NW ONLINE – Materi Jurnalistik yang disampaikan Ust Abdul Hanan, QH. MSos pada Workshop Jurnalistik Ahad 8 Pebruari lalu di kampus IAIN NW Lotim, sangat penting bagi peserta workshop. Sebagai pegiat media harus tahu materi dasar jurnalistik. Karena sebagai pemburu, pengolah dan penyaji berita ada ilmunya juga. Itu dia yang disebut materi jurnalistik.
Dosen yang sudah lama menggeluti digital media ini memberikan formula populer yang disebut 5W 1H bila ingin menulis berita. Bagi pemula formula ini kedengarannya asing. Karena memang diambil dari singkata bahasa Inggris. Huruf “W” pertama itu what, “W” kedua itu Where, “W” ketiga itu when, “W” keempat itu why, dan “W” kelima itu Who. Sedangkan 1H itu how.
“What” adalah Apa topik berita, “Where” dimana peristiwa terjadi, “When” kapan peristiwa berlangsung, “Why” mengapa peristiwa terjadi, “Who” siapa yang terlibat dalam peistiwa terasebut, dan yang terakhir “How” bagaimana proses terjadinya peristiwa.
Aktivis Banom Pimpus Pemuda ini juga memberikan contoh real bagaimana 5W 1H ini diterapkan. Dalam konteks kegiatan workshop hari ini maka bila dimasukkan pada template formula 5W 1H akan menjadi;
1. What (apa), Kegiatan Workshop Jurnalistik
2. Where (dimana), Di Kampus Institut Agama Islam Hamzanwadi Nahdlatul Wathan (IAIH NW) Lombok Timur
3. When (kapan), Hari Ahad 8 Pebruari 2026 sejak pukul 14:00 hingga selesai
4. Why (mengapa) untuk meningkatkan skill jurnalistik kaum muda dan pegiat literasi
5. Who (siapa) Peserta terdiri dari mahasiswa, pelajar, utusan Banom dan umum. Dengan narasumber dari Tim Media Hamzanwadi II.
6. How (bagaimana) acara berlangsung interatif, atraktif dan lancar hingga selesai.
Sebuah berita yang ditulis oleh seorang journalis dapat disebut sebagai berita yang kredibel aktual dan tepercaya bila telah memenuhi formula dasar jurnalistik diatas. Kalau salah satunya tidak terpenuhi, maka kualitas sebuah berita menjadi berkuarang. Bagaimana jadinya sebuah berita yang masih mengundang tanda tanya? Otomatis ada yang kurang dari formula 5W 1 H tersebut.
Selain itu, pembicara yang masih menjomblo ini mengajak audience bermain tebak-tebakan. Yaitu ketika membahas apa bedanya antara fakta dan opini. Pembahasan dan diskusi pada bagian ini cukup mengundang partisipasi para peserta untuk bersuara. Sebagai seorang jurnalis harus bisa membedakan antara fakta dan opini.
Sementara dalam review dan evaluasi hasil praktek penulisan berita di kelompok 3, yang di mentoring oleh Akhi Faruq
Abdul Quddus, ada beberapa catatan penting yang harus dihindari oleh seorang jurnalis, yaitu bahasa sungkan (tidak enakan) terhadap seorang yang kita takzimi. Dalam jurnalistik adalah sebuah kewajaran bila menyebut nama singkat para tokoh. Hal itu tidak melanggar kode etik jurnalistik.
Pria yang diamanatkan selalu ketua Tim Media Hamznwadi II ini juga menyarankan bagi penulis berita pemula, bila menemui kebuntuan (stagnan) pemikiran yang akan ditulis, bisa berlatih dengan menggunakan formula ATM. Amati, Tiru, modifikasi.
Hal ini bisa dilatih dengan banyak membaca contoh-contoh penulisan berita di media-media mainstream. Dengan banyak berlatih menulis berita yang baik, akan membuat pesan-pesan penting dalam sebuah berita menjadi mudah dimengerti. Tidak sampai akan membuat pusing, malah pembaca akan menikmati tulisan yang mengalir dan mencerahkan.
Penulis: Abdul Manan Marda
(Kontributor Banom Pimpus Pemuda NW)
