Tradisi keilmuan dalam Islam bukanlah sekadar aktivitas belajar-mengajar di dalam kelas, bukan pula tumpukan ijazah dan gelar yang dipajang di dinding. Ia adalah sebuah منهاج الحياة (Manhaj Hayah) – jalan hidup yang utuh, sebuah sistem peradaban yang dijaga dengan darah dan air mata selama lebih dari 1400 tahun.
Jika tradisi keilmuan ini putus, maka yang tersisa dari umat hanyalah jasad tanpa ruh, gedung megah tanpa isi, dan keramaian tanpa keberkahan. Inilah yang sangat dipahami oleh para ulama kita.
1. KEWAJIBAN MENJAGA SANAD – Ilmu Harus Bersambung, Bukan Terputus
Ini adalah pilar pertama dan paling utama dalam tradisi keilmuan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dalam Islam, ilmu tidak boleh diambil secara otodidak hanya dari buku, dari Google, atau dari potongan video. Ilmu harus diambil _musyafahatan_ dari dada seorang guru ke dada seorang murid, bersambung sampai ke Rasulullah SAW.
Imam Abdullah bin Al-Mubarak (Wafat 181 H.) , berkata dengan tegas:
الإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
“Sanad itu adalah bagian dari agama. Jikalau bukan karena sanad, niscaya setiap orang akan berkata sekehendak hawa nafsunya.
Referensi: Muqaddimah Shahih Muslim, Imam Muslim
Tanpa sanad, agama akan menjadi tafsir liar sesuai selera masing-masing. Seseorang bisa menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal hanya karena ia membaca satu dua buku tanpa bimbingan guru.
Al Imam Malik bin Anas, Imam Darul Hijrah dan Guru dari Imam Syafi’i, sangat ketat dalam menjaga tradisi ini. Beliau berkata:
لَا يُؤْخَذُ العِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ: سَفِيْهٍ مُعْلِنِ السَّفَهِ، وَصَاحِبِ بِدْعَةٍ يَدْعُوْ إِلَى هَوَاهُ، وَمَنْ يَكْذِبُ فِيْ حَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لَا يُتَّهَمُ فِيْ حَدِيْثِ رَسُوْلِ اللهِ، وَصَالِحٍ عَابِدٍ فَاضِلٍ إِذَا كَانَ لَا يَحْفَظُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ
“Ilmu tidak boleh diambil dari empat golongan: (1) Orang bodoh yang menampakkan kebodohannya, (2) Ahli bid’ah yang mengajak kepada hawa nafsunya, (3) Orang yang berdusta dalam pembicaraan sehari-hari meski ia tidak pernah berdusta dalam hadits Rasulullah, (4) Seorang yang shalih ahli ibadah yang utama namun ia tidak hafal dan tidak paham apa yang ia sampaikan.”
Referensi: Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik, Lil Imam Qadhi Iyadh
Inilah rahasia mengapa Organisasi Nahdlatul Wathan tetap kokoh. Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang sebagai Pendiri Organisasi Nahdlatul Wathan tidak pernah belajar sendiri. Beliau mengembara menuntut ilmu selama bertahun-tahun di Makkah Al-Mukarramah, berguru kepada Syaikh-Syaikh besar, mengambil sanad, lalu beliau sambungkan kembali sanad keilmuan itu kepada ribuan murid-muridnya di Pancor. Dari Pancor, sanad itu terus mengalir dari guru ke murid, lalu Murid nya mengembangkan sanad keilmuan tersebut dari angkatan ke angkatan, hingga sampai kepada kita hari ini. Inilah tradisi keilmuan yang hidup (living tradition).
2. ADAB SEBELUM ILMU – Fondasi Yang Sering Dilupakan Zaman Now
Jika diibaratkan bangunan, ilmu adalah lantai-lantainya yang tinggi menjulang, sedangkan adab adalah fondasi yang menancap ke dalam tanah. Tanpa fondasi, semakin tinggi bangunan akan semakin cepat roboh.
Para ulama salaf menghabiskan waktu yang sangat panjang hanya untuk belajar adab.
Imam Abdullah bin Wahab Al-Qurasyi, murid senior Imam Malik, berkata:
مَا تَعَلَّمْنَا مِنْ أَدَبِ مَالِكٍ أَكْثَرُ مِمَّا تَعَلَّمْنَا مِنْ عِلْمِهِ
“Apa yang kami pelajari dari adab dan akhlaknya Imam Malik itu jauh lebih banyak daripada apa yang kami pelajari dari ilmunya sendiri.”
Referensi: Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, Jilid 1 hal. 509.
Sufyan bin Uyainah, Guru Besar Tanah Haram Makkah, menceritakan tradisi ulama dulu:
إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيَخْرُجُ فِيْ أَدَبِ نَفْسِهِ السَّنَتَيْنِ، ثُمَّ يَخْرُجُ فِيْ أَدَبِ نَفْسِهِ السِّنِيْنَ، ثُمَّ يَطْلُبُ العِلْمَ بَعْد
“Sungguh dahulu ada seorang pemuda yang keluar dari rumahnya hanya untuk memperbaiki dan mendidik adab dirinya selama dua tahun, bahkan bertahun-tahun, baru setelah adabnya tertata, ia mulai mencari ilmu.”
Imam Abdullah Ibnul Mubarak menegaskan:
نَحْنُ إِلَى قَلِيْلٍ مِنَ الأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ العِلْمِ
“Sungguh kami jauh lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyaknya ilmu.”
Referensi: Gharibul Hadits, Al-Khathabi
Syaikh Az-Zarnuji dalam kitabnya yang menjadi kurikulum wajib di Madrasah Madrasah naungan Nahdlatul Wathan, Ta’limul Muta’allim Thariqot Ta’allum, pada pasal pertama berkata:
بِالأَدَبِ تَفْهَمُ العِلْمَ، وَبِالعِلْمِ يَصِحُّ لَكَ العَمَلُ
“Dengan adab engkau akan mampu memahami ilmu, dan dengan ilmu akan sah amalmu.”
Tanpa adab, ilmu akan menjadi alat untuk berdebat, merendahkan orang lain, dan berbangga diri.
3. METODE MUDZAKARAH, MUTHALA’AH & MURAJA’AH – Jantung Pesantren
Tradisi keilmuan Di Madrasah Madrasah naungan Nahdlatul Wathan bukan tradisi mendengar ceramah satu jam lalu pulang dan lupa. Tradisi kita adalah tradisi mengulang, mengkaji, dan mendiskusikan.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA berkata, dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
تَذَاكَرُوْا فَإِنَّ الحَدِيْثَ يُذَكِّرُ الحَدِيْثَ
“Hendaklah kalian saling ber-mudzakarah (mengingat-ingatkan ilmu), karena satu ilmu itu akan mengingatkan kepada ilmu yang lainnya.”
Imam Asy-Syafi’i, Bapak Fiqih Umat, berkata:
مُذَاكَرَةُ الحَدِيْثِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ
“Bermudzakarah tentang ilmu hadits itu pahalanya lebih utama daripada sholat sunnah.”
Referensi: Manaqib Asy-Syafi’i, Imam Al-Baihaqi
Imam Az-Zuhri, seorang Tabi’in besar, mengingatkan bahaya meninggalkan tradisi ini:
إِنَّمَا يُذْهِبُ العِلْمَ النِّسْيَانُ وَتَرْكُ المُذَاكَرَةِ
“Sesungguhnya yang menghilangkan dan menghapus ilmu dari dada itu adalah sifat lupa dan meninggalkan kebiasaan mudzakarah.”
Seorang santri tidak dikatakan berilmu jika ia hanya pernah mendengar, tapi ia berilmu jika ia mampu memuthala’ah sendiri dan memudzakarahkan kembali ilmunya dengan temannya.
4. TAWADHU’ DAN MERASA DIRI MASIH BODOH – Puncak Tradisi Keilmuan
Ciri utama orang yang memiliki tradisi keilmuan yang benar adalah semakin berilmu ia semakin tawadhu’, bukan semakin sombong.
Imam Mujahid bin Jabr Al-Makki, murid kesayangan Ibnu Abbas, berkata:
لَا يَتَعَلَّمُ العِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ
“Ilmu tidak akan pernah bisa didapatkan oleh dua tipe orang: orang yang pemalu (malu bertanya karena gengsi) dan orang yang sombong (merasa sudah tahu).”
Referensi: Shahih Bukhari, Kitab Ilmu
Khalifah Umar bin Khattab RA berwasiat:
تَوَاضَعُوْا لِمَنْ تَعَلَّمْتُمْ مِنْهُ، وَتَوَاضَعُوْا لِمَنْ عَلَّمْتُمُوْهُ
“Tawadhu’lah kepada orang yang mengajarimu, dan tawadhu’lah kepada orang yang kamu ajari.”
Imam Syafi’i berkata dengan penuh perenungan:
كُلَّمَا أَدَّبَنِي الدَّهْرُ أَرَانِيْ نَقْصَ عَقْلِيْ، وَإِذَا مَا ازْدَدْتُ عِلْمًا زَادَنِيْ عِلْمًا بِجَهْلِيْ
“Setiap kali zaman mendidikku dengan pengalamannya, ia selalu memperlihatkan kepadaku akan kekurangan akalku. Dan setiap kali ilmuku bertambah, bertambah pula kesadaranku akan kebodohanku.”
Inilah yang hilang dari banyak penuntut ilmu di zaman media sosial. Baru membaca satu buku terjemahan, sudah merasa menjadi mujtahid yang mampu menyalahkan ulama-ulama besar.
5. KESIMPULAN DAN TATHBIQ UNTUK NW
Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, Pahlawan Nasional dan Pendiri Madrasah NWDI, NBDI dan Organisasi NW, merangkum seluruh tradisi keilmuan ini dalam satu kalimat wasiat yang sangat dalam:
Guru Agama Imam ke Syurga
Perlu di pilih wajib di jaga
Silsilah yang putus tidak berguna
Dunia Akhirat Dhalalan Mubina.
Para Masyaikh kita menjelaskan, makna (Dhalalan Mubina) di sini adalah berada dalam kesesatan yang amat nyata dikarenakan Salah tempat mengambil sanad berguru.
Untuk Menghidupkan Tradisi ke keilmuan di perlukan 4 kiat yaitu:
Pertama, Sanad yang Harus Tetap Bersambung: Dari Maulana Syaikh, kepada para Tuan Guru, kepada para ustadz, hingga kepada santri paling bungsu di Madrasah Madrasah naungan NW. Jangan sampai terputus.
Kedua, Adab yang Harus Didahulukan: Tradisi berdiri ketika guru masuk, tradisi mencium tangan guru dengan penuh takzim, tradisi menjaga lisan di depan guru, tradisi berbahasa yang santun. Ini bukan feodalisme, ini adalah tradisi keilmuan untuk memuliakan Ilmu yang ada kepada Guru.
Ketiga, Mudzakarah yang Tidak Boleh Putus: Tradisi ngaji Muzakaroh, Musyawarah kitab, dan Muraja’ah hafalan harus terus hidup di setiap Nafas Para Pelajar.
Keempat, Tawadhu’ yang Mengakar: Merasa diri masih bodoh sehingga terus ingin belajar, dan tidak pernah merasa lebih alim dari gurunya.
والله اعلم وتم علمه
Penulis: Muhammad Taufikkurrahman Al Hizbi QH., S.Pd.
Angkatan : 60 MDQH NW Anjani
