NW ONLINE – LOMBOK TIMUR, Nusa Tenggara Barat – Peringatan Hari Ulang Tahun atau Hultah Ke-91 Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) yang berlangsung pada Ahad, 11 Oktober 2026, di Lapangan Ummuna Hajjah Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid, Kompleks Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin Nahdlatul Wathan, Anjani, Lombok Timur, menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali peran besar lembaga pendidikan, guru, dan santri dalam sejarah perjuangan bangsa.

Di balik perjalanan panjang Madrasah NWDI selama lebih dari sembilan dekade, tersimpan sejarah pengabdian yang tidak hanya berkaitan dengan pengembangan pendidikan Islam, tetapi juga perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejak masa perjuangan kemerdekaan, madrasah dan para guru memiliki kedudukan strategis dalam membangun kesadaran masyarakat. Guru tidak hanya berperan sebagai pendidik yang menyampaikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai agama, tetapi juga menjadi penggerak perjuangan, pembentuk karakter, serta penanam semangat cinta tanah air kepada generasi muda.

Ketua Umum PBNW Tegaskan Tiga Amanah Perjuangan

Dalam momentum Hultah Ke-91 Madrasah NWDI, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW), Maulanasyaih DR. TGKH. Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani, Lc.,M.Pd.I menegaskan tiga amanah utama yang harus terus dijaga dan dilaksanakan oleh seluruh penerus perjuangan Nahdlatul Wathan.

Ketiga amanah tersebut adalah menjaga kemurnian asas perjuangan, melanjutkan perjuangan melalui pendidikan yang bermutu, serta meneguhkan kedaulatan negeri.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa perjuangan Nahdlatul Wathan tidak boleh berhenti pada kegiatan mengenang sejarah, menghormati para pendiri, maupun menyelenggarakan kegiatan seremonial tahunan.

Lebih dari itu, perjuangan harus diterjemahkan melalui langkah nyata untuk memperkuat kualitas lembaga pendidikan, meningkatkan kompetensi guru, membina kader yang berintegritas, serta memperluas pengabdian kepada masyarakat.

Kemurnian asas perjuangan harus dipertahankan sebagai landasan utama, sementara sistem dan metode pendidikan pe rlu terus dikembangkan agar mampu menjawab tantangan perkembangan zaman.

Dengan demikian, lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan diharapkan tidak hanya menghasilkan generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan memiliki akhlak mulia, tetapi juga generasi yang mempunyai kesadaran kebangsaan dan tanggung jawab dalam menjaga keutuhan negeri.

Jejak Perjuangan Guru dan Santri NW Melawan Penjajah

Dalam kesempatan terpisah, Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Wathan, Hj. Lale Yaqutunnafis, M.M., mengingatkan bahwa perjuangan Maulanasyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tidak dapat dipisahkan dari keterlibatan para guru dan santri Nahdlatul Wathan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menurutnya, sejarah mencatat bahwa Maulanasyaikh tidak hanya membangun lembaga pendidikan dan mengembangkan dakwah Islam, tetapi juga menggerakkan semangat perjuangan melawan penjajahan bersama para guru dan santrinya.

Salah satu bukti nyata pengorbanan tersebut adalah gugurnya TGH. Muhammad Faisal Abdul Madjid, adik kandung Maulanasyaikh yang juga merupakan salah seorang guru Nahdlatul Wathan, dalam pertempuran melawan pasukan penjajah Belanda.

TGH. Muhammad Faisal Abdul Madjid gugur bersama dua orang santri madrasah NWDI dalam perjuangan menghadapi pasukan NICA di Selong, Lombok Timur, pada tahun 1946.
Peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa guru dan santri pada masa itu bukan sekadar pelaku pendidikan di ruang kelas. Mereka juga mengambil peran langsung dalam perjuangan bangsa, bahkan rela mempertaruhkan jiwa dan raga demi mempertahankan kemerdekaan.

Sejarah pengorbanan tersebut sekaligus mempertegas bahwa pendidikan, keagamaan, dan semangat kebangsaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari warisan perjuangan Maulanasyaikh.

Hultah sebagai Wujud Syukur dan Penghormatan kepada Guru

Hj. Lale Yaqutunnafis, M.M., juga menekankan pentingnya seluruh guru dan santri memberikan apresiasi yang tinggi kepada Nahdlatul Wathan atas konsistensinya menyelenggarakan peringatan Hultah Madrasah NWDI setiap tahun.

Menurutnya, peringatan ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap jasa besar Maulanasyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, para guru, dan seluruh pejuang yang telah meletakkan dasar pendidikan serta perjuangan Nahdlatul Wathan.

Semangat tersebut perlu diwariskan kepada generasi penerus agar para santri tidak hanya mengetahui sejarah berdirinya madrasah, tetapi juga memahami besarnya pengorbanan para pendahulu dalam memperjuangkan pendidikan, agama, bangsa, dan negara.

Bagi para guru, momentum Hultah juga menjadi pengingat bahwa profesi pendidik memiliki tanggung jawab moral yang besar. Mengajar bukan sekadar menjalankan kewajiban profesi, tetapi merupakan bagian dari pengabdian untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjaga kesinambungan nilai-nilai perjuangan.

Menjaga Warisan, Melanjutkan Perjuangan

Memasuki usia ke-91 tahun, Madrasah NWDI membawa pesan bahwa perjuangan membangun bangsa melalui pendidikan merupakan tanggung jawab lintas generasi.

Jika pada masa lalu para guru dan santri Nahdlatul Wathan berada di garis perjuangan menghadapi penjajahan, maka pada masa kini tantangan tersebut hadir dalam bentuk peningkatan kualitas pendidikan, pembentukan karakter, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta penguatan persatuan bangsa.

Peringatan Hultah Ke-91 Madrasah NWDI di Anjani, Lombok Timur, pada akhirnya menjadi pengingat bahwa sejarah besar tidak cukup hanya dibanggakan, tetapi harus diteruskan melalui karya dan pengabdian nyata.

Sebab, dari ruang-ruang kelas madrasah pernah lahir para pejuang kemerdekaan. Dan dari ruang-ruang kelas yang sama, masa depan bangsa harus terus dibangun. (Irfan-RDA-red)