NASH QAUL:

الخُلُقُ عِبَارَةٌ عَنْ هَيْئَةٍ فِي النَّفْسِ رَاسِخَةٍ ,عَنْهَا تَصْدُرُ الأَفْعَالُ بِسُهُولَةٍ وَيُسْرٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى فِكْرٍ وَرَوِيَّةٍ

Artinya: “Karakter (akhlak) adalah kondisi jiwa yang tertanam kuat, yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan yang lama.”

(Sumber: Ihya Ulumuddin, Jilid 3, Kitab Riyadhatun Nafs wa Tahdzibul Akhlaq, hal. 62)

Banyak orang menyangka akhlak adalah soal sopan santun di luar. Padahal Imam Al-Ghazali membongkar rahasia yang lebih dalam: akhlak adalah software yang tertanam di dalam jiwa. Jika software-nya baik, maka perbuatannya akan otomatis baik tanpa perlu banyak berpikir. Imam Al-Ghazali menyusun definisi ini dengan 4 pilar kata yang sangat presisi, Mari kita bedah 4 pilar definisi emas beliau yang menjadi fondasi pendidikan karakter satu per satu:

1. هَيْئَةٌ فِي النَّفْسِ (Hai’atun fin Nafs) – Kondisi di Dalam Jiwa

Imam Al-Ghazali memulai dengan kata Hai’ah,bukan Fi’il (perbuatan). Ini penegasan paling penting.Makna nya: Akhlak itu bukan terletak pada tangan yang memberi, atau lisan yang berkata jujur. Akhlak itu ada di dalam An-Nafs(jiwa), jauh di dalam.

Ini membantah pemahaman awam yang mengira akhlak adalah sekadar etika luar. Orang yang senyum belum tentu berakhlak baik, bisa jadi senyumnya hanya pencitraan. Orang yang memberi belum tentu dermawan, bisa jadi karena ingin dipuji. Maka menurut Imam Al-Ghazali, akhlak adalah software yang terinstal di dalam jiwa, sedangkan perbuatan baik hanyalah output atau hasil cetakan dari software tersebut.

Dalam psikologi modern, ini yang disebut Unconscious Mind atau alam bawah sadar. Karakter adalah program bawah sadar.

2. رَاسِخَةٍ (Rasikhatin) – Tertanam Kuat dan Mengakar

Kata Rasikha artinya mengakar, menetap, tidak goyah. Akar kata ini sama dengan Rasukha dalam Al-Qur’an:

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ

“Dan orang-orang yang kokoh keilmuannya…” (QS. Ali Imran: 7)

Makna nya: Di sinilah pembeda antara Khuluq (karakter) dan Hal (sikap sesaat).

Jika seseorang biasanya pelit, lalu suatu hari ia memaksakan diri untuk memberi karena malu dilihat orang, maka memberi itu BUKAN akhlaknya. Itu hanya hal (kondisi sesaat). Karena sifat pelitnya masih rasikh (mengakar) di dalam.

Sebaliknya, jika seseorang memang dermawan, ia memberi bukan karena dipaksa, tapi karena sifat dermawan itu sudah rasikh.

Ibn Miskawaih menjelaskan: Sifat yang rasikh ini hanya bisa terbentuk melalui dua cara:

a. Thab’i (Bawaan): Ada orang yang dari lahir sudah berjiwa penyabar.

b. Muktasab (Melalui Latihan): Inilah tugas pendidikan. Sesuatu yang awalnya dipaksakan, jika diulang-ulang terus menerus akan menjadi rasikh.

Inilah yang dalam neuroscience modern disebut Neuroplasticity dan Habit Formation. Jalan saraf yang awalnya sempit, jika sering dilewati akan menjadi jalan tol yang lebar dan otomatis.

3. تَصْدُرُ عَنْهَا الأَفْعَالُ بِسُهُولَةٍ وَيُسْرٍ (Tashduru ‘anha al-af’al bi suhulah wa yusr) – Darinya Lahir Perbuatan Dengan Mudah dan Ringan

Ini adalah indikator bahwa sifat itu sudah menjadi karakter.

Jika perbuatan baik masih terasa berat, masih perlu perjuangan, masih ada pertarungan batin antara “memberi atau tidak”, maka itu tanda sifat tersebut BELUM menjadi akhlak.

Contoh nya:

Tingkat 1 – Takhalluq (Memaksakan): Seseorang bangun tahajud dengan susah payah, melawan kantuk, melawan dingin. Ini belum akhlak, ini proses.

Tingkat 2 – Takhalluq Menjadi Khuluq: Setelah 40 hari dipaksa, ia mulai terbiasa.

Tingkat 3 – Khuluq (Karakter): Ia bangun tahajud dengan _suhulah wa yusr_ (mudah dan ringan). Bahkan jika ia tidak bangun, jiwanya terasa gelisah. 

Maka, barometer karakter bukanlah ketika berbuat baik di depan orang, tapi ketika berbuat baik terasa mudah.

4. مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى فِكْرٍ وَرَوِيَّةٍ (Min ghairi hajatin ila fikrin wa rawiyyah) – Tanpa Perlu Pemikiran dan Pertimbangan Lama

Makna nya: Akhlak adalah autopilot.Orang yang berkarakter jujur, ketika ditanya, ia akan langsung jujur tanpa perlu berpikir: “Kalau aku jujur ruginya apa? Kalau bohong untungnya apa?”.

Orang yang berkarakter penakut, ketika ada masalah, ia akan langsung lari tanpa berpikir. Ini sejalan dengan teori psikologi behavioristik dari William James: “Karakter adalah sekumpulan kebiasaan yang menjadi otomatis.”

Imam Al-Ghazali ingin mengatakan: Jangan tertipu dengan perbuatan baik yang masih melalui kalkulasi untung-rugi. Itu adalah transaksi, bukan karakter.

KESIMPULAN:

Dari definisi ini, Imam Al-Ghazali mengajarkan kepada kita :

1.  Pendidikan karakter bukan ceramah, tapi penanaman. Tugas kita bukan membuat anak tahu tentang kejujuran, tapi membuat jiwa mereka memiliki hai’ah kejujuran yang rasikhah.

2.  Kuncinya adalah Pembiasaan (At-Ta’wid). Sesuatu yang rasikh tidak lahir dari satu nasihat. Ia lahir dari pengulangan yang terus-menerus. Sholat berjamaah setiap hari, salam setiap bertemu, antri yang tertib, itulah yang sedang membangun jalan tol di otaknya.

3.  Target akhirnya adalah Kemudahan. Jika kita masih merasa berat untuk berkata “Afwan, Syukron”,(Maaf, Terimakasih ) berarti pendidikan karakter kita belum berhasil mengakar. Keberhasilan adalah ketika kebaikan itu lahir bi suhulah. Dengan mudah tanpa paksaan.

والله اعلم وتم علمه

Penulis: Muhammad Taufikkurrahman Al Hizbi QH., S.Pd.

Angkatan: 60 MDQH NW Anjani