Teks Do’a:
“Mudah-mudahan Madrasah NWDI beserta seluruh furu’-furu’nya dan NW (Organisasi)-nya sendiri di icanin hidup subur makmur maju membimbing memajukan ummat lahir batin dunia akhirat dalam inayah ridho, inayah taufik, hidayah, maghfiroh Tuhan.”
Sumber: Rekaman Pengajian Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Doa ini beliau baca hampir di setiap penutup pengajian, penutup ijazah kitab, dan peresmian madrasah baru sejak tahun 1930-an hingga wafatnya 1997.
Jika kita melihat secara sepintas, ini hanyalah doa biasa dalam bahasa Melayu campur Sasak. Tapi jika kita bedah secara ilmiah dengan pendekatan Ilmu Balaghah, Sosiologi Dakwah, dan Manajemen Pendidikan Islam, doa ini adalah sebuah MASTER PLAN PERJUANGAN yang sangat sempurna.
5 pilar esensi di dalamnya:
PERTAMA: STRUKTUR KELEMBAGAAN YANG PRESISI “Madrasah NWDI beserta seluruh furu’-furu’nya dan NW Organisasinya sendiri”
Di sini Maulana Syaikh tidak berdoa secara umum “mudah-mudahan Islam maju”. Beliau menyebut institusinya dengan sangat spesifik dan berurutan. Ini menunjukkan kecerdasan manajerial beliau.
1. NWDI Sebagai Al-Ashlu (Induk): NWDI adalah Ummul Madaris, madrasah pertama yang beliau dirikan 22 Agustus 1937 M. bertepatan 15 Jumadil Ula 1356 H. di Pancor. Saat itu hanya sebuah tempat kecil. Tapi dari tempat itulah beliau bermimpi besar. Madrasah NWDI adalah jantungnya.
2. Furu’-furu’nya Sebagai Al-Furu’ (Cabang): Kata “furu'” adalah istilah fiqih yang artinya cabang. Ini visioner sekali. Pada tahun 1937-1940-an, belum ada cabang sama sekali. Tapi beliau sudah berdoa untuk “seluruh furu’-furu’nya”. Artinya, beliau sudah memiliki konsep ekspansi pendidikan sejak awal. Dan terbukti hari ini, furu’ itu sudah mencapai ribuan: dari TK, MI, MTs, MA, Pondok Pesantren, hingga Universitas Nahdlatul Wathan di Mataram dan berbagai daerah di NTB, Bali, Kalimantan, Sulawesi seluruh Indonesia.
3. Nahdlatul Wathan (NW) Organisasi Sebagai An-Nizham (Sistem): Pada tahun 1953, beliau mendirikan Organisasi Nahdlatul Wathan sebagai wadah perjuangan yang lebih luas dari sekadar madrasah. Organisasi ini yang akan menjadi pagar, menjadi pelindung, menjadi kendaraan politik dan sosial bagi madrasah. Dengan menyebut “NW Organisasinya sendiri”, beliau ingin madrasah dan organisasi ini tidak berpisah, saling menopang. Madrasah tanpa organisasi akan lemah, organisasi tanpa madrasah akan kosong.
Jadi, dalam satu kalimat pembuka ini saja, beliau telah meletakkan Teori Kelembagaan yang kokoh: Ada Induk, Ada Cabang, Ada Organisasi Pelindung.
KEDUA: FILSAFAT KETAUHIDAN “di icanin”
Inilah kata yang paling keramat. “Icanin” adalah bahasa Sasak asli, yang jika diterjemahkan ke bahasa Arab artinya “Bi-idznillah” atau “Bi-taufiqillah”. Artinya: “Diberi izin, diberi kesempatan, diberi restu untuk hidup oleh Allah.”
Mengapa beliau tidak menggunakan bahasa Arab “Biidznillah” saja? Mengapa harus bahasa Sasak “icanin”?
Secara sosiologi bahasa, ini menunjukkan 2 hal:
1. Kedekatan dengan Ummat: Beliau ingin doa ini dipahami oleh orang Sasak paling awam sekalipun di pelosok desa. Doa yang membumi.
2. Puncak Tawadhu’ dan Tauhid: Beliau tidak pernah mengklaim bahwa NWDI ini hidup karena kehebatan dirinya. Beliau adalah seorang Wali, seorang Pahlawan Nasional, tapi beliau tetap berkata “di icanin” kalau tidak diizinkan Allah, semua ini tidak akan ada. Ini adalah manifestasi dari potongan ayat di surah Hud ayat 88:
وماتوفيقي الا بالله
“Wa ma tawfiqi illa billah”.
Dan Petunjuk itu hanya Dari Allah SWT.
Beliau meniadakan ke-aku-an dirinya di hadapan Allah. Inilah rahasia keikhlasan yang membuat NW tetap hidup sampai 91 tahun.
KETIGA: INDIKATOR KEBERHASILAN “Hidup Subur Makmur Maju”
Banyak lembaga berdoa “semoga hidup”, tapi Maulana Syaikh merinci, hidup yang seperti apa? Beliau sebutkan 3 indikator kemajuan yang jika kita terjemahkan ke ilmu modern adalah 3 teori pembangunan yang relevan dengan doa ini:
1. Hidup SUBUR: Ini adalah teori pertumbuhan kuantitatif (Growth). Subur itu artinya beranak-pinak, bertunas, tidak mandul. Madrasah harus subur santrinya, subur gurunya, subur alumni-nya, subur wakafnya, subur ekonominya. Lawan dari subur adalah layu dan mati. Beliau tidak ingin Madrasah NWDI hanya menjadi museum sejarah, tapi harus terus melahirkan generasi baru.
2. Hidup MAKMUR: Jika subur itu banyak, makmur itu sejahtera dan berkualitas. Ini adalah teori kesejahteraan (Welfare). Muridnya tidak hanya banyak, tapi makmur ilmunya. Gurunya tidak hanya banyak, tapi makmur hidupnya, tidak miskin. Gedungnya tidak hanya ada, tapi makmur, bagus, layak. Makmur adalah naik kelas dari sekadar hidup.
3. Hidup MAJU: Ini adalah teori progresivitas (Progress). Subur dan Makmur saja tidak cukup jika tidak maju. Maju artinya tidak ketinggalan zaman, tidak kolot, mampu menjawab tantangan zaman. Di tahun 1937, saat banyak madrasah masih buta dengan pelajaran agama, Maulana Syaikh sudah mengajarkan Ilmu agama dari Nol sampai benar benar Ummat semua faham agama Itulah makna Maju. Hari ini, makna Maju itu adalah madrasah NWDI harus menguasai teknologi, digital, dan sains.
Jadi rumusnya: Subur = Bertahan, Makmur = Sejahtera, Maju = Memimpin.
KEEMPAT: ORIENTASI PENGABDIAN — “Membimbing Memajukan Ummat Lahir Batin Dunia Akhirat”
Ini adalah inti dari segalanya, yaitu “Ghayatul Hadaf” (Tujuan Akhir). Untuk apa NWDI harus subur makmur maju? Jawabannya bukan untuk membesarkan nama TGKH. Zainuddin, bukan untuk keluarga, tapi untuk UMMAT.
Dan beliau rincikan tugas terhadap ummat itu ada dua:
1. Membimbing (Fungsi Hidayah): Ini tugas ulama sebagai pewaris nabi. Membimbing agar ummat tidak sesat aqidahnya, tidak rusak akhlaknya, tidak salah ibadahnya. Ini adalah pembangunan batin.
2. Memajukan (Fungsi Islah): Ini tugas pemimpin. Tidak cukup ummat dibimbing agar rajin sholat, tapi juga harus dimajukan ekonominya, pendidikannya, kesehatannya, politiknya. Ummat Islam tidak boleh menjadi ummat yang tertinggal dan menjadi beban.
Dan cakupannya sangat totalitas: Lahir dan Batin, Dunia dan Akhirat. Ini adalah konsep Islam Kaffah. Banyak organisasi hanya fokus dunia saja (LSM pembangunan), atau hanya akhirat saja (jamaah dzikir saja). Tapi Organisasi Nahdlatul Wathan (NW), sesuai doa pendirinya, harus mengurusi keduanya. Mengurusi beras (lahir) dan mengurusi sholat (batin). Mengurusi sawah (dunia) dan mengurusi kubur (akhirat).
KELIMA: KUNCI KEBERLANGSUNGAN METAFISIK — “Dalam Inayah Ridho, Inayah Taufik, Hidayah, Maghfiroh Tuhan”
Ini adalah penutup doa yang menjadi syarat mutlak. Sebesar apapun usaha manusia, jika 4 kunci langit ini tidak diberikan Allah, maka akan gagal.
1. Inayah: Pertolongan yang lembut dan terus-menerus dari Allah. Tanpa inayah, kita akan merasa berat.
2. Ridho: Keridhoan Allah. Jika Allah sudah ridho, maka yang sulit menjadi mudah. Dan ciri ridho Allah adalah dilihat dari ridhonya guru, ridhonya orang tua.
3. Taufik: Kekuatan untuk bisa melakukan kebaikan. Banyak orang tahu Organisasi NW itu baik, tapi tidak semua orang diberi taufik untuk berjuang di dalamnya.
4. Hidayah & Maghfiroh: Agar perjuangan ini tetap di jalan yang lurus dan agar segala dosa dan kekurangan selama berjuang diampuni Allah.
والله اعلم وتم علمه
Penulis: Muhammad Taufikkurrahman Al Hizbi QH., S.Pd.
Angkatan: 60 MDQH NW Anjani
