Hizib Nahdlatul Wathan bukan sekadar deretan doa. Di baliknya, tersimpan peta jalan spiritual yang disusun oleh Al-Magfurulah Maulana Syaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid. Merujuk pada buku Nahdlatul Wathan Refleksi Keislaman, Kebangsaan, dan Keummaatan karya Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi, QH.,SS.,MA., tulisan ini akan mengulas 11 esensi dalam pembukaan Hizib yang menjadi kunci keberkahan bagi para Muntasib (murid).

Pertama: Segala sesuatu dimulai dengan basmalah dilanjutkan dengan hamdalah dan shalawat salam kepada pembawa risalah. Keberkahan sesuatu ditentukan dari bagaimana memulainya. Mulai dengan nawaitu basmalah dan sukses akhir dengan hamdalah maka itulah Al’auna-nasta’iin (pertolongan Allah) sembari terhias dengan karakter tawakkal setelah ikhtiar optimal Kepada Allah.

Kedua: Qola jaami’uhu alfaqir halif alajz wa altaqshir muassisu wa khodimu annahdlatain. Penegesan kejujuran intelektual maulana syaikh sebagai penghimpun, pengumpul, Kolektor, Bukan sebagai penulis, pengarang atau penyusun. penegasan Ini menjadi contoh bagi siapapun untuk menjunjung tinggi etika ilmiah, sekaligus memposisikan diri sebagai manusia yang memiliki kelemahan dan punya keterbasan di hadapan Allah dan mengungkapkan kesyukuran diri sebagai pendiri dan pelayan madrasah NWDI-NBDI dengan keberhasilan itu dihadiahkan untuk pengampunan Allah terhadap diri, kedua orang tua, dan siapapun yang punya andil kebaikan kepada orang tua.

  Nahdlatul Wathan: Berkarya untuk Indonesia Emas 2045

Ketiga: i’lam nawwarallahu bashiraty wa bashiirataka. (bashirah-robbaniyah) didikan yang paling tinggi adalah didikan Mata bathin.Capaian keilmuan yang paling tinggi jika seseorang telah menggapai bashirah. Mata boleh tertutup logika boleh mentok tapi trawangan mata bathin bisa menembus hijab-hijab dinding yang kokoh sekalipun.Maulana mendoa agar kita meraih bashirah robbaniyah itu

Keempat: waja’ala finnabiyil karimi hubby wa hubbak (Mahabbah-nabawiyyah) nubuwwatul hubby. Kecintaan kepada Nabi menjadi tolok ukur ketercapaian darojah nubuwwah yang tershibghoh pada diri yang telah melebur dalam cinta Nabi dan sunnahnya. Maulana mendoa untuk kita agar sampai ke maqom ini.Seperti beliau telah sampai ke maqom cinta nubuwwah sesungguhnya.

Kelima: Hizib dengan simbolisasi makna hizib Nahdlatul Wathan sebagai refleksi akan kesuksesan madrasah NWDI NBDI secara futurilistik. NWDI NBDI akan sukses nanti jika setiap kita yang secara geneologi keilmuan (Muntasib) telah menyambung pipanya dengan maulana mendoa agar musfiqin sayang diri muhibbin cinta agama dan tanah air untuk tetap dalam lingkaran hizib Ini yang dibaca setiap hari dalam kondisi apapun, sebab rahasia dan hikmah yang terkandung dalam hizib ini laa tuhso tak ternilai tak terhitung fadhilah dan manfaatnya berkat ayat dan hadis dan asma’ Allah yang ada di dalamnya.

  Universalitas Risalah Nabi Muhammad: Analisis QS. al-Anbiyā’: 107

Keenam: I’lam ya akhy. Panggilan keakraban sang guru kepada murid. Panggilan kehormatan sesama muslim bersaudara yang tak kenal usia dan strata itulah akhy.

Ketujuh: Alfutuh( fatahallahu). Ilmu adalah tersingkapnya kebodohan hilangnya kejahilan sehingga wujud alfutuh dalam bentuk kealiman diri dan kearifan ilahi berkah alfatih yaitu Allah. Maka mintalah miftah kunci Ilmu itu kepada sang pembawa dan pembuka ilmu pengetahuan.

Kedelapan: maa Qod amiltu wa jarobtu (amaliyah-tajribiyyah) praktikum Dan laboratorium keilmuan. Apa yang dihimpun dalam hizib Ini merupakan kajian empiris logis maulanassyaikh yang berdasar pada intelektual spritualitas beliau yang tak ternafikan hingga saat ini. Memberikan contoh aplikatif lansung bukan sebatas teoritis atau retoris. Tapi contoh dan mencontohkan merupakan metode pendidikan karakter yang bagus dan teruji di saat moralitas anak bangsa terganggu.

Kesembilan: wa maa jama’tuhu minal kutubil muharrarah. Memberikan contoh ilmiah bahwa mengutip dan menulis berbasis buku dan data otoritatif.Inilah logis-profetis ilmiah sang maulana.

Kesepuluh: mimma talaqqaitu min afwaahi masyayikhy. Talaqqy irsyadiyyah: Ilmu dan guru adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Ini menerangkan bahwa jaringan intelektual seseorang tergantung pada luas dan sempitnya jaringan silsilah keguruannya. Ini artinya memperluas jaringan silsilah keguruannya menjadi penting bagi kita.

  Isra’ Mi‘raj antara Simbol Kemuliaan dan Kekeliruan Teologis

Kesebelas: waa maa fatahallahu. Hubungan teosofi transedental hamba tak boleh putus oleh dinamika apapun yang diakibatkan oleh karya nyata yang tersuguhkan kepada ummat.

Hizib ini adalah hadiah terindah bagi ummat nahdhiyyah dan ummat muhammadiyah yang sayang iman dan taqwanya. Ia adalah pipa yang menghubungkan kita dengan samudra keberkahan Maulana Syekh TGKH Zainuddin Abdul Madjid. Marilah kita istiqomah tetap mengamalkannya. Semoga barokah dan bermanfaat

Sumber: Diringkas dari buku Nahdlatul Wathan Refleksi Keislaman, Kebangsaan, dan Keummaatan karya Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi, QH.,SS.,MA

50% LikesVS
50% Dislikes