اِعْلَمْ – نَوَّرَ اللهُ بَصِيرَتِي وَبَصِيرَتَكَ، وَجَعَلَ فِي النَّبِيِّ الْكَرِيمِ حُبِّي وَحُبَّكَ – أَنَّ هَذَا الْحِزْبَ سَمَّيْتُهُ “حِزْبَ نَهْضَةِ الْوَطَنِ” (بِاسْمِ الْمَدْرَسَةِ) تَفَاؤُلًا. فَيَنْبَغِي عَلَى كُلِّ مُنْتَسِبٍ إِلَى هَذِهِ الْمَدْرَسَةِ، بَلْ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ مُشْفِقٍ عَلَى نَفْسِهِ، مُحِبٍّ لِدِينِهِ وَوَطَنِهِ: عَضُّهُ بِالنَّوَاجِذِ، وَجَعَلُهُ وِرْدَهُ صَبَاحًا وَمَسَاءً، حَضَرًا وَسَفَرًا، لَا سِيَّمَا عِنْدَ تَغَيُّرِ الْأَحْوَالِ، وَتَرَادُفِ الْأَهْوَالِ، وَعِنْدَ الْخَوْفِ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ وَالْهَوَامِّ وَالْوُحُوشِ وَغَيْرِهَا؛ فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْفَوَائِدِ مَا لَا تُحْصَى، وَمِنَ الْأَسْرَارِ مَا لَا تُسْتَقْصَى، بِبَرَكَةِ الْآيَاتِ وَالْأَحَادِيثِ وَالْأَسْمَاءِ الَّتِي فِيهِ. فَاعْتَنِ بِهِ أَيُّهَا الطَّالِبُ الْمُحِبُّ، وَاتَّخِذْهُ عَمَلًا صَالِحًا وَوِرْدًا لَازِمًا، وَأَتْحِفْ بِهِ مَنْ تُحِبُّ مِنْ إِخْوَانِكَ الْمُخْلِصِينَ. وَاعْتَقِدْ؛ فَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَبِحُسْنِ الِاعْتِقَادِ يَحْصُلُ الْمُرَادُ مِنْ رَبِّ الْعِبَادِ.
Ketahuilah, semoga Allah menerangi mata hati saya dan mata hatimu, dan semoga Allah menjadikan kecintaanku dan kecintaanmu ada pada Nabi yang mulia, bahwa hizib ini saya namakan Hizib Nahdlatul Wathan (sesuai nama madrasah) sebagai bentuk harapan baik. Maka seharusnya bagi setiap orang yang menjadi bagian dari madrasah ini, bahkan bagi setiap muslim yang sayang pada dirinya sendiri, yang cinta pada agama dan tanah airnya, untuk berpegang teguh pada hizib ini sekuat-kuatnya dan menjadikannya sebagai wirid setiap pagi dan sore, baik ketika di rumah maupun dalam perjalanan, terutama ketika keadaan berubah-ubah, ketika berbagai huru-hara datang bertubi-tubi, dan ketika takut dari gangguan setan dari golongan manusia dan jin, dari binatang berbisa, binatang buas dan selainnya. Karena sesungguhnya hizib ini memiliki manfaat yang tak terhitung dan rahasia yang tak terhingga, dengan keberkahan ayat-ayat, hadis-hadis, dan nama-nama Allah yang ada di dalamnya. Maka perhatikanlah hizib ini dengan sungguh-sungguh wahai santri tercinta, jadikanlah sebagai amal saleh dan wirid yang tetap. Dan hadiahkanlah kepada orang yang engkau cintai dari saudara-saudaramu yang ikhlas. Dan berkeyakinanlah, karena sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan dengan baiknya keyakinan akan tercapai semua yang diinginkan dari Tuhan sekalian hamba.
Dalam isian Narasi Terjemahan ini dapat kita simpulkan dalam beberapa point berikut:
a. Pembukaan dan Doa:
Ketahuilah semoga Allah menerangi mata batin saya dan mata batinmu, dan semoga Allah menjadikan rasa cintaku dan rasa cintamu tertuju kepada Nabi yang mulia
b. Penamaan Hizib:
bahwa hizib ini saya beri nama Hizib Nahdlatul Wathan (sesuai nama madrasah) sebagai bentuk tafaa’ul (mengharap optimisme dan keberkahan).
c. Perintah Berpegang Teguh:
Maka seharusnya bagi setiap orang yang berafiliasi dengan madrasah ini, bahkan bagi setiap muslim yang merasa kasihan terhadap dirinya sendiri, yang mencintai agama dan tanah airnya, untuk menggigit hizib ini dengan gigi geraham (berpegang teguh sekuat-kuatnya).
d. Waktu Pengamalan:
Dan menjadikannya sebagai wirid rutin setiap pagi dan sore, baik ketika sedang mukim (di rumah) maupun ketika sedang dalam perjalanan.
e. Waktu-waktu Khusus yang Ditekankan:
Terlebih lagi ketika keadaan zaman berubah, ketika berbagai huru-hara dan malapetaka datang bertubi-tubi, dan ketika merasa takut dari gangguan setan dari golongan manusia dan jin, dari binatang berbisa, binatang buas dan selainnya.
f. Keutamaan dan Sumber Kekuatan:
Karena sesungguhnya hizib ini memiliki manfaat yang tidak terhitung jumlahnya, dan rahasia-rahasia yang tidak akan pernah habis untuk digali, dengan keberkahan ayat-ayat Al-Qur’an, hadis-hadis Nabi, dan nama-nama Allah (Asmaul Husna) yang ada di dalamnya.
g. Wasiat Pengarang:
Maka perhatikanlah hizib ini dengan penuh perhatian wahai santri yang tercinta, dan jadikanlah ia sebagai amal saleh dan wirid yang wajib (lazim). Hadiahkanlah dan ajarkanlah ia kepada orang yang engkau cintai di antara saudara-saudaramu yang ikhlas. Dan berkeyakinanlah dengan yakin, karena sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan dengan bagusnya keyakinan (husnul i’tiqad) maka akan tercapai segala yang diinginkan dari Tuhan sekalian hamba.
(NARASI KEILMUAN YANG PANJANG)
Pembaca yang Budiman ada 4 poin keilmuan penting dari muqaddimah lanjutan Bagian 2 ini:
1. Sanad Keilmuan Hizib dalam Ahlussunnah wal Jama’ah.
Istilah Hizib bukan hal baru. Imam An-Nawawi punya Hizib An-Nawawi, Imam Abdullah Al-Haddad punya Hizib Al-Haddad, Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili punya Hizbul Bahr. Hizib adalah kumpulan doa-doa ma’tsur. Maulana Syaikh menegaskan kekuatannya
بِبَرَكَةِ الْآيَاتِ
bukan dari khodam atau jimat, tapi murni dari keberkahan Al-Qur’an. Ini yang membedakan hizib ulama dengan mantra dukun.
2. Makna Filosofis
“عضه بالنواجذ”
(Gigit dengan Gigi Geraham).
Ini adalah iqtibas (mengutip) dari Hadis Shahih:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin, gigitlah ia dengan gigi geraham kalian.” (H.R. Abu Dawud & Tirmidzi)
Maulana Syaikh ingin mengatakan: Jangan jadikan hizib ini amalan musiman, tapi pegang seumur hidup sampai mati.
3. Korelasi Agama dan Cinta Tanah Air.
مُحِبٍّ لِدِيْنِهِ وَوَطَنِهِ
Kalimat mencintai agama dan tanah air. Ini adalah ruh perjuangan NW. Hizib ini bukan hanya untuk keselamatan pribadi, tapi untuk menjaga agama dan bangsa. Sesuai kaidah ulama:
حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الْإِيْمَان
Cinta tanah air adalah bagian dari iman.
Barangsiapa yang menjaga wiridnya, maka Allah akan jaga agamanya dan negerinya.
4. Kunci Utama: Husnul I’tiqad.
Penutup muqaddimah ini adalah kunci semua ijazah:
وَبِحُسْنِ الْاِعْتِقَادِ يَحْصُلُ الْمُرَادُ
Artinya wirid tidak akan berfungsi tanpa 2 syarat:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Niat harus karena Allah, bukan untuk pamer kesaktian.
حسن الاعتقاد
Yakin bahwa yang menjaga, yang memberi manfaat dan mudharat hanyalah Allah, bukan tulisan hizibnya. Hizib hanya wasilah doa.
Jika dua ini ada, maka
يَحْصُلُ الْمُرَادُ مِنْ رَبِّ الْعِبَاد
semua hajat akan dikabulkan oleh Allah, Tuhan seluruh hamba.
والله اعلم وتم علمه
Penulis: Muhammad Taufikkurrahman Al Hizbi QH., S.Pd.
Angkatan: 60 MDQH NW Anjani
