Dalam sanad keilmuan warga Nahdlatul Wathan, nama Syekh Hasan bin Muhammad Al-Masyath menempati posisi yang sangat istimewa. Beliau bukan sekadar guru, melainkan poros intelektual yang memberikan restu dan bimbingan spiritual kepada Pendiri NW, Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid.

Dijuluki sebagai Syaikhul Ulama (Gurunya para Ulama), beliau adalah mercusuar ilmu dari Tanah Suci Makkah yang pengaruhnya merambah hingga ke pelosok Nusantara.

Kelahiran dan Perjalanan Intelektual

Beliau memiliki nama lengkap Syekh Hasan bin Muhammad bin Abbas bin Ali bin Abdul Wahid al-Masyath al-Makki. Lahir di kota suci Makkah Mukarramah pada 3 Syawal 1317 H.

Beliau lahir dari keluarga Al-Masyath, sebuah klan ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah yang telah melahirkan banyak pemikir hebat seperti Syekh Abdul Qadir Al-Masyath dan Syekh Ahmad Al-Masyath. Sejak dini, Syekh Hasan dididik langsung oleh ayahandanya, Sayyid Muhammad Masyath, yang menanamkan fondasi kecintaan luar biasa terhadap ilmu pengetahuan.

Sebelum mengembara menuntut ilmu di berbagai majelis para ulama, Syekh Hasan memulai perjalanan ilmiahnya dengan berguru langsung kepada ayahandanya sendiri, Sayyid Muhammad Masyath. Semangat dan perhatian orang tua beliau inilah yang mengantarkannya menjadi salah seorang ulama besar pada zamannya.

Syekh Hasan kemudian melanjutkan pencarian ilmunya ke Madrasah Shaulatiyyah pada tahun 1329 H/1911 M untuk mendalami ilmu agama serta berkhidmah kepada guru dan ulama setempat. Selama di sana, beliau fokus mempelajari berbagai macam ilmu, seperti fikih, hadits, ulumul hadits, tafsir, dan sebagainya.

Salah satu kelebihan Syekh Hasan saat belajar di sana adalah kemampuannya dalam menghafal semua matan yang dipelajari di luar kepala. Hal ini kemudian menjadikan para guru di Madrasah Shaulatiyyah mempercayainya sebagai asisten dan ditugaskan untuk mengajar murid-murid yang lain ketika ada guru yang bersangkutan sedang berhalangan.

Meski terhitung lama di Madrasah Shaulatiyyah, namun Syekh Hasan tak sedikit pun merasa puas. Sehingga akhirnya beliau melanjutkan pendidikannya ke negara Sudan pada tahun 1364 H/1945 M guna memenuhi panggilan Syekh Ali Mairgini. Di sana, Syekh Hasan belajar sembari mengambil sanad serta ijazah ilmu dari para ulama besar Sudan selama 5 bulan.

  Perempuan, Naskah Kuno, dan Perlawanan Sunyi: Jejak Intelektual Siti Maryam dari Bima

Merasa kurang puas belajar di Sudan, Syekh Hasan melanjutkan studinya ke Mesir. Di sana, beliau mengambil ilmu dari para ulama, diantaranya: Syekh Imam Zahid Al-Kautsari (seorang pemimpin ulama Dinasti Utsmaniyyah yang bergelar Imam Asy’ari pada zaman akhir karena saking luas ilmu pengetahuannya), Syekh Salamah Al-Quda’i, Syekh Muhammad Al-Khadr, dan Syekh Musthafa Hamami.

Setelah di Mesir, Syekh Hasan melanjutkan studinya ke Syam (Suriah) dan Lebanon. Saat di Suriah, beliau bertemu sekaligus bertabaruk dan mengambil sanad dari Syekh Abdul Aziz Uyun Assud (Mufti Hamas Suriah). Selain itu, Syekh Hasan juga berguru kepada Syekh Shaleh Al-Farfur, Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah (pengarang kitab Qimatuz Zaman), dan para ulama besar Suriah lainnya.

Saat di Lebanon, Syekh Hasan bertabaruk dan mengambil sanad kepada Syekh Muhammad Al-‘Arabi Al-Azuzi (seorang mufti agung Beirut). Setelah mengembara dari Syiria dan Lebanon ini, beliau kemudian Kembali lagi ke Mesir dan menetap selama kurang lebih satu bulan. Setelah itu, akhirnya beliau Kembali lagi ke tanah kelahirannya, yakni Mekah dengan membawa bekal keilmuan yang telah didapatkan.

Genealogi Keilmuan Syekh Hasan Masyath

Seperti kebanyakan ulama lainnya, Syekh Hasan Masyath juga mempunyai guru yang sangat banyak. Beliau meriwayatkan dan mengambil sanad dari para ulama besar di zamannya. Adapun sanad ‘ali (tinggi) beliau dapatkan dari beberapa ulama sepuh, seperti Syekh al-Bajuri dan Sayyid Ahmad Zaini Dahlan.

Sedangkan untuk sanad nazil (rendah), beliau dapatkan dari ratusan ulama, dan 53 diantaranya disebutkan dalam kitabnya yang berjudul, at-Tsabat al-Kabir & al-Irsyad bi Dzikri Ba’dhi ma li minal Ijazah wal Isnad. Di antara para guru beliau adalah sebagai berikut:

  Ustadz Lalu Bukran: Perintis Emansipasi Perempuan dan Transformasi Pendidikan Islam di Lombok Tengah

Sayyid Abdurrahman Ad-Dahhan
Sayyid Abdul Hay Al-Kittani
Sayyid Muhammad Hasyim Al-Fuuti
Sayyid Hamdan Al-Wanisi
Sayyid Jamal Al-Maliki
Sayyid Ali Al-Mirghani
Sayyid Al-Fatih Qaribullah
Sayyid Muhammad Zahid Al-Kautsari
Sayyid Salamah Al-Qudhai
Sayyid Abdul Aziz ‘Uyun
Syekh Abdul Fatah Abu Ghuddah

Murid-Murid Syekh Hasan Masyath dan Rantai Transmisi Keilmuan

Syekh Hasan Masyath mempunyai julukan Syaikhul ‘Ulama (gurunya para ulama). Sebagaimana julukannya, beliau berhasil mencetak ulama-ulama besar di berbagai belahan dunia. Selain Maulana Syekh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid berberapa murid beliau yang paling terkenal keilmuannya adalah sebagai berikut:

Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki (ulama pakar hadis yang fatwa-fatwanya banyak menjadi rujukan), Syekh Yasin bin Isa Al-Fadani (ulama Indonesia yang dijuluki Musnidul ‘Ashri atau pemegang sanad keilmuan pada masanya).

Karya Syekh Hasan Masyath

Syekh Hasan Masyath termasuk ulama yang sangat produktif dalam menelorkan karya tulis ilmiah. Tercatat banyak kitab yang beliau susun dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan mulai dari fiqih, hadits, ulumul hadits, ilmu sanad, syarah, ta’liq, dan lainnya. Berikut adalah beberapa karya beliau yang terkenal:

Al-Jawahir Ats-Tsaminah min Adillati ‘Alimil Madinah, kitab tentang ilmu Usul Fiqh mazhab Maliki, (1341 H).
Inaratud Duja fi Maghazi Khairil Wara, kitab syarah dari kitab Mandzumatul Maghazi yang dikarang oleh Imam Ahmad bin Muhammad Al-Badawi As-Sinqithi, (1360 H).
Raful Astar ‘an Mahyal Mukhaddarattal’ah al-Anwar, kitab tentang ilmu Musthalahul Hadits, (1349 H)
At-Taqrirat Ats-Tsaniyyah fi Syarhi Mandzumatil Baiquniyyah, kitab tentang ilmu Musthalahul Hadits, (1350 H.)
At-Tuhfat As-Saniyyah fi Ahwalil Warithah Arba’iniyyah, kitab tentang ilmu Faraidh, (1346 H). kitab ini menjadi cikal bakal lahirnya kitab nadzam Nahdatuz Zainiyyah dan syarahnya Tuhfatul Ampenaniyyah yang dikarang oleh Syekh Zainuddin Abdul Majid .
Is’afu Ahlil Iman bi Wadzaifi Syahri Ramadhan, (1355 H).
Is’afu Ahlil Islam bi Wadzaifil Haji ila Baitil Haram, (1379 H).
Al-Bahjatus Saniyyah fi Syarhil Kharidah, kitab syarah nadzam Imam Dardiry dalam ilmu Tauhid, (1386 H).
Al-Arba’una Haditsan fi Abwabin Syatta fit Targhib wat Tarhib, kitab kumpulan 40 Hadits yang menjelaskan tentang balasan bagi orang yang berbuat baik dan dosa, (1397 H).
Nasaihud Diniyyah wa Washaya Hammah, kumpulan nasehat-nasehat beliau, (1398 H).
Bugyatul Musytarsyidin fi Tarjimati Aimmatil Mujtahidin, kumpulan sejarah dan biografi empat Imam mazhab, (1383 H).
Al-Hudud Al-Bahiyyah fi Qawa’idil Manthiqiyyah.
Al-Irsyad Bi Dzikri Ba’dhi maa lii Minal Ijazati wal Isnad, kumpulan sanad dan ijazah beliau dari guru-gurunya, (1370 H). Setelah itu, disusun dan ditambah lagi beberapa sanad dan biografi guru-gurunya dengan judul Al-Atsbat Al-Kabir.
Ta’liqot Asy-Syarifah al Lubbil Usul, kitab ini membahas ilmu Usul Fiqh.

  Silsilah Keturunan Ummuna Al-Mujahidah Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid dengan Drs. TGH. Lalu Gede Wiresentane

Wafatnya Syekh Hasan Masyath

Di akhir hayatnya, Syekh Hasan mempunyai keinginan besar ingin membangun masjid di samping rumahnya sebagai tempat ibadah sekaligus tempat belajar Al-Qur’an di sekitar rumahnya. Dan pada tepat tahun 1367 H, masjid tersebut sudah bisa digunakan untuk melaksanakan shalat dan kegiatan belajar mengajar.

Kegiatan tersebut terus berlanjut sampai pada suatu ketika beliau mendadak sakit sehingga segera di larikan ke rumah sakit Ahmad Zahir. Menurut keterangan dokter, Syekh Hasan terserang penyakit yang merusak bagian saraf pada otaknya. Keadaan tersebut terus berlanjut dan membuat murid-muridnya tidak bisa menjenguk beliau kecuali beberapa orang terdekatnya. Hingga tepat pada hari Rabu, 7 Syawwal 1399 H beliau wafat. Dan di makamkan di perkuburan Ma’la. Wallahu a’lam

Abdul Malik Salim RahmatullahMahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Mataram, Alumni Universitas Al-Azhar Kairo.

50% LikesVS
50% Dislikes