ANJANI — Pengajian Hultah Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) ke-91 yang berlangsung pada Ahad, 11 Oktober 2026, menghadirkan Asy-Syaikh Dr. Muhammad Ahmad Muhammad Yar sebagai pengisi pengajian. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan dua wasiat penting bagi warga Nahdlatul Wathan, yakni menjaga persatuan dan memperkuat ketaatan kepada pemimpin serta para penanggung jawab organisasi.

Wasiat pertama adalah menyatukan hati dan menyatukan perkataan (لَمُّ الشَّمْلِ وَجَمْعُ الْكَلِمَةِ). Beliau mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan dan menghindari perpecahan sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran ayat 103:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”

Mengutip penjelasan para ulama tafsir, beliau menerangkan bahwa hablullah atau tali Allah dimaknai sebagai agama Allah, Al-Qur’an, Islam, dan persatuan umat. Karena itu, beliau berpesan kepada seluruh warga Nahdlatul Wathan agar senantiasa menjaga kebersamaan, menyatukan hati, serta tidak memberikan ruang bagi perselisihan yang dapat merusak persaudaraan.

يَا أَبْنَاءَ نَهْضَةِ الْوَطَنِ، كُونُوا يَدًا وَاحِدَةً وَقَلْبًا وَاحِدًا

“Wahai warga  Nahdlatul Wathan, jadilah satu tangan dan satu hati.”

Beliau juga mengingatkan bahwa warga Nahdlatul Wathan dipersatukan oleh masjid, madrasah, dan guru yang sama. Apabila terdapat perbedaan dalam suatu persoalan, hendaknya dikembalikan kepada para ulama dan berpedoman pada Al-Qur’an serta sunah Rasulullah SAW.

Wasiat kedua adalah kesetiaan dan ketaatan yang tulus kepada pemimpin, pengurus, serta penanggung jawab organisasi (الِالْتِفَافُ الصَّادِقُ حَوْلَ رُؤَسَائِكُمْ وَمَسْؤُولِيكُمْ). Dalam hal ini, beliau mengingatkan pentingnya menjaga kepercayaan dan mengikuti arahan pemimpin dalam perkara yang baik demi keberlangsungan dan kemajuan organisasi.

Beliau mengutip firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa ayat 59:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), serta ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.”

Mengutip penjelasan para mufasir, beliau menyampaikan bahwa ulil amri mencakup pihak-pihak yang memiliki tanggung jawab kepemimpinan, termasuk ulama dan pemimpin. Ketaatan kepada pemimpin merupakan bagian penting dalam menjaga keteraturan dan kemaslahatan bersama, selama tidak bertentangan dengan perintah Allah SWT.

Beliau turut menegaskan bahwa sebuah organisasi membutuhkan kepemimpinan yang dihormati dan dipatuhi dalam perkara yang baik agar dapat berjalan dengan tertib dan mencapai tujuan bersama. Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah SAW:

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang baik.”

Beliau menekankan bahwa para ulama,masyaikh dan pengurus memiliki peran penting dalam menjaga arah perjuangan organisasi. Oleh sebab itu, kesatuan langkah antara pemimpin dan anggota menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan organisasi yang kuat dan berkelanjutan.

Dua wasiat tersebut menjadi pesan penting dalam momentum Hultah Madrasah NWDI ke-91. Persatuan dan ketaatan dalam kebaikan diharapkan tidak hanya menjadi nasihat yang didengar, tetapi juga nilai yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, demi menjaga ukhuwah Islamiyah dan melanjutkan perjuangan Nahdlatul Wathan.