NW ONLINE | Lombok Timur — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW), Dr. TGKH. Muhammad Zainuddin Atsani, menegaskan bahwa Nahdlatul Wathan lahir dari semangat besar perjuangan pendidikan yang digelorakan oleh pendirinya, Almaghfurullah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Hal tersebut disampaikan dalam pidatonya pada peringatan Hari Jadi (HADI) ke-73 Nahdlatul Wathan yang digelar di kawasan Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin, Anjani, Lombok Timur, Sabtu (7/3/2026).
Dalam sambutannya, ia mengingatkan kembali sejarah berdirinya Nahdlatul Wathan yang berawal dari pendirian dua madrasah oleh Maulana Syaikh, yakni Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) untuk santri putra dan Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) untuk santri putri.
Menurutnya, organisasi Nahdlatul Wathan kemudian didirikan sebagai wadah untuk menaungi serta mengembangkan gerakan pendidikan yang lahir dari kedua madrasah tersebut.
“Nahdlatul Wathan adalah ciptaan dari gelora madrasah NWDI dan NBDI untuk melebarkan sayap pendidikannya,” ujarnya mengutip wasiat pendiri Nahdlatul Wathan yang ditulis pada 23 April 1957.
Ia menjelaskan bahwa istilah “gelora” dalam wasiat tersebut bukan sekadar kata biasa, melainkan menggambarkan energi perjuangan yang kuat dan dinamis dalam mengembangkan pendidikan Islam.
Secara filosofis, lanjutnya, Nahdlatul Wathan bukanlah organisasi yang lahir dari ambisi kekuasaan, melainkan konsekuensi logis dari visi besar untuk membangun pendidikan umat.
“Jika NWDI adalah rahim intelektualitas kaum pria, maka NBDI adalah fajar emansipasi pendidikan bagi kaum perempuan. Nahdlatul Wathan menjadi kendaraan sosial yang menyatukan keduanya dalam kekuatan kolektif,” jelasnya.
Trilogi Perjuangan Nahdlatul Wathan
Dalam pidatonya, Zainuddin Atsani juga menegaskan bahwa Nahdlatul Wathan memiliki trilogi perjuangan, yaitu pendidikan, sosial, dan dakwah.
Ia menilai pendidikan Islam tidak boleh berhenti di ruang kelas madrasah, tetapi harus berkembang menjadi gerakan sosial yang mampu memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Menurutnya, keberadaan organisasi yang kuat menjadi sarana penting untuk mencapai tujuan besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Jika mencerdaskan kehidupan bangsa adalah kewajiban, maka keberadaan organisasi yang solid menjadi sarana penting untuk mewujudkan tujuan tersebut,” ujarnya.
Karena itu, ia menegaskan bahwa membela dan memperjuangkan Nahdlatul Wathan merupakan bagian dari tanggung jawab moral warga organisasi.
“Kita membela Nahdlatul Wathan bukan karena fanatisme buta, tetapi karena NW adalah wasilah untuk menyempurnakan kewajiban kita dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” tegasnya.
Seruan Loyalitas dan Persatuan Warga NW
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan seluruh kader dan warga Nahdlatul Wathan untuk menjaga loyalitas serta semangat pengabdian kepada organisasi.
Ia mengutip wasiat pendiri Nahdlatul Wathan yang menyebut para santri dan alumninya sebagai “benihan” NW, yakni generasi yang diharapkan tumbuh menjadi kader yang kuat, loyal, dan terus mengembangkan organisasi.
“Jika kita mengaku sebagai benihan Nahdlatul Wathan, maka kita harus benar-benar setia, taat, dan siap memperjuangkan cita-cita organisasi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa sikap pasif dalam organisasi dapat menjadi penghambat perjuangan, sehingga kader Nahdlatul Wathan diharapkan terus aktif dalam mengembangkan organisasi.
“Sikap pasif dalam perjuangan sama saja dengan menghalangi gerakan organisasi. Karena itu kader Nahdlatul Wathan harus terus bergerak,” katanya.
Ajak Warga NW Dukung Persatuan Bangsa
Pada kesempatan tersebut, Zainuddin Atsani juga mengajak seluruh warga Nahdlatul Wathan di seluruh Indonesia untuk menjaga persatuan bangsa serta mendukung kebijakan pemerintah yang bertujuan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ia menegaskan pentingnya sikap bijak dalam menyikapi berbagai informasi di tengah dinamika kehidupan berbangsa.
“Saya mengajak seluruh warga Nahdlatul Wathan untuk tidak ikut menyebarkan fitnah atau hoaks yang dapat memecah belah persatuan bangsa,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh warga Nahdlatul Wathan untuk mendoakan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia agar senantiasa diberi kesehatan serta kekuatan dalam memimpin bangsa.
Momentum Refleksi Perjuangan NW
Menurutnya, peringatan HADI ke-73 Nahdlatul Wathan menjadi momentum penting bagi seluruh warga NW untuk melakukan refleksi diri terhadap peran dan kontribusi mereka dalam perjuangan organisasi.
Ia mengajak seluruh kader untuk kembali menghidupkan semangat perjuangan pendiri Nahdlatul Wathan dengan memegang teguh semboyan organisasi, yaitu yakin, ikhlas, dan istiqamah.
“Mari kita satukan barisan, hilangkan ego pribadi, dan bersama-sama memperjuangkan Nahdlatul Wathan demi agama, nusa, dan bangsa,” pungkasnya.
