نَسْأَلُ اللهَ الْعَظِيْمَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَالْمَوْتَ عَلَى الْإِيْمَانِ. ثُمَّ أَقُوْلُ وَأَنَا الْعَبْدُ الضَّعِيْفُ الْفَانِيْ. رَزَقَنِيَ اللهُ الْكَرِيْمُ وَالْمُحِبِّيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ الْعِلْمَ الرَّبَّانِيَّ: قَدْ أَجَزْتُ قِرَاءَةَ هَذَا الْحِزْبِ كُلَّ مَنْ قَبِلَ الْإِجَازَةَ مِنَ الْإِخْوَانِ الْمُحِبِّيْنَ بِشَرْطِ الْمُدَاوَمَةِ عَلَيْهِ صَبَاحًا وَمَسَاءً إِلَّا فِيْ حَالَةِ الْعُذْرِ مَعَ حُسْنِ الْاِعْتِقَادِ وَتَرْكِ سُوْءِ الظَّنِّ وَالْاِنْتِقَادِ (كَمَا هُوَ دَأْبُ أَئِمَّتِنَا الصَّالِحِيْنَ الْأَخْيَارِ) وَأُوْصِيْهِ أَنْ يَدْعُوَ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَشَايِخِيْ وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيَّ وَتَعَلَّقَ بِيْ فِيْ خَلَوَاتِهِ وَجَلَوَاتِهِ بِالْمَغْفِرَةِ وَحُسْنِ الْخَاتِمَةِ، رَزَقَنِيَ اللهُ وَإِيَّاهُمْ الْحُسْنَى وَزِيَادَةً وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاهُمْ بِهِ النَّفْعَ الْعَمِيْمَ بِجَاهِ الرَّؤُوْفِ الرَّحِيْمِ آمِيْنَ آمِيْنَ يَا إِلَهَ الْعَالَمِيْنَ.
حُرِّرَ فِيْ أَوَاخِرِ سَنَةِ ١٣٦٠ هـ بِمَنْزِلِيْ فِيْ “بَرْمِى” حَرَسَهُ اللهُ آمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Artinya:Kami memohon kepada Allah Yang Maha Agung akan ampunan, kesehatan keselamatan, dan wafat dalam keadaan beriman. Kemudian aku berkata, dan aku adalah hamba yang lemah dan fana. Allah Yang Maha Mulia dan para pecinta yang tulus telah menganugerahkan kepadaku ilmu rabbani: Sungguh aku telah memberikan ijazah untuk membaca hizib ini kepada setiap orang yang menerima ijazah dari kalangan saudara-saudara para pecinta, dengan syarat untuk mendawamkannya / merutinkannya pagi dan sore hari kecuali dalam keadaan berhalangan, disertai dengan baiknya keyakinan dan meninggalkan buruk sangka serta kritikan / celaan [sebagaimana itulah kebiasaan para imam kita yang saleh dan terpilih] dan aku berwasiat kepadanya agar mendoakan aku dan kedua orang tuaku dan guru-guruku dan orang-orang yang mempunyai hak atasku dan yang terkait denganku di dalam kesendirian dan keramaiannya, agar mendapatkan ampunan dan husnul khatimah, semoga Allah menganugerahkan kepadaku dan kepada mereka kebaikan dan tambahannya [melihat wajah Allah] dan memberikan manfaat kepadaku dan kepada mereka dengannya dengan manfaat yang menyeluruh, dengan kemuliaan Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Amin, Amin, Wahai Tuhan semesta alam.
Ditulis pada akhir tahun 1360 H di rumahku di “Bermi” semoga Allah menjaganya, amin, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.
Al Mulahazah.
Teks ini adalah format baku ijazah ulama ahli thariqah dan ahli hizib di era klasik. Sangat padat, mengandung adab sanad yang luar biasa. Kita bedah secara manhaji:
1. Muqaddimah Doa :
نَسْأَلُ اللهَ الْعَظِيْمَ…
Ini bukan sekedar pembuka. Para ulama sufi selalu mendahulukan permohonan 3 perkara pokok sebelum memberi ijazah:`
العفو`:
Diampuni dosa masa lalu.
العافية:
Dijaga dari fitnah dan bala di masa kini.
والموت على الإيمان:
Husnul Khatimah di masa depan.
Ini menunjukkan orientasi ijazah bukan untuk kesaktian duniawi, tapi untuk keselamatan akhirat. Hizib Nahdlatul Wathan adalah wasilah, bukan tujuan.
2. Tauadhu’ Musnid :
وَأَنَا الْعَبْدُ الضَّعِيْفُ الْفَانِيْ
Ini adab pokok pemberi ijazah. Semakin tinggi ilmunya, semakin ia melihat dirinya lemah dan fana. Kalimat
رَزَقَنِيَ اللهُ الْكَرِيْمُ وَالْمُحِبِّيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ الْعِلْمَ الرَّبَّانِيَّ
menegaskan bahwa ilmu rabbani itu bukan hasil usahanya sendiri, melainkan rizki dari Allah Al-Karim dan berkah doa para muhibbin yang mukhlis. Ini menutup pintu ujub dan mengikis klaim kepemilikan ilmu.
3. Matan Ijazah :
قَدْ أَجَزْتُ…
Lafadz قَدْ أَجَزْتُ adalah shighot ijazah yang sharih dan kuat dalam ilmu musthalah hadits.
Objeknya قِرَاءَةَ هَذَا الْحِزْب. Penerimanya bersifat umum
كُلَّ مَنْ قَبِلَ الْإِجَازَةَ مِن الْإِخْوَانِ الْمُحِبِّيْنَ`.
Ini disebut (Ijazah ‘Ammah.) Tidak perlu berjabat tangan langsung, cukup ada qobul / penerimaan dengan mahabbah.
4. Syarat Ijazah : Ada 3 Syarat yang mengikat
a. Syarat Amaliah:
بِشَرْطِ الْمُدَاوَمَةِ عَلَيْهِ صَبَاحًا وَمَسَاءً إِلَّا فِيْ حَالَةِ الْعُذْرِ`.
Hizib bukan bacaan iseng. Kuncinya adalah istiqamah / mudawamah pagi dan sore. Ada rukhshah jika ada udzur syar’i, menunjukkan kelenturan syariat, tidak memberatkan.
b. Syarat Qalbiyah:
مَعَ حُسْنِ الْاِعْتِقَادِ.
Harus yakin bahwa manfaat dan mudharat murni dari Allah, hizib hanya sebagai sebab dan doa.
c. Syarat Adabiyah:
وَتَرْكِ سُوْءِ الظَّنِّ وَالْاِنْتِقَادِ
Ini syarat paling berat. Murid dilarang berburuk sangka dan mengkritisi guru dan sesama pengamal. Kalimat kurung `
(كَمَا هُوَ دَأْبُ أَئِمَّتِنَا الصَّالِحِيْنَ الْأَخْيَارِ)
menegaskan ini bukan aturan baru, tapi manhaj turun-temurun ulama salafus shalih. Barangsiapa berprasangka buruk, hijab hatinya tertutup dan keberkahan hizibnya hilang.
5. Wasiat Ruhiyah :
وَأُوْصِيْهِ أَنْ يَدْعُوَ لِيْ…
Ini inti dari silaturahmi ruhani. Pemberi ijazah tidak meminta mahar uang, tapi meminta doa: Untuk dirinya, kedua orang tuanya, guru-gurunya, dan semua orang yang memiliki hak atasnya. Bahkan secara spesifik diminta doa
فِيْ خَلَوَاتِهِ وَجَلَوَاتِهِ`
di saat sendirian dan di tengah keramaian. Ini adalah rantai doa yang tidak pernah putus. Murid mendoakan guru, guru mendoakan murid. Inilah yang disebut تَعَلَّقَ بِيْ ikatan spiritual.
6. Khatimah dan Konteks Historis
حُرِّرَ فِيْ أَوَاخِرِ سَنَةِ ١٣٦٠ هـ بِمَنْزِلِيْ فِيْ “بَرْمِى”`
Tahun 1360 Hijriah bertepatan dengan akhir tahun 1941 Masehi. Lokasi di Bermi (Desa Bermi, Pancor, Lombok Timur, NTB.) Itulah tempat kelahiran Al-Muallif Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, dan di sanalah di rumah beliau sendiri, pada akhir tahun 1360 H / 1941 M, beliau mengarang dan mengijazahkan Hizib Nahdlatul Wathan tersebut.
lafadz حَرَسَهُ اللهُ setelahnya adalah doa beliau untuk menjaga kampung halamannya itu.
Kesimpulannya, teks ini bukan sekedar izin baca, melainkan akad ruhani yang lengkap: ada doa, ada tawadhu, ada ijazah, ada syarat istiqamah, ada adab husnuzhan, dan ada wasiat doa timbal balik yang puncaknya adalah mengharap الْحُسْنَى وَزِيَادَةً yaitu surga dan kenikmatan melihat wajah Allah, serta النَّفْعَ الْعَمِيْمَ manfaat yang luas dengan berkah Nabi Muhammad SAW.
والله اعلم وتم علمه
Penulis: Muhammad Taufikkurrahman Al Hizbi QH., S.Pd.
Angkatan: 60 MDQH NW Anjani.
