Penulis : Silvia Kusumadewi, Mahasiswa Pascasarjana, Universitas Islam Negeri Mataram
Dalam sebuah foto lawas yang penuh karisma, tampak seorang sosok bersahaja dengan ciri sarung merahnya. Ia berdiri bersama para masyaikh, termasuk gurunya selama di Pancor Maulana Syeikh TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid dan sang kakak, TGH. Lalu Muhammad Faisal. Sosok itu adalah Ustaz Lalu Bukran, seorang putra asli Kampung Perbawe, Praya yang mendobrak kemapanan tradisi demi mengangkat derajat kaum perempuan di Lombok Tengah.
Biografi Singkat Ustdz Lalu Bukran
Ustdz Lalu Bukran dilahirkan di Kampung Perbawe, Praya, pada tanggal 17 Oktober 1926 (Rabiul Akhir 1345 H). Ia adalah anak ketiga dari pasangan Haji Lalu Abdul Hanan dan Baiq Fatmawati, sebuah keluarga yang sangat religius dan berkomitmen sebagai pengajar Al-Quran. Dari segi garis keturunan, ia adalah bangsawan tinggi Praya, tepatnya generasi ke-12 dari Raden Arya Banjar Getas, Raja yang pernah memerintah Lombok pada zamannya. Sebagai adik kandung dari tokoh kharismatik TGH. Lalu Muhammad Faisal, Ustaz Lalu Bukran membawa warisan kepemimpinan aristokrat yang dipadukan dengan kedalaman pengetahuan agama.
Akar intelektualnya mulai dibentuk sejak kecil melalui pendidikan bersama kakaknya. Sekitar tahun 1937, Ustaz Lalu Bukran menempuh pendidikan di Madrasah Al-Iktiar al Islamiyah Amnan Lombok Barat, kemudian melanjutkan pencarian intelektualnya di Nahdatul Wathan diniyah Islamiyah Pancor pada dekade 1940-an.
Terdapat perbedaan yang signifikan dalam jalur pengabdian di antara Ustdz Lalu Bukran dan kakaknya. Sementara kakaknya, TGH Lalu Muhammad Faisal, melanjutkan pendidikan tinggi ke Madrasah Ash-Shaulatiyah di Makkah, Ustaz Lalu Bukran memilih untuk tetap bertahan dikampung halamannya.
Ustdz Lalu Bukran secara sadar memilih untuk berkonsentrasi dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk menyelenggarakan proses pendidikan keagamaan bagi perempuan di daerahnya. Pilihan ini lahir dari pengamatannya terhadap kurangnya akses pendidikan bagi kaum perempuan di Lombok Tengah saat itu.
Keunikan figur Ustaz Lalu Bukran terletak pada keberaniannya untuk tidak mengejar gelar akademis demi melakukan aksi nyata dalam menjembatani teks-teks klasik (kitab kuning) dengan realitas sosial perempuan Lombok Tengah khususnya di Praya saat itu. Berkat pengabdian dan sumbangsihnya yang terfokus ini, ia kini tidak hanya dikenal sebagai pendidik, tetapi juga sebagai rujukan dalam penyelesaian sengketa keluarga dan pelopor emansipasi yang inklusif.
Puncak dari pengabdian sosial-keagamaannya terwujud melalui pendirian Pondok Pesantren Sa’adatul Banat. Sebagaimana dikonfirmasi oleh putra sulung sekaligus penerusnya, Drs. H. Lalu Sukarno Bukran, pendirian Pondok ini bukan hanya untuk membangun gedung, melainkan upaya melanjutkan estafet perjuangan nilai-nilai keislaman yang moderat. Ia menekankan bahwa sang ayah selalu berpesan agar pesantren tetap menjadi rumah bagi perempuan untuk menemukan jati dirinya sebagai pendidik pertama dalam keluarga (al-ummu madrasatul ula).
Menariknya Identitas lokal dan pembentukan karakter menjadi ruh di Sa’adatul Banat. Hal ini dirasakan langsung oleh ustazah Masitah, seorang alumni yang dahulu pernah mengabdi sebagai pengajar di pesantren tersebut. Ia memberikan kesaksian bahwa Ustaz Lalu Bukran adalah sosok yang sangat disiplin namun lembut dalam mendidik. Menurut masitah Ustdz Lalu Bukran tidak hanya menyuruh santriwatinya berbahasa Sasak halus, tetapi ia sendiri adalah teladan nyata bagaimana adab seorang bangsawan bertemu dengan ketawadhuan seorang ulama. Menurutnya pengajaran Kitab Kuning bagi santriwati memberikan kepercayaan diri bagi para alumni untuk berkiprah di masyarakat dengan otoritas keagamaan yang mumpuni.
Setelah menjalani masa pengabdian yang panjang bagi masyarakat dan dunia pendidikan, ia wafat pada 17 Februari 1992 dan dimakamkan keesokan harinya di tanah kelahirannya di Perbawa Praya,
Pemikiran dan Kontribusinya terhadap kesetaraaan Gender
Kontribusi Ustaz Lalu Bukran dalam peta dakwah di Lombok terletak pada pendirian Pondok Pesantren Sa’adatul Banat. Di masa penjajahan, ketika akses pendidikan bagi perempuan sangat terbatas, ia mengambil langkah progresif dengan mendirikan pondok yang secara khusus menampung kaum perempuan untuk belajar. Perjuangan ini tercermin dalam beberapa aspek fundamental berikut:
Pertama, Salah satu terobosan paling progresif yang dilakukannya adalah mengajarkan kitab kuning kepada santriwati. Di masa itu, literatur klasik dianggap sebagai dominasi kaum laki-laki. Ustaz Lalu Bukran mendobrak stigma tersebut, meyakini bahwa perempuan harus memiliki otoritas keagamaan yang mumpuni agar bisa menjadi al-ummu madrasatul ula (ibu sebagai sekolah pertama).
Ia juga memperkenalkan konsep “Kerbung”, sebuah istilah lokal yang secara filosofis bermakna wadah pelindung sekaligus tempat menempa diri. Melalui Sa’adatul Banat, lahir generasi tangguh yang kini menjadi tulang punggung Muslimat dan Fatayat di berbagai penjuru Lombok.
Ustaz Lalu Bukran meyakini bahwa kesetaraan sejati dimulai dari pendidikan. Dengan memberikan ruang khusus anak perempuan (banat), ia menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan untuk mengasah intelektualitas tanpa kehilangan identitas religiusnya.
Manifestasi pemikirannya mengenai gender tidak hanya berhenti pada retorika, melainkan diwujudkan secara konkret melalui operasionalisasi Pondok Pesantren Sa’adatul Banat Diniyah Islamiyah Perbawa. Secara semantik, pemilihan nama “Sa’adatul Banat” yang berarti kebahagiaan anak-anak perempuan mengandung pesan ideologis yang kuat tentang pemuliaan martabat perempuan. Dalam kacamata Hukum Keluarga Islam, langkah ini merupakan pengejawantahan dari konsep maslahah mursalah.
Landasan ini berpijak pada pengamatan Ustdz Lalu Bukran bahwa ketiadaan akses pendidikan bagi perempuan di Praya pada masa itu adalah sebuah kemudaratan (bahaya) yang nyata. Oleh karena itu, mendirikan sekolah perempuan pertama bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan sebuah tindakan hukum (tasharruf) yang diambil demi mencapai kemaslahatan umum (al-maslahah al-‘ammah). Dengan mengangkat derajat intelektual perempuan, ia secara sistematis sedang menegakkan pilar Hak Asasi Manusia (HAM), yakni hak atas pendidikan dan hak untuk menentukan masa depan tanpa paksaan pernikahan dini. Hal ini sejalan dengan spirit firman Allah SWT dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”
Lebih dari sekadar institusi pendidikan, Pondok Pesantren Sa’adatul Banat juga berperan strategis sebagai rahim intelektual bagi pergerakan perempuan di Lombok Tengah. Melalui kurikulum yang berbasis pada penguatan otoritas keagamaan, pondok ini menjadi cikal bakal lahirnya generasi wanita Nahdlatul Ulama (NU) yang mumpuni. Hal ini terbukti dengan banyaknya alumni Sa’adatul Banat yang kemudian berkiprah aktif dan menjadi tulang punggung kepengurusan organisasi Muslimat dan Fatayat di berbagai tingkatan. Keberhasilan ini menegaskan bahwa visi Ustaz Lalu Bukran melampaui zamannya, ia tidak hanya mencetak wanita yang cerdas secara individual, tetapi juga menyiapkan kader-kader pemimpin publik yang mampu menggerakkan roda organisasi sosial-keagamaan demi kemaslahatan umat.
Dedikasinya pun meluas melampaui dinding pesantren. Ustaz Lalu Bukran aktif menjalankan dakwah safari ke berbagai pelosok, khususnya di wilayah Lombok Tengah hingga ke Kota Mataram di daerah Gomong Lama. Kehadirannya di tengah masyarakat perkotaan menunjukkan bahwa pesan keagamaannya diterima lintas wilayah dan lapisan sosial. Kesetiaan Ustd Lalu Bukran dalam berdakwah ini diabadikan secara mendalam dalam ingatan H. Murad, seorang kiai kampung dari Gabak, Desa Batujai, yang sering mengiringi perjalanan dakwahnya. H. Murad dan H Nadir menceritakan bahwa dalam setiap perjalanan, Ustaz Lalu Bukran selalu mengutamakan kemaslahatan umat di atas kepentingan pribadi. “Ustdz Lalu Bukran sering kali tidak menerima atau menolak pemberian yang dirasa berlebihan dari tuan rumah, apalagi jika itu berbau politik,” kenang H. Murad dan H. Nadir. Sikap ini mempertegas prinsipnya mengenai independensi politik dan sifat wara’ dalam menjaga kemurnian dakwah agar tidak terkontaminasi oleh kepentingan pragmatis.
Konteks Pemikiran: Dialektika Sosiopolitik dan Kultural
Pemikiran Ustaz Lalu Bukran tentu tidaklah lahir dari ruang hampa, melainkan muncul sebagai respons atas dinamika sosial di Lombok yang tengah berada pada masa peralihan dari era penjajahan menuju kemerdekaan. Dalam konstelasi ini, ia memainkan peran ganda yang sangat strategis melalui beberapa dimensi utama;
Pertama, transformask gelar kebangsawanan. Sebagai keturunan bangsawan Praya, ia secara sadar melakukan dekonstruksi terhadap nilai feodalisme. Alih-alih mempertahankan privilese aristokrasinya, ia justru mengubah paradigma “kebangsawanan darah” menjadi “kebangsawanan intelektual”. Pengaruh aristokrat yang dimilikinya dikonversi menjadi modal sosial untuk menggerakkan massa agar lebih peduli pada pendidikan daripada sekadar melestarikan kasta.
Kedua, Independensi dan Integritas Politik. Di samping pembaharuan pendidikan, Ustdz Lalu Bukran memiliki prinsip teguh dalam menjaga jarak dari politik praktis guna menjaga kemurnian dakwah. Ia secara konsisten menolak keterlibatan dalam aktivitas partai politik dan tidak menerima sumbangan dalam bentuk apa pun, baik untuk kepentingan pribadi maupun pengembangan pesantren. Hal ini ditegaskan secara mendalam oleh putrinya, Baiq Hannah, S.Pd., yang menyaksikan langsung bagaimana sang ayah menjaga marwah keluarga dan pesantren. Ia menyatakan bahwa Ustaz Lalu Bukran sama sekali tidak mau menerima sumbangan dalam bentuk apa pun, terlebih jika donasi tersebut dari pemerintah. Sikap ini berakar pada tiga prinsip utama: (1) Penyucian Niat (Ikhlas), memastikan pembangunan lahir dari swadaya masyarakat; (2) Otoritas Keagamaan yang Independen, menjaga posisi tawar dalam memberikan nasihat hukum tanpa intervensi pihak luar; serta (3) Implementasi Kehati-hatian (Wara’), menghindari syubhat yang sering kali menyertai dana politik.
Ketiga, Resistensi Melalui Pendidikan. Bagi Ustdz Lalu Bukran, pendirian pondok di tengah tekanan penjajah merupakan manifestasi perlawanan kultural yang nyata. Ia meyakini bahwa dengan mencerdaskan masyarakat, terutama kaum perempuan sama saja dengan membangun fondasi bangsa yang kokoh untuk merdeka dari kolonialisme fisik maupun belenggu kebodohan.
Keempat, Penjagaan stabilitas sosial. Sinergi antara Ustdz Lalu Bukran dan kakaknya, TGH Lalu Muhammad Faisal, menjadi pilar utama stabilitas sosio-keagamaan di Praya. Melalui kedekatan emosional dengan masyarakat, mereka berhasil mengintegrasikan nilai-nilai adat Sasak dengan syariat Islam secara harmonis.
Lebih jauh lagi, analisis terhadap pemikirannya menunjukkan adanya upaya serius dalam melakukan harmonisasi antara fikih nas (teks) dengan fikih waqi’ (konteks kontemporer) . Di tengah kuatnya arus patriarki di Lombok Tengah, kehadiran Sa’adatul Banat muncul sebagai counter-hegemoni yang efektif terhadap praktik yang merugikan perempuan. Upaya ini dapat dilihat melalui dua sudut pandang:
Pertama, perspektif maslahah. Ustdz Lalu Bukran memandang kebahagiaan perempuan (sa’adah) sebagai kunci stabilitas keluarga. Dalam logikanya, perempuan yang terdidik akan memaksimalkan esensi hifz an-nasl (menjaga keturunan) dalam Maqasid asy-Syari’ah, karena generasi masa depan akan dibesarkan oleh ibu yang matang secara intelektual.
Kedua, transformasi kultural. Melalui Ponpes Nahdlatul Banat, ia secara perlahan menggeser paradigma masyarakat dari dogma “perempuan hanya di dapur” menjadi “perempuan sebagai pilar peradaban”. Secara esensial, ini merupakan bentuk penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) yang bersifat organik, sebuah perubahan yang lahir dari rahim tradisi Islam sehingga diterima baik oleh masyarakat lokal.
Kesimpulan
Gagasan Ustaz Lalu Bukran mencerminkan bahwa ia adalah figur ulama pembaharu yang berhasil mengintegrasikan intelektualitas Islam dengan kearifan lokal Sasak di Lombok Tengah. Intisari dari kiprah dan pemikirannya meliputi perannya sebagai pionir emansipasi perempuan melalui pendirian Pondok Pesantren Sa’adatul Banat, ia mendobrak hambatan akses pendidikan bagi perempuan dan memberikan mereka otoritas keagamaan melalui literasi Kitab Kuning.
Ustdz Lalu Bukran juga mengubah paradigma “kebangsawanan darah” menjadi “kebangsawanan intelektual” serta menjaga independensi dakwah dengan menolak keras segala bentuk keterlibatan atau sumbangan dari politik praktis.
Pemikirannya merupakan pengejawantahan dari maslahah mursalah, di mana pendidikan perempuan dipandang sebagai kunci keberhasilan hifz an-nasl (menjaga keturunan) dan fondasi peradaban yang kokoh. ia mewajibkan penggunaan bahasa Sasak halus di lingkungan pesantren sebagai sarana pembentukan akhlaqul karimah dan pelestarian identitas luhur masyarakat.
Perjuangan Ustaz Lalu Bukran adalah bentuk penegakan HAM yang organik, yang lahir dari rahim tradisi Islam untuk menjawab kemudaratan sosial pada zamannya.
