اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى. وَبِهِ نَسْتَعِينُ وَعَلَيْهِ نَتَوَكَّلُ. قَالَ جَامِعُهُ الْفَقِيرُ حَلِيفُ الْعَجْزِ وَالتَّقْصِيرِ، مُؤَسِّسُ وَخَادِمُ النَّهْضَتَيْنِ: مَدْرَسَةِ نَهْضَةِ الْوَطَنِ الدِّينِيَّةِ الْإِسْلَامِيَّةِ وَمَدْرَسَةِ نَهْضَةِ الْبَنَاتِ الدِّينِيَّةِ الْإِسْلَامِيَّةِ بِفَانْجُورْ – لُومْبُوكْ تِيمُورْ – غَفَرَ اللّٰهُ لَهُ وَلِوَالِدَيْهِ وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْهِمَا وَإِلَيْهِ. آمِينَ يَا إِلَهَ الْعَالَمِينَ.

“Segala puji bagi Allah dan cukuplah [pujian itu bagi-Nya], dan salam sejahtera semoga tercurah kepada hamba-hamba-Nya yang telah Dia pilih. Dan kepada-Nya kami memohon pertolongan dan kepada-Nya kami bertawakal. Telah berkata penyusun kitab ini, seorang yang fakir yang selalu bergelimang dengan kelemahan dan kekurangan, pendiri dan pelayan dari dua Nahdhoh (kebangkitan): Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah dan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah di Pancor – Lombok Timur – semoga Allah mengampuni dosanya, kedua orang tuanya, dan siapa saja yang telah berbuat baik kepada keduanya dan kepadanya. Amin, wahai Tuhan semesta alam.”

(Analisis Struktur Muqaddimah Hizib Nahdlatul Wathan)

Muqaddimah ini bukan sekadar basa-basi, melainkan mengikuti pakem penulisan turats Islam yang sangat sistematis dan mengandung 3 pilar utama:

A. Pilar Hamdalah dan Isti’anah [Teologi Tauhid]

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى

Kalimat ini adalah iqtibas dari QS. An-Naml: 59. Lafaz (wa kafa) memiliki makna mendalam pujian kepada Allah itu sudah cukup, tidak butuh pujian kepada selain-Nya. Ini penegasan tauhid.[kutipan]

وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى

Setelah memuji Allah, beliau mengirim salam kepada hamba pilihan. Ulama tafsir menjelaskan (‘ibadahu alladzina isthafa) mencakup para Nabi, terutama Nabi Muhammad SAW, dan para ulama pewarisnya. Ini menunjukkan adab: mendahulukan hak Allah baru hak makhluk.

وَبِهِ نَسْتَعِينُ وَعَلَيْهِ نَتَوَكَّلُ

Ini adalah manifestasi dari QS. Al-Fatihah. (Isti’anah) [minta tolong] untuk di tengah proses, dan (tawakkal) untuk hasil akhirnya. Sebuah keseimbangan antara ikhtiar dan tawakkal.[berserah]

B. Pilar Tawadhu’ Ilmiah [Psikologi Keulamaan]

قَالَ جَامِعُهُ الْفَقِيرُ حَلِيفُ الْعَجْزِ وَالتَّقْصِيرِ

Beliau tidak menyebut “Prof. Dr.” atau “Syaikhul Islam”, tapi Al-Faqir Haliful ‘Ajzi wat Taqshir [Si fakir yang menjadi sekutu kelemahan dan kekurangan].

Ini adalah tradisi ulama Nusantara yang agung. Semakin tinggi ilmunya, semakin dalam rasa kefakirannya di hadapan Allah. Kata halif artinya teman setia, seakan beliau ingin berkata: “Aku tidak pernah berpisah dari kelemahanku”. Ini adalah benteng psikologis agar ilmu tidak melahirkan kesombongan.

C. Pilar Identitas dan Waqaf Sosial [Sosiologi Dakwah]

مُؤَسِّسُ وَخَادِمُ النَّهْضَتَيْنِ..

Di sinilah letak keunikan Maulana Syaikh. Beliau menyebut dirinya bukan hanya muassis, tapi juga khadim.[pendiri][pelayan]

Dua lembaga yang beliau sebut adalah pilar peradaban Lombok:

1. Madrasah NWDI : Untuk laki-laki. [Di dirikan Tahun 1934]

2. Madrasah NBDI : Untuk perempuan.[Di didirikan Tahun 1943]

Pada masa kolonial, mendirikan sekolah untuk perempuan adalah sebuah revolusi sosial yang sangat progresif. Beliau menyadari bahwa kebangkitan suatu bangsa tidak akan sempurna tanpa kebangkitan perempuan sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya.[Nahdhah]

Beliau tutup dengan doa

غَفَرَ اللّٰهُ لَهُ…

Ini adalah doa istighfar yang mencakup tiga lingkaran: untuk dirinya, untuk orang tuanya, dan untuk semua jaringan sosial yang mendukungnya [wa liman ahsana ilaihima wa ilaihi]. Ini menunjukkan bahwa karya tulis beliau adalah hasil kolaborasi spiritual dari banyak pihak, bukan karya individual.

والله اعلم وتم علمه

Penulis: Muhammad Taufikkurrahman Al Hizbi QH., S.Pd.

Angkatan: 60 MDQH NW Anjani.