.ثُمَّ اعْلَمْ يَا أَخِيْ، فَتَحَ اللهُ عَلَيَّ وَعَلَيْكَ أَنِّيْ جَمَعْتُ فِيْ هٰذَا الْحِزْب الْمُبَارَكِ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مَا قَدْ عَمِلْتُ وَجَرَّبْتُ لِنَفْسِيْ غَالِبًا مَا تَلَقَّيْتُهُ مِنْ أَفْوَاهِ مَشَايِخِيَ الصَّالِحِيْنَ. وَمَا جَمَعْتُهُ مِنْ بُطُوْنِ الْكُتُبِ الْمُحَرَّرَةِ الَّتِيْ شَهِدَ بِهَا الْعُلَمَاءُ الْعَامِلُوْنَ، وَمَا فَتَحَ اللهُ بِهِ عَلَى الْعَبْدِ الضَّعِيْفِ حُبًّا لِلْخَيْرِ لَكَ وَلِوَطَنِكَ. وَطَمَعًا فِيْ نَفْعِكَ وَحِرْصًا لِلثَّوَابِ. فَالْعَمَلَ الْعَمَلَ أَيُّهَا السَّعِيْدُ الْمُوَفَّقُ وَالْغَنِيْمَةَ الْغَنِيْمَةَ أَيُّهَا الْمُسْتَفِيْدُ الْمُخْلِصُ. إِيَّاكَ ثُمَّ إِيَّاكَ إِيَّاكَ وَشَيَاطِيْنَ الْإِنْسِ الَّذِيْنَ يُوَسْوِسُوْنَ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ. وَيَصُدُّوْنَهُمْ عَنِ الْعَمَلِ بِالْأَوْرَادِ وَالْأَذْكَارِ كَهٰذَا الْحِزْبِ الْفَرِيْدِ الْمُغْنِيْ لَاسِيَّمَا فِيْ يَوْمِنَا هٰذَا وَفِيْ سَاعَتِنَا هٰذِهِ سَاعَةِ الْفِتَنِ وَالشُّرُوْرِ عَصْرِ الْجُنُوْنِ وَالْغُرُوْرِ عَصْرِ التَّفَانِيْ بِالتَّقَالِيْدِ الْأُوْرُبِّيَّةِ وَالْإِلْحَادِ، عَصْرِ التَّفَاخُرِ بِالْأَمْوَالِ وَالْوَظَائِفِ الرَّسْمِيَّةِ وَالْأَوْلَادِ، وَالذَّاكِرَ الْعَامِلَ فِيْهِ رَمَوْهُ بِالْخُمُوْدِ، وَلَقَّبُوْهُ فِي اصْطِلَاحِهِمْ بِالْجُمُوْدِ. فَإِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ. وَلَا غَرْوَ فَإِنَّهُمْ أَسِيْرُو الْأَهْوَاءِ وَالشَّهَوَاتِ. مَسْحُوْرُوْنَ بِعَوَائِدِ الْغَرْبِ الْخَالِيَاتِ الشَّيْطَانِيَّاتِ. لَيْسَ لَهُمْ حَظٌّ وَلَا نَصِيْبٌ إِلَّا الطَّرْدُ وَالْخِذْلَانُ…
Artinya:
Kemudian ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah membukakan (pintu ilmu dan taufik) atasku dan atasmu, bahwa sesungguhnya aku telah mengumpulkan di dalam Hizib yang diberkahi ini, InsyaAllah Ta’ala, dari apa yang telah aku amalkan dan aku coba untuk diriku sendiri, yang sebagian besarnya adalah apa yang aku terima dari mulut guru-guruku yang shalih. Dan apa yang aku kumpulkan dari isi kitab-kitab yang telah ditahqiq (ditulis dengan teliti) yang telah disaksikan (kebenarannya) oleh para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan dari apa yang telah Allah bukakan kepada hamba yang lemah ini, karena cinta akan kebaikan untukmu dan untuk negerimu, dan karena mengharap manfaat untukmu serta karena semangat mencari pahala.
Maka beramallah, beramallah wahai orang yang berbahagia yang diberi taufik, dan ambillah kesempatan, ambillah kesempatan wahai orang yang ingin mendapat faedah yang ikhlas. Jauhkan dirimu, jauhkan dirimu, jauhkan dirimu dari setan-setan dari golongan manusia yang membisikkan (keraguan) di dalam dada manusia. Dan mereka menghalang-halangi mereka dari mengamalkan wirid-wirid dan dzikir-dzikir seperti Hizib yang unik dan mencukupi ini, apalagi di hari kita ini dan di saat kita ini, yaitu saat penuh fitnah dan keburukan, zaman gila dan tertipu (oleh dunia), zaman fanatik buta terhadap tradisi-tradisi Eropa dan atheisme, zaman berbangga-bangga dengan harta, jabatan-jabatan resmi, dan anak-anak, dan orang yang berdzikir dan beramal di zaman ini mereka lempar dengan tuduhan malas dan lesu, dan mereka juluki dalam istilah mereka dengan sebutan jumud (kaku / ketinggalan zaman). Maka sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kita akan kembali. Dan tidak heran, karena sesungguhnya mereka adalah tawanan hawa nafsu dan syahwat. Tersihir oleh kebiasaan-kebiasaan Barat yang kosong dan bersifat setan. Tidak ada bagian dan tidak ada nasib bagi mereka kecuali terusir (dari rahmat Allah) dan kehinaan.
PENJELASAN KONTEKSTUAL
Nash ini adalah muqaddimah metodologis yang sangat kuat dari seorang muallif yakni Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, pendiri Nahdlatul Wathan. Kita bisa bedah menjadi 5 lapisan:
1. Lapisan Epistemologi: Sumber Ilmu Hizib Ini
Muallif tidak mengatakan hizib ini karangan baru. Beliau menyebut 3 sumber legitimasi keilmuan yang berurutan, ini manhaj ulama muhaqqiqin:
Pertama:
التجريبة الذاتية
At-Tajribah adz-Dzatiyah (Pengalaman Pribadi):
…ماقد عملت وجربت لنفسي…
“…ma qad ‘amiltu wa jarrabtu linafsi…”
Ini bukan teori, tapi amalan yang sudah beliau amalkan dan beliau rasakan sendiri khasiat dan futuhnya. Dalam ilmu tasawuf, tajribah adalah hujjah setelah dalil.
Kedua:
التلقى الشفهى
At-Talaqqi asy-Syafahi (Sanad Lisan):
…ماتلقيته من أفواه مشايخي الصالحين…
“…ma talaqqaituhu min afwahi masyayikhi as-shalihin…”
Ini menunjukkan sanadnya muttasil, tidak mengambil dari buku saja, tapi talaqqi langsung dari mulut ke mulut dari guru-guru yang shalih. Ini menjaga keaslian sanad wirid.
Ketiga:
المراجعة المكتبية
Al-Muraja’ah al-Maktabiyah (Riset Pustaka):
وما جمعته من بطون الكتب المحررة
“…wa ma jama’tuhu min buthunil kutubil muharrarah…”
Beliau juga melakukan tahqiq dari kitab-kitab yang muhararah, kitab yang sudah diedit dan diakui oleh ulama amilin. Artinya ada triangulasi antara amal, sanad guru, dan literatur.
Kemudian beliau tambahkan sumber keempat yaitu
فتح الرباني
Fathur Rabbani:
وما فتح الله به على العبد الضعيف
“…wa ma fatahallahu bihi ‘alal ‘abdidh dha’if…”
Ini adalah adab, mengakui bahwa walau sudah ada 3 sumber, tetap ada futuh ilham dari Allah untuk hamba yang dhaif. Ini adalah wujud tawadhu’ ilmiah.
Motivasinya beliau sebutkan dengan sangat jelas:
…حبا للخير و لوطنك…
“Hubban lil-khair laka wa li-wathanik”
Cinta kebaikan untukmu dan untuk negerimu. Ini sinkron dengan falsafah Nahdlatul Wathan itu sendiri.
2. Lapisan Retorika Dakwah: Dorongan untuk Mengamalkan
Setelah menjelaskan sumber, beliau beralih ke uslub targhib:
…فالعمل عمل والغنيمة الغنيمة…
Fal-‘amala al-‘amala… wal-ghanimata al-ghanimata…
Pengulangan kata al-‘amala dan al-ghanimah adalah uslub ighra’ dalam balaghah Arab, artinya ajakan yang sangat mendesak. Seolah beliau berkata: Jangan ditunda, ini adalah kesempatan emas, ini ghanimah, rampasan perang yang berharga di tengah zaman yang rusak. Beliau memanggil pembacanya dengan dua gelar mulia:
١. السعيد الموفق
As-Sa’id al-Muwaffaq (orang bahagia yang diberi taufiq) dan
٢. المستفيد المخلص
Al-Mustafid al-Mukhlis (orang yang ingin mengambil faedah dengan ikhlas). Ini psikologi dakwah, memuliakan mad’u sebelum memerintah.
3. Lapisan Tahdzir: Peringatan dari Musuh Wirid
Ini bagian inti. Beliau memberikan tahdzir keras:
إياك ثم إياك إياك وشياطن الإنس
Iyyaka tsumma iyyaka iyyaka wa syayathinal insi…
Pengulangan “Iyyaka” 3 kali menunjukkan bahaya yang sangat besar. Siapa musuhnya? Bukan setan jin, tapi “Syayathinul Insi”, manusia yang berlagak setan. Ciri-cirinya beliau jelaskan:
Mereka adalah
يوسوس في صدور الناس
“yuwaswisuna fi shudurin nas” dan
يصدونهم عن العمل بالأوراد والأذكار
“yashudduunahum ‘anil ‘amal bil aurad wal adzkar.”
Pekerjaan mereka membisikkan keraguan dan menghalangi manusia dari wirid. Alasannya apa? Mereka menganggap wirid seperti Hizib Nahdatul Wathan ini tidak relevan lagi.
4. Lapisan Sosiologi: Diagnosis Zaman
Muallif kemudian melakukan tasykhisul ‘asr, mendiagnosa penyakit zamannya yang ternyata sangat relevan sampai hari ini. Beliau menyebut zaman ini dengan 4 istilah:
١. ساعة الفتن والشرور
“Sa’atul fitani wasy syurur” zaman fitnah dan keburukan merajalela.
٢. عصر الجنون والغرور
“Ashrul jununi wal ghurur” zaman gila dan tertipu oleh dunia.
٣. عصر التفاني بالتقاليد الأوروبية والإلحاد
“Ashrut tafani bit taqalidil urubbiyyah wal ilhad”
zaman di mana orang berlomba-lomba fanatik membebek tradisi Eropa dan atheisme, merasa modern jika meninggalkan agama.
٤. عصر التفاخر بالأموال والوظائف الرسمية والأولاد
“Ashrut tafakhur bil amwal wal wazhaifir rasmiyyah wal aulad”
zaman di mana kebanggaan diukur dengan uang, jabatan resmi, dan anak.
Di zaman seperti itu, apa nasib orang yang berdzikir?
رموه بالخمود ولقبه بالجمود.
“Ramauhu bil-khumud wa laqqabuhu bil-jumud.” Mereka dilempari tuduhan sebagai orang yang lesu, tidak produktif, jumud, ketinggalan zaman, tidak maju. Ini adalah stigma sosial yang diciptakan syayathinul insi untuk membuat orang malu berdzikir. Maka beliau mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” sebagai bentuk istirja’ atas musibah agama ini.
5. Lapisan Psikologi Spiritual: Akar Penyakit Mereka
Terakhir, beliau menutup dengan analisis akar masalah. Mengapa mereka membenci wirid?
لا غرو فإنهم أسيروا الأهواء
“La gharwa fa innahum asiru al-ahwa’i wasy syahawat.”
Tidak heran, karena mereka adalah tawanan hawa nafsu dan syahwat.
Mereka itu semua
مسحور بعوائد الغرب الخاليات الشيطانيات
“mashurun bi ‘awaidil gharbil khaliyat asy-syaithaniyat”
tersihir oleh kebiasaan-kebiasaan Barat yang kosong dan bersifat setan. Kosong dari ruh, kosong dari nilai.
Akibatnya,
ليس لهم حظ ولا نصيب الا الطرد والخذلان
“Laisa lahum hazhzun wa la nashibun illath thardu wal khidzlan”
Mereka tidak mendapat bagian kecuali terusir dari rahmat Allah dan kehinaan.
Kesimpulannya di Muzakaroh Bagian 3 ini, nash ini bukan sekedar pengantar hizib Semata. Ini adalah manifesto pertahanan spiritual. Muallif ingin mengatakan: Hizib ini adalah bentengmu di zaman gila ini. Jangan dengarkan orang yang meremehkannya, karena mereka sendiri sedang tertawan dan tersihir.
Penulis: Muhammad Taufikkurrahman Al Hizbi QH., S.Pd.
Angkatan: 60 MDQH NW Anjani.
