“Wanita tetaplah wanita, sekalipun SH dan dokteranda. Wajib berjuang dengan pelita, membela agama nusa dan bangsa” (Syair Wasiat Renungan Masa TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid)

Fragmen yang dikutip dari Wasiat Renungan Masa karya Maulana Syekh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ini menegaskan bahwa perempuan, secara kodrati, memiliki karakteristik dan peran biologis yang berbeda dari laki-laki, baik sebagai anak yang dilahirkan oleh seorang ibu maupun sebagai ibu ketika telah memiliki anak. Namun, dalam aspek peran sosial dan intelektual, Maulana Syekh menegaskan tidak adanya perbedaan yang bersifat subordinatif antara laki-laki dan perempuan. Hal ini tercermin dalam penggambaran perempuan yang dapat memiliki kapasitas intelektual tinggi, bahkan mencapai tingkat sarjana dan doktoranda.

Melalui syair tersebut, Maulana Syekh sekaligus mengingatkan bahwa perempuan memiliki kewajiban untuk mengambil bagian dalam perjuangan membela agama, nusa, dan bangsa, termasuk melalui peran strategis dalam pendidikan dan pembinaan masyarakat. Bagi perempuan yang memiliki ilmu dan pendidikan tinggi, keterlibatan dalam peran tersebut dipandang bukan sekadar pilihan, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.

Pandangan ini menjadi bagian penting dari rekam jejak perjuangan Maulana Syekh dalam memuliakan, mengangkat harkat dan martabat perempuan, serta memperluas ruang partisipasi perempuan dalam kehidupan keagamaan, pendidikan, dan kebangsaan di Indonesia.

TGKH Zainuddin Abdul Madjid, Ulama pendiri organisasi Nahdlatul Wathan yang hingga kini masih eksis sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Nusa Tenggara Barat, adalah salah satu dari sedikit ulama terkemuka di awal abad ke-20 yang sangat memperhatikan kepentingan perempuan, melalui berbagai daya dan upayanya.

Jauh sebelum isu kesetaraan jender atau feminisme berkembang di NTB, Maulana syekh sudah bekerja untuk menempatkan kaum perempuan dalam posisi yang setara dengan pria meskipun dengan tugas yang berbeda.

  Wasiat Maulana Tentang 'Rijalul Ghoib', Bait Wasiat Pilihan

Salah satu bukti bahwa Maulana syekh tidak menjadikan perbedaan jenis kelamin sebagai masalah terlihat pada komitmennya terhadap pendidikan perempuan. Hal ini dibuktikan dengan pendirian Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) pada 21 April 1943. Boleh dibilang, ini merupakan langkah yang revolusioner di tengah masyarakat yang masih menganggap pendidikan perempuan sebagai sesuatu yang tabu dan menyalahi kodrat.

Melalui gagasan besarnya, Maulana Syekh menekankan bahwa keadilan akses pendidikan adalah kunci untuk mengangkat harkat manusia, sehingga perempuan pun memiliki hak yang setara untuk belajar dan berkembang demi kemajuan bangsa.

Biografi singkat TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah putra Sasak yang lahir di Kampung Bermi Pancor Lombok Timur pada tanggal 17 Rabi’ul Awal 1315 H., dari pasangan Abdul Madjid, yang populer dengan sebutan “Guru Mukminah”, dan Hajjah Halimatussa’diyah.

Setelah berguru pada tuan guru-tuan guru di Lombok, beliau melanjutkan pendidikannya di madrasah Ash-Shaulatiyah, Makkah.

Setelah selesai menuntut ilmu di Mekah, Zainuddin kembali ke tanah air atas perintah dari gurunya yang paling ia kagumi, yaitu Syaikh Hasan Muhammad al-Masyyath, pada tahun 1934. Zainuddin langsung melakukan kunjungan dakwah ke berbagai lokasi di pulau Lombok. Sehingga ia terkenal secara luas oleh masyarakat.

Pada perkembangannya TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid kemudian mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) pada tahun 1937 sebagai lembaga pendidikan bagi laki-laki. Dari perjuangan pendidikan inilah kemudian lahir organisasi Nahdlatul Wathan yang berkembang menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di Nusa Tenggara Barat.

  Silsilah Keturunan Ummuna Al-Mujahidah Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid dengan Drs. TGH. Lalu Gede Wiresentane

Selain tekun berjuang di bidang pendidikan, sosial, dan dakwah, TGKH. Zainuddin juga produktif menulis. Sebagian besar karya beliau berupa syair dan nazham-nazham dalam bahasa Arab, Indonesia, dan bahasa lokal Sasak.

TGKH. Zainuddin Abdul Madjid & Gagasan Pendidikan yang Setara Bagi Perempuan
Di masa TGKH. Zainuddin Abdul Madjid, stigma negatif tentang perempuan yang belajar sangat lekat di masyarakat. Menyekolahkan anak perempuan berarti mendidik mereka menjadi wanita karir. Selanjutnya mereka akan berani tampil di depan khalayak dan berlaku kurang sopan.

Masyarakat menganggap bahwa pendirian madrasah untuk perempuan sebagai sesuatu yang tidak wajar dan tentunya menyalahi kodrat perempuan. Pandangan ini tentu disebabkan oleh pengaruh budaya patriarki yang masih melekat kuat dalam tradisi masyarakat Lombok.

Mayoritas yang menganut pandangan seperti ini adalah golongan bangsawan yang terikat dengan adat istiadat dan juga para tuan guru yang memiliki pandangan konservatif.

Namun berbeda dengan TGKH. Zainuddin Abdul Madjid. Beliau berpendangan bahwa harus ada kesetaraan dalam akses pendidikan bagi laki-laki dan perempuan.

Gagasan berkaitan dengan pentingnya pendidikan untuk perempuan ini berangkat dari hadis Nabi, “Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan”.

Sebagai ikhtiar untuk mewujudkan pendidikam yang setara untuk kaum perempuan, TGKH. Zainuddin Abdul Madjid kemudian mendirikan madrasah khusus perempuan yang bernama Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) pada tanggal 21 April 1943 M. Pemilihan tanggal ini seakan menjadi isyarat kuat tentang semangat Kartini di tanah Sasak. Hal ini tentu tanpa perencanaan, karena saat beliau mendirikan NBDI, Indonesia belum merdeka dan pemerintahpun belum menetapkan peringatan hari Kartini.

  Teks Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru (Bait 1 sampai 62)

Maulana syekh membuat sistem pembelajaran dan pelajaran yang berlaku di madrasah ini sama dengan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), madrasah khusus laki-laki yang didirikan pada 22 agustus 1937.

Filosofi “Dwi Tunggal Pantang Tanggal”
Salah satu gagasan Maulana Syekh adalah penyebutan NWDI dan NBDI sebagai “Dwi Tunggal Pantang Tanggal”. Beliau mengibaratkan kedua lembaga ini seperti Adam dan Hawa sebagai dua entitas yang berbeda namun harus berjalan beriringan dan tidak boleh dipisahkan. Menunjukkan pentingnya pendidikan yang setara bagi kaum laki laki dan perempuan.

Maulana syekh dalam beberapa moment juga mencontohkan langsung kepeduliannya pada pendidikam perempuan dengan melatih putri-putrinya, Hj. Siti Rauhun dan Hj. Siti Raihanun, untuk tampil berpidato di depan khalayak. Ini adalah cara beliau menunjukkan pada dunia bahwa perempuan harus berani bersuara dan memiliki kepercayaan diri di ruang publik.

Penutup
Hari ini, ribuan sekolah dari jenjang taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi yang bernaung di bawah bendera Nahdlatul Wathan menjadi saksi bisu keberhasilan visi beliau. Kesetaraan gender yang diperjuangkan Maulana Syekh bukanlah tentang meniru laki-laki sepenuhnya, melainkan tentang keadilan akses.

Beliau mengajarkan kita bahwa memuliakan perempuan berarti memberinya senjata berupa ilmu pengetahuan. Karena dari tangan perempuan berilmulah, akan lahir generasi hebat yang beradab dan islami.
Maulana Syekh telah membuktikan bahwa menjadi religius tidak berarti selalu tertinggal. Pendidikan perempuan adalah kunci, dan beliau telah membukakan pintunya untuk kita semua.

Abdul Malik Salim Rahmatullah, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Mataram, Alumni Universitas Al-Azhar Kairo.

50% LikesVS
50% Dislikes