Setelah sekian bulan libur karena kesibukan kuliah, pada Subuh Sabtu, 4 Juli 2026, saya kembali diberi kesempatan mengisi kajian rutin di Mushalla Al-Amin NW Sepit. Pada kajian-kajian sebelumnya, saya biasanya membahas kitab-kitab fikih, seperti Taqriratus Sadidah, Safinatun Najah, sullam at taufiq, bahkan sebelum melanjutkan studi S2 saya pernah memulai kajian kitab Fathul Mu’in, meskipun saat itu pembahasannya baru sampai pada bagian muqaddimah hehe.
Namun, kajian kali ini sedikit berbeda. Untuk pertama kalinya saya mengkaji kitab yang berfokus pada tasawuf dan akhlak, yaitu Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Ashfiya’. Kitab ini mengajarkan bagaimana seorang hamba membersihkan hati dari berbagai penyakit dan kotoran jiwa yang dapat menghalangi perjalanannya menuju Allah SWT.
Kitab Kifayatul Atqiya’ syarah Hidayatul Azkiya’ merupakan salah satu karya Sayyid Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi, seorang ulama besar bermazhab Syafi’i. Nama beliau sangat dikenal di kalangan pesantren melalui karya monumentalnya, I’anatut Thalibin, yaitu syarah atas kitab Fathul Mu’in karya Syaikh Zainuddin al-Malibari, yang hingga kini menjadi salah satu rujukan utama dalam fikih mazhab Syafi’i. Kifayatul Atqiya’ sendiri merupakan syarah atas kitab Hidayatul Azkiya’ karya Syaikh Zainuddin al-Malibari. Kitab Hidayatul Azkiya’ disusun dalam bentuk bait-bait syair yang sarat dengan nilai-nilai penyucian jiwa dan pembinaan akhlak. Selain Kifayatul Atqiya’, syarah lain yang cukup masyhur adalah Irsyadul Alibba’, karya Syaikh Zainuddin al-Kabir, yang merupakan keponakan langsung Syaikh Zainuddin al-Malibari.
Dalam kajian Subuh kali ini, saya membaca syarah Kifayatul Atqiya’. Namun, untuk memperkaya penjelasan dan memperluas sudut pandang pembahasan, saya juga mengutip beberapa keterangan penting dari Irsyad al-Alibba’. Tujuannya agar jamaah yang hadir atau mengikuti dari rumahnya tidak hanya memperoleh pemahaman terhadap teks yang dibaca, tetapi juga mendapatkan penjelasan yang lebih komprehensif dari dua kitab syarah yang sama-sama memiliki otoritas dalam menjelaskan Hidayatul Azkiya’.
Sebagai pembuka kajian, subuh ini saya membahas makna dan hikmah dari “bismillahirrahmanirrahim”. dalam karyanya ini Sayyid Abi bakar syatho menjelaskan makna dan hikmah bismillahirrahmanirrahim. Denga mengutip ucapan ulama sufi terdahulu ia mengatakan bahwa Allah menitipkan semua ilmu pada huruf ba, yg artinya bi Kana Ma Kana ni yakunu ma yakunu ( dengan sebab aku terjadi apa yg telah terjadi dan dengan sebab aku pula akan terjadi apa yang akan terjadi), maka keberadaan alam ini karena sebab aku dan tidk ada wujud yg hakiki selain aku semuanya hanyalah nama dan inilah makna dari ucapan yg sering kita dengar keluar dari ahli hakikat yg mengatakan: aku tidk melihat ke suatu benda melainkan yang aku melihat Allah di dalamnya atau sebelumnya.
Sementara itu, Sayyid Abi Bakar Syatho juga menguraikan hikmah mengapa Allah memulai basmalah dengan huruf ba’ dan bukan huruf yang lain, serta menghilangkan huruf alif dari kata ism (اسم) lalu menggantikannya dengan ba’. Hikmahnya adalah karena ba’ merupakan huruf syafawi (diucapkan dengan kedua bibir). yang mana ketika mengucapkannya, bibir terbuka dengan cara yang tidak terjadi pada huruf-huruf lainnya. Jika direnungkan lebih dalam, pembukaan pertama mulut kita pada saat perjanjian, yang digambarkan dalam Al Qur’an dengan kalimat ‘Alastu bi Rabbikum’ (‘Bukankah Aku Tuhanmu?’) jawaban yang keluar dari mulut saat itu adalah lafaz bala yang huruf pertamnya ba’.
Dari dua kitab syarah yang saya jadikan rujukan dalam kajian kali ini, ada dua ungkapan yang benar-benar menarik perhatian saya, yaitu pertama ketika Sayyid Abu Bakar Syatha menjelaskan sifat Allah – al Rahman dan al Rahim – yang ada pada kalimat basmalah, beliau menukil isi dari kitab Injil yang mengatakan:
يا ابن آدم كما ترحم كذلك ترحم، كيف يرجو أن يرحمك الله وأنت لا ترحم عباده
“Wahai anak Adam, sebagaimana engkau menyayangi, demikian pula engkau akan disayangi. Bagaimana mungkin engkau mengharapkan kasih sayang Allah, sementara engkau sendiri tidak menyayangi hamba-hamba-Nya?”
Terlepas dari asal kutipannya, pesan yang terkandung di dalam ungkapan ini sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan Islam. Rahmat Allah tidak hanya diharapkan melalui banyaknya ibadah ritual, tetapi juga melalui sikap kasih sayang, kelembutan, dan kepedulian kepada sesama. Ungkapan ini terasa sangat relevan dengan kondisi umat Islam hari ini. Di tengah semangat beragama yang semakin tinggi, tidak jarang kita justru menyaksikan semakin mudahnya seseorang mencela, merendahkan, bahkan membenci saudaranya sendiri. Perbedaan fikrah, pilihan organisasi, warna baju, afiliasi pesantren, hingga thariqah yang seharusnya menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah, justru kerap berubah menjadi alasan untuk saling menyalahkan dan menjatuhkan. Padahal, keragaman dalam memahami dan mengamalkan agama merupakan sesuatu yang telah lama dikenal dalam tradisi keilmuan Islam. Para ulama berbeda pendapat dalam banyak persoalan, tetapi perbedaan itu tidak menghalangi mereka untuk tetap saling menghormati, mendoakan, dan mengambil manfaat dari ilmu satu sama lain. Yang hilang pada sebagian dari kita hari ini bukanlah semangat membela agama, melainkan adab dalam menyikapi perbedaan.
Kalimat di atas seakan mengingatkan kita bahwa ukuran kedekatan seseorang kepada Allah tidak hanya terlihat dari banyaknya ibadah yang dikerjakan atau luasnya ilmu yang dimiliki, tetapi juga dari sejauh mana ia menghadirkan kasih sayang kepada sesama. Sangat sulit berharap memperoleh rahmat Allah jika lisan kita gemar melukai, hati kita dipenuhi kebencian, dan kehidupan kita dihabiskan untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Saya, dibeberapa kesempatan, sering memberikan teguran dengan sindiran kepada orang-orang yang memutuskan silaturrahmi dengan keluarga atau tetangganya namun mereka dengan percaya diri berdiri dihadapan Allah, di rumahnya Allah. Jasadnya berdekatan bahkan nyaris tanpa jarak, namun hati mereka bagaikan langit dengan bumi.
Mungkin inilah salah satu pelajaran pertama yang ingin ditanamkan sejak pembukaan kitab ini. Sebelum berbicara tentang maqam-maqam spiritual yang tinggi, seorang penempuh jalan menuju Allah harus terlebih dahulu membersihkan hatinya dari sifat-sifat yang merusak hubungan dengan sesama. Sebab, perjalanan menuju Allah tidak pernah dibangun di atas kebencian, melainkan di atas kasih sayang yang menjadi salah satu pantulan dari sifat Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm yang setiap hari kita baca dalam basmalah.
Kedua adalah ungkapan yang saya temukan dalam kitab Irsyadul alibba’. Dalam muqaddimah muhaqqiq, Syaikh Ahmad Fathulbab, selaku pentahqiq kitab, mengutip pesan yang selalu diulang oleh gurunya, Syaikh Abd Mun’im Ta’lib, yaitu:
نتعلم ما يصير به الإنسان إنسانا، قبل أن نتعلم ما يصير به المسلم مسلما
“Kita belajar terlebih dahulu tentang hal-hal yang menjadikan manusia sebagai manusia, sebelum kita mempelajari hal-hal yang menjadikan seorang Muslim sebagai Muslim”
Secara sederhana, ungkapan ini mengajarkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan harus menjadi fondasi sebelum seseorang mendalami identitas dan praktik keagamaan. Maksudnya bukan menempatkan ajaran Islam pada posisi kedua atau mengurangi pentingnya syariat, melainkan menegaskan bahwa keberagamaan yang benar dibangun di atas kematangan akhlak dan kemanusiaan.
Seorang Muslim yang baik tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah sunnah yang dikerjakan atau megahnya tempat ibadah yang dibangun. Lebih dari itu, ia juga harus mampu menghormati sesama, mengasihi orang lain, berlaku adil, berkata jujur, menjaga amanah, serta memiliki kepedulian terhadap mereka yang lemah dan membutuhkan. Nilai-nilai seperti inilah yang menjadikan agama hadir sebagai rahmat, bukan sekadar kumpulan ritual.
Menariknya, nilai-nilai tersebut merupakan ajaran universal yang diakui oleh seluruh peradaban. Hampir semua agama mengajarkan kasih sayang, kejujuran, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Bahkan orang yang tidak memiliki latar belakang agama sekalipun pada umumnya mengakui bahwa sifat-sifat tersebut adalah kebaikan yang patut dijunjung tinggi. Karena itu, Islam tidak datang untuk menghapus nilai-nilai kemanusiaan, tetapi menyempurnakan, menguatkan, dan mengarahkannya kepada tujuan yang lebih luhur.
Ungkapan tersebut memiliki semangat yang sejalan dengan gagasan yang ditulis oleh Habib Ali al-Jufri dalam salah satu karyanya yang berjudul al-Insāniyyah Qabla al-Tadayyun. Dalam kitab tersebut beliau menekankan pentingnya akhlak, kebersihan hati, dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai fondasi keberagamaan. Bahkan beliau menyebut bahwa perilaku yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar akhlak dan nilai-nilai kemanusiaan merupakan penyimpangan dari misi Nabi yang diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.
Dari dua ungkapan di atas dapat kita ambil sebuah kesimpulan bahwa membangun masyarakat yang religius tidak cukup hanya dengan memperbanyak simbol-simbol keagamaan. Hal yang lebih penting dari itu semua adalah bagaimana melahirkan manusia-manusia yang berakhlak, memiliki empati, menjunjung tinggi keadilan, serta mampu memperlakukan setiap orang dengan penuh hormat. Ketika nilai-nilai kemanusiaan ini tumbuh, keberagamaan tidak lagi berhenti pada identitas dan ritual, tetapi benar-benar menjelma menjadi akhlak yang hidup dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah Nabi Muhammad sendiri diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak? Artinya, menjadi manusia yang baik bukanlah sesuatu yang terpisah dari ajaran Islam, melainkan jalan untuk menjadi seorang Muslim yang lebih baik.
Penulis : Muhammad Ramli Saldiman
Angkatan : 48 MDQH NW Anjani
No Hp : 087880470872
