ta’aawun akan selalu melampaui penjumlahan hasil kerja individual. Satu orang mungkin hanya bisa mengangkat 10 kilo, tapi sepuluh orang yang bekerjasama bukan hanya bisa mengangkat 100 kilo, tapi mereka bisa mengangkat 1 ton beban peradaban. Ta’aawun mengubah kelemahan pribadi menjadi kekuatan kolektif yang dahsyat.

القُوَّةُ

3. Buah Manis Dari Persatuan.

Banyak orang hari ini salah memahami makna kekuatan. Mereka mengira kekuatan itu ada pada otot yang kekar, harta yang melimpah, atau gelar yang tinggi. Padahal Al-Qur’an dan Sunnah mengajarkan bahwa kekuatan hakiki ummat ini ada pada persatuannya. Lihatlah filosofi sapu lidi yang sering kita lihat di madrasah. Satu batang lidi sangat mudah dipatahkan oleh anak kecil sekalipun. Tapi ketika puluhan lidi itu diikat menjadi satu, ia menjadi alat yang sangat kuat, bisa membersihkan sampah yang besar, dan tidak mudah dipatahkan.

Begitulah gambaran kekuatan kita. Kekuatan Madrasah NWDI dari dulu hingga sekarang, dari masa Maulana Syaikh hingga hari ini, bukanlah karena hebatnya satu orang tokoh, tapi karena kuatnya ikatan cinta dan gotong royong di antara ribuan muridnya. Ketika kita bersatu, kita kuat. Ketika kita berpecah, sekuat apapun kita secara individu, kita akan menjadi lemah dan mudah dikalahkan. Maka menjaga persatuan adalah menjaga kekuatan itu sendiri.

لَا تَصْفِقُ الكَفُّ الوَحِيْدَةُ

4. Wujud Nyata di Lapangan Ummuna Hj. Siti Raihanun untuk HULTAH Madrasah NWDI Ke-91.

Inilah tamparan paling keras untuk keegoisan kita. Satu telapak tangan, sekuat apapun ia memukul udara, sekeras apapun ia berusaha, tidak akan pernah bisa menghasilkan suara tepukan. Ia hanya akan lelah sendiri tanpa hasil. Inilah gambaran orang yang ingin berjuang sendirian, ingin membangun madrasah sendirian, ingin mensukseskan acara besar sendirian. Ia pasti akan gagal, karena sunnatullah kebaikan besar tidak akan pernah lahir dari satu tangan. Peradaban besar Madrasah NWDI ini pun tidak dibangun oleh satu tangan, tapi oleh ribuan tangan-tangan ikhlas para Murid, Abituren dan muhibbin.

Maka sebagai tathbiq atau penerapan nyata dari ibarat ini, teori harus menjadi amal. Cinta kita kepada madrasah tidak cukup hanya diucapkan, tapi harus dibuktikan dengan gotong royong. Oleh karena itu, kami mengundang dan mengajak dengan penuh rasa mawaddah kepada seluruh jamaah, wali santri, Abituren, dan muhibbin Madrasah NWDI yang dinaungi Organisasi Nahdlatul Wathan di manapun berada untuk hadir dalam GOTONG ROYONG AKBAR PEMBUATAN  TETARING UNTUK PENGAJIAN AKBAR HULTAH MADRASAH NWDI KE-91.

Mari kita buktikan bahwa kita bukan _kaffun wahidah_ – satu tangan yang hanya memukul angin. Mari kita menjadi dua telapak tangan yang bertepuk bersama. Mari kita tegakkan pelepah daun kelapa tetaring ini bersama-sama, kita bentangkan tetaring ini bersama-sama, agar Pengajian Akbar HULTAH Madrasah NWDI kita yang ke-91 ini bisa berjalan dengan meriah, tertib, dan penuh berkah. Semoga setiap tetes keringat yang jatuh di lapangan Ummuna Hj. Siti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid menjadi saksi cinta kita kepada perjuangan Maulana Syaikh di hadapan Allah SWT.

والله اعلم وتم علمه

Penulis: Muhammad Taufikkurrahman Al Hizbi QH., S.Pd

Angkatan : 60 MDQH NW Anjani