Di dalam Hikmah Ibnu Athoillah As Sakandari dikatakan:
لِيَقِلَّ مَا تَفْرَحُ بِهِ، يَقِلَّ مَا تَحْزَنُ عَلَيْهِ
Artinya: Saat berkurang apa yang membuat mu bahagia, maka berkurang pula apa yang membuatmu sedih
Jika kita ingin mengurangi kesedihan dalam hidup, maka kurangi pula hal-hal yang menjadi sumber kebahagiaan semu. Karena setiap pintu kebahagiaan yang kita buka untuk dunia, sejatinya kita juga sedang membuka pintu kesedihan yang sama.
Penjelasan Tiga Kata Kunci:
1. تَفْرَحُ بِهِ
(Kebahagiaan Yang Menipu)Kata “tafrahu bihi” bukan kebahagiaan hakiki, melainkan kebahagiaan yang bersifat eksternal dan fana. Inilah kebahagiaan yang ditopang oleh makhluk: bahagia karena banyak harta, bahagia karena dipuji orang, bahagia karena jabatan naik, bahagia karena dicintai manusia.
Para ulama menyebut ini sebagai “farah majazi” kebahagiaan yang menipu. Karena ia datang dari luar diri, sehingga ia tidak pernah benar-benar bisa kita kendalikan. Hari ini ia ada, besok ia bisa hilang tanpa pamit. Dan anehnya, semakin kita mengejar kebahagiaan jenis ini, semakin kita merasa haus dan tidak pernah puas. Kita menambah satu sumber bahagia, tapi tanpa sadar kita juga menambah satu sumber kecemasan baru.
2. تَحْزَنُ عَلَيْهِ
(Kesedihan Yang Pasti Mengikuti) Ini adalah sunnatullah yang tidak bisa dilawan. Setiap “farah”yang fana pasti akan melahirkan “hazan” Ini adalah sepasang yang tidak bisa dipisahkan.
Logikanya sangat sederhana: Jika kita menggantungkan kebahagiaan pada pujian manusia, maka cacian manusia pasti akan menghancurkan. Jika kebahagiaan tergantung pada banyaknya harta, maka berkurangnya harta pasti akan membuat depresi.
Imam Asy-Syafi’i pernah mengatakan: semua yang membuatmu terlalu bahagia, itulah yang akan membuatmu paling terluka saat ia pergi.Maka jangan heran, mengapa orang yang paling banyak sumber bahagianya di dunia, justru menjadi orang yang paling mudah cemas, paling mudah sedih, dan paling mudah kecewa. Karena ia telah membuka terlalu banyak pintu luka bagi hatinya sendiri.
3. لِيَقِلَّ
(Solusinya: Minimalisme Hati) Kata “liyaqilla” adalah inti dari kaidah ini. Artinya adalah hendaklah diperkecil, diminimalkan, disederhanakan.
Ini bukan ajakan untuk menjadi orang yang anti-bahagia atau membenci dunia. Ini adalah ajakan untuk melakukan minimalisme emosional. Sederhanakan hati,jangan buat hati kita bahagia oleh 100 hal yang remeh. Cukupkan kebahagiaan kita hanya pada satu hal yang kekal dan tidak pernah pergi.
Jadikan Allah Swt. sebagai satu-satunya sumber bahagia. Jika Allah menjadi sumber bahagia, maka dunia tidak akan pernah bisa benar-benar menyedihkan. Kenapa? Karena Allah SWT. tidak pernah hilang, Allah SWT. tidak pernah mengecewakan, dan Allah SWT. selalu ada.
Inilah rahasia ketenangan para wali: mereka terlihat memiliki sedikit hal yang membuat mereka bahagia, tapi sejatinya mereka memiliki kebahagiaan yang tidak pernah habis. Karena kebahagiaan mereka hanya satu: Allah SWT. ridha kepada mereka.
Penulis: Muhammad Taufikkurrahman Al Hizbi, QH., S.pd
Angkatan: 60 MDQH NW Anjani
