Nash Hadits Shahih:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى.

(HR. Bukhari No. 7280)

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: _”Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan.”_ Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan itu?” Beliau menjawab: _”Barangsiapa yang taat kepadaku maka ia akan masuk surga, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka sungguh ia telah enggan.”_

Hadits ini adalah salah satu hadits paling jujur dan paling menampar kesadaran kita. Hanya satu baris, tapi ia membongkar sebuah rahasia besar tentang psikologi manusia dalam beragama.

BAGIAN PERTAMA: SEBUAH JANJI BESAR – كُلُّ أُمَّتِي

Rasulullah ﷺ memulai dengan kata كُلُّ. Semua. Tidak ada pengecualian.

Ini adalah bentuk kasih sayang Nabi yang luar biasa. Beliau tidak mengatakan “sebagian besar umatku”, “umatku yang sholeh saja”, atau “umatku yang banyak ibadahnya”. Beliau mengatakan “semua umatku.”

Ini menunjukkan bahwa hukum asal dalam dakwah Islam adalah optimisme surga. Allah dan Rasul-Nya itu sangat ingin hamba-Nya masuk surga. Pintu surga itu pada dasarnya memang diciptakan untuk kita semua. Neraka itu bukan tujuan awal penciptaan manusia. Surga-lah tujuan awalnya.

Para ulama hadits menjelaskan, yang dimaksud أُمَّتِي di sini adalah Ummatul Ijabah – yaitu setiap orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, yang telah menerima Muhammad ﷺ sebagai Nabinya. Selama ia masih Islam, maka vonis awalnya adalah: ia berhak masuk surga.

Ini selaras dengan firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاء

_”Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.”_ (QS. An-Nisa: 48)

Artinya, selama tauhidnya masih ada, peluang surga itu masih terbuka sangat lebar.

BAGIAN KEDUA: SEBUAH PENGECUALIAN YANG TIDAK MASUK AKAL – إِلَّا مَنْ أَبَى

Jika bagian pertama membuat kita bahagia dan penuh harapan, maka bagian kedua ini membuat kita terdiam dan berpikir keras: إِلَّا مَنْ أَبَى – Kecuali orang yang enggan.

Kata أَبَى (Aba) ini sangat dalam maknanya. Dalam bahasa Arab, Aba itu bukan sekadar _rafadha_ (menolak karena tidak suka). Aba itu artinya menolak dengan sombong, menolak dengan kesadaran penuh, padahal ia tahu itu baik dan ia mampu melakukannya.

Kata inilah yang dipakai Allah untuk menggambarkan kelakuan Iblis ketika diperintahkan sujud kepada Adam:

أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Iblis enggan dan menyombongkan diri, dan ia termasuk orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

Iblis tahu Adam itu makhluk mulia, Iblis tahu perintah itu dari Allah, tapi ia menolak karena kesombongan. Ia merasa lebih baik.

Maka ketika Nabi ﷺ menggunakan kata yang sama untuk umatnya, beliau seolah ingin mengatakan: Hati-hati, ada di antara umatku yang kelakuannya mirip Iblis. Tahu surga itu baik, tahu jalan ke surga itu ada, tapi ia sombong untuk menempuhnya.

Inilah yang membuat para sahabat kaget dan spontan bertanya:
وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُولَ اللَّهِ؟

Wahai Rasulullah, siapa orang gila yang menolak surga? Siapa orang yang akalnya sehat tapi menolak kebahagiaan abadi?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan fitrah. Karena secara fitrah, setiap jiwa itu pasti ingin surga.

BAGIAN KETIGA: FORMULA TERAKHIR YANG MENJADI CERMIN – مَنْ أَطَاعَنِي

Dan di sinilah Rasulullah ﷺ memberikan jawaban yang menjadi cermin bagi kita semua hingga hari kiamat. Jawaban yang sangat sistematis, tidak berbelit-belit, dan bisa menjadi alat ukur bagi setiap muslim untuk mengukur dirinya sendiri.

مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Barangsiapa taat kepadaku, ia masuk surga. Dan barangsiapa bermaksiat kepadaku, maka dialah orang yang telah enggan itu.”

Nabi ﷺ tidak mendefinisikan orang yang enggan itu sebagai orang yang berteriak “Saya tidak mau masuk surga!”. Tidak ada orang yang seperti itu.

Nabi ﷺ mendefinisikannya dengan perbuatan. Standarnya satu: KETAATAN.

Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam kitabnya Fathul Bari, Syarah Shahih Al-Bukhari, dalam Kitabul I’tisham Bis Sunnah di Bab 2 menjelaskan makna hadits ini dengan sangat indah :

وَقَوْلُهُ: (مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى) أَيْ: مَنْ وَافَقَنِي فِي فِعْلِ مَا أَمَرْتُ بِهِ وَاجْتِنَابِ مَا نَهَيْتُ عَنْهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ خَالَفَنِي فَقَدِ امْتَنَعَ مِنْ دُخُولِهَا، وَإِنْ كَانَ مُظْهِرًا لِطَلَبِهَا بِحُكْمِ إِسْلَامِهِ.

Dan sabdanya: (Barangsiapa taat kepadaku maka ia masuk surga, dan barangsiapa bermaksiat kepadaku maka ia telah enggan) maksudnya adalah: Barangsiapa yang mencocokiku dalam mengerjakan apa yang aku perintahkan dan menjauhi apa yang aku larang, maka ia masuk surga. Dan barangsiapa yang menyelisihiku, maka ia telah menolak untuk masuk ke dalamnya, meskipun secara lahir dengan keislamannya ia menampakkan diri sedang mencari surga.

Mari kita bedah lebih dalam:

1. Apa itu Taat? Taat kepada Rasul bukan hanya sholat dan puasa. Taat itu adalah Ittiba’ Sunnah secara kaffah. Ketika Rasulullah mengajarkan cara berpakaian, kita ikuti. Ketika Rasulullah mengajarkan cara berdagang yang jujur, kita ikuti. Ketika Rasulullah mengajarkan cara menjaga lisan, cara menundukkan pandangan, cara memuliakan tetangga, kita ikuti. Taat itu totalitas.

2. Apa itu Maksiat? Maksiat kepada Rasul adalah ketika kita tahu itu adalah sunnah beliau, tapi kita tinggalkan dengan sengaja, kita anggap remeh, bahkan kita ejek. Contoh kecil: Kita tahu memanjangkan jenggot adalah sunnah, mendahulukan kaki bagian kanan ketika memakai sendal itu adalah sunnah, Minum dengan duduk itu Sunnah, menutup aurat dengan sempurna adalah perintah, tapi kita berkata “Ah, itu kan cuma sunnah, tidak penting.” Kata “tidak penting” itulah hakikat dari أَبَى.

Maka hadits ini adalah cermin yang sangat jujur. Kita tidak perlu menuduh orang lain sebagai penolak surga. Cukup kita lihat diri kita sendiri hari ini.

Ketika adzan berkumandang, apakah kita taat dan segera sholat, atau kita maksiat dengan menundanya? Ketika ada ajakan untuk riba, apakah kita taat dengan menolaknya, atau kita maksiat dengan mengambilnya? Ketika ada perintah menutup aurat, apakah kita taat, atau kita menolaknya dengan alasan mode dan kebebasan?

Setiap ketaatan adalah satu langkah menuju surga yang telah Allah bukakan pintunya. Dan setiap maksiat adalah satu langkah kita menjauh dan menolak undangan surga tersebut.

Pada akhirnya, surga itu tidak pernah menolak kita. Kitalah yang sering menolak surga itu sendiri dengan tangan kita sendiri.

اللهم اجعلنا من الطائعين ولا تجعلنا من الآبين الممتنعين.

والله اعلم وتم علمه

Penulis: Muhammad Taufikkurrahman Al Hizbi QH., S.Pd.
Angkatan: 60 MDQH NW Anjani.