NW ONLINE, YOGYAKARTA — Di tengah biaya pendidikan yang terus meningkat dan semakin sempitnya lapangan pekerjaan bagi lulusan perguruan tinggi, sebuah gagasan berbeda lahir dari Yogyakarta. Seorang pendidik muda, Ahmad Ali Adhim, mendirikan sebuah pesantren gratis bagi mahasiswa (Pesantren Vokasi Dawuh Guru) dengan konsep yang tidak biasa. Santri tidak hanya belajar Al-Qur’an dan kitab kuning, tetapi juga dilatih berpikir kritis, melakukan riset, menguasai Artificial Intelligence (AI), hingga membangun sumber penghasilan dari keterampilan digital.
Bagi Ahmad Ali Adhim, pendidikan berkualitas tidak seharusnya menjadi hak mereka yang mampu secara ekonomi. Menurutnya, masa depan seseorang lebih banyak ditentukan oleh kedisiplinan dan konsistensi daripada besarnya biaya yang dikeluarkan untuk sekolah.
“Lahir dari keluarga sederhana membuat saya memahami bahwa banyak anak-anak Indonesia sebenarnya memiliki potensi luar biasa. Yang sering kali kurang bukan kecerdasan mereka, melainkan kesempatan. Saya ingin membuktikan bahwa pendidikan yang baik tidak harus mahal. Yang dibutuhkan adalah lingkungan yang benar, disiplin, dan kemauan untuk terus belajar,” ujarnya.
Ahmad Ali Adhim merupakan pria kelahiran Kalipang, Sugio, Lamongan, Jawa Timur. Perjalanan pendidikannya dimulai dari MI Tarbiyatul Islamiyah Kalipang, kemudian melanjutkan ke MTs Sunan Drajat Sugio, SMK Sunan Drajat Lamongan, meraih gelar sarjana di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan menyelesaikan pendidikan magister di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia juga pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan serta Pondok Pesantren Baitul Kilmah Yogyakarta, pengalaman yang membentuk pandangannya tentang pentingnya memadukan pendidikan agama dengan kompetensi masa depan.
Berbeda dengan pesantren mahasiswa pada umumnya, lembaga yang ia dirikan tidak hanya berfokus pada pembelajaran agama. Mengaji Al-Qur’an, mengkaji kitab, dan pembinaan akhlak tetap menjadi pondasi utama. Namun, setelah itu para santri diajak memasuki ruang-ruang diskusi ilmiah melalui Focus Group Discussion (FGD), melakukan riset berbagai isu aktual, mempelajari perkembangan teknologi, hingga memanfaatkan AI sebagai alat untuk menghasilkan karya dan membangun kemandirian ekonomi.
Menurut Ahmad, dunia sedang mengalami perubahan besar. Di era kecerdasan buatan, kemampuan menghafal saja tidak lagi cukup. Generasi muda harus mampu berpikir, menganalisis, menciptakan solusi, dan menghasilkan nilai bagi masyarakat. Karena itulah, AI diposisikan sebagai alat bantu untuk mempercepat proses belajar, riset, penulisan, pembuatan konten edukatif, hingga pengembangan bisnis digital.
Ia menegaskan bahwa tujuan pesantren ini bukan sekadar mencetak lulusan yang mencari pekerjaan, melainkan melahirkan generasi yang mampu menciptakan pekerjaan. Santri didorong memiliki keterampilan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, seperti menulis, berbicara di depan publik, membangun media digital, membuat konten, melakukan riset, hingga mengembangkan usaha berbasis teknologi.
“Kalau seseorang memiliki kemampuan menyelesaikan masalah orang lain, dunia akan mencarinya. Kami ingin santri memiliki penghasilan karena kompetensinya, bukan karena menunggu lowongan pekerjaan,” katanya.
Yang paling menarik perhatian publik adalah konsep pembiayaan pesantren tersebut. Seluruh proses pendidikan diberikan tanpa memungut biaya kepada mahasiswa yang memenuhi syarat. Namun, Ahmad menegaskan bahwa kata “gratis” bukan berarti tanpa tanggung jawab.
“Di sini tidak ada uang gedung. Tidak ada biaya pendidikan. 100% Gratis, malah dapat sembako, pekerjaan, relasi dari berbagai daerah. Tetapi setiap santri harus membayar dengan disiplin, kerja keras, membaca buku, berdiskusi, menghasilkan karya, dan terus belajar setiap hari. Harga pendidikan yang sesungguhnya bukan uang, melainkan kesungguhan,” ungkapnya.
Konsep ini lahir dari keyakinannya bahwa kemiskinan tidak boleh menjadi alasan seseorang kehilangan akses terhadap pendidikan berkualitas. Baginya, bangsa yang maju adalah bangsa yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada generasi muda untuk berkembang berdasarkan kemampuan, bukan berdasarkan kondisi ekonomi keluarga.
Di pesantren tersebut, suasana belajar pun dibuat berbeda. Diskusi ilmiah menjadi budaya sehari-hari. Santri diajak mempertanyakan berbagai persoalan sosial, mencari data, menguji argumen, menyusun solusi, lalu mengubahnya menjadi tulisan, konten edukasi, buku, atau proyek nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. Teknologi tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai sarana memperluas manfaat ilmu.
Ahmad juga menaruh perhatian besar pada pembangunan karakter. Menurutnya, AI yang paling canggih sekalipun tidak akan mampu menggantikan kejujuran, akhlak, integritas, dan kepedulian sosial. Karena itu, pendidikan agama tetap menjadi pondasi utama sebelum santri belajar teknologi dan bisnis digital.
Visi besarnya adalah melahirkan generasi yang mandiri secara intelektual, spiritual, dan ekonomi. Generasi yang tidak bergantung sepenuhnya kepada negara, tetapi mampu menciptakan peluang, membuka lapangan pekerjaan, dan memberi manfaat bagi masyarakat melalui ilmu pengetahuan dan inovasi.
Di tengah meningkatnya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi dan pesatnya perkembangan AI yang mengubah dunia kerja, gagasan Ahmad Ali Adhim menjadi angin segar. Ia percaya bahwa masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa mahal biaya pendidikan yang dibayar, melainkan oleh seberapa besar kesungguhan generasi mudanya untuk terus belajar dan beradaptasi.
“Jangan pernah minder karena lahir di desa. Jangan berhenti bermimpi karena orang tua tidak kaya. Yang menentukan masa depan bukan tempat kita dilahirkan, melainkan kedisiplinan, konsistensi, dan keberanian untuk terus belajar. Kesempatan selalu datang kepada mereka yang siap,” tutupnya. (nanta)
