NW ONLINE – Dalam rangkaian Majelis Dakwah Hamzanwadi II, guru besar Nahdlatul Wathan asal Makkah Al-Mukarramah, Syekh Dr. Mustafa bin Abi Zayan Attilimsani, menyampaikan kajian keislaman yang menyentuh dua tema besar: makna baiat (janji setia) serta keteladanan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam mengatur waktu malam. Kajian yang disampaikan dalam bahasa Arab tersebut diterjemahkan langsung oleh Tuan Guru Haji Syahri Ramadan, M.H.
Baiat, Perkara yang Agung dan Mulia
Mengawali kajiannya, Syekh Mustofa menekankan bahwa majelis yang berlangsung merupakan majelis yang penuh keberkahan, majelis adab, majelis akhlak, dan majelis orang-orang saleh. Beliau menyampaikan bahwa yang berkumpul di majelis tersebut bukan hanya hadir secara jasmani, tetapi juga hadir dengan jiwa raga dan niat yang ikhlas.
Terkait prosesi baiat dan iqrar (ikrar) yang dilangsungkan dalam majelis tersebut, Syekh Mustofa menjelaskan bahwa baiat pada hakikatnya adalah wujud ketaatan — kesungguhan untuk mendengar dan menaati (sam’an wa tha’atan) dalam kebaikan serta menjalankan perintah-perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau menegaskan bahwa baiat bukan perkara ringan, melainkan amrun jalal, amrun ‘adzim — perkara yang agung dan mulia, yang bahkan disebutkan langsung oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an.
Dalam kajiannya, Syekh Mustofa mengutip firman Allah, “Ufu bil ‘uqud” — perintah untuk memenuhi janji-janji yang telah diikrarkan. Beliau menjelaskan bahwa memegang teguh isi baiat adalah bagian dari adab seorang hamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Ta’addabu bi adabillah” — hendaklah kalian beradab dengan adab Allah. Sebaliknya, beliau mengingatkan bahwa melanggar, membatalkan, atau meninggalkan baiat termasuk pelanggaran dalam agama, sebagaimana disebutkan dalam riwayat dari sahabat seperti Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas radhiallahu ta’ala anhuma.
Waktu Asil, Momentum Istimewa dalam Al-Qur’an
Poin kedua yang disampaikan Syekh Mustofa adalah keistimewaan waktu pelaksanaan baiat tersebut, yaitu pada waktu asil — sore hari menjelang matahari terbenam. Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an menyebutkan dua waktu istimewa yang seyogianya diisi dengan tasbih dan zikir, yaitu al-ghuduw (pagi, dari selepas Subuh hingga terbit matahari) dan al-ashal (petang, dari Asar hingga terbenam matahari). Karena itu, menurut beliau, pelaksanaan baiat pada waktu asil menjadi sesuatu yang istimewa dan hendaknya benar-benar dijaga serta diamalkan dengan sungguh-sungguh dalam kehidupan.
Keteladanan Rasulullah SAW dalam Mengatur Waktu
Kajian kemudian berlanjut dengan penyampaian hadis riwayat Sayyidina Abdullah bin Abbas radhiallahu ta’ala anhuma yang termaktub dalam Shahih Al-Bukhari. Dikisahkan bahwa Ibnu Abbas diutus oleh ibunya, Lubabah, untuk bermalam di rumah bibinya, Maimunah binti Al-Harits Al-Hilaliyah — istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam — guna mengamati langsung bagaimana Rasulullah mengisi malam harinya.
Dari pengamatan tersebut, tergambar keteladanan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang senantiasa mengatur waktu dengan sangat rapi: mulai dari salat Isya berjemaah, tidur sejenak tanpa alas tebal, bangun di tengah malam untuk mengusap wajah menghilangkan kantuk, bersiwak, berwudu, hingga mendirikan salat malam dengan bacaan surat yang panjang seperti Al-Baqarah dan Ali Imran, disertai rukuk dan sujud yang lama. Setelah salat malam, Rasulullah tidak kembali tidur, melainkan terus bertasbih dan beristigfar hingga masuk waktu fajar, yang diketahui dari kedatangan Sayyidina Bilal yang menyampaikan, “Ashbahta ya Rasulullah” (hari telah pagi).
Syekh Mustofa turut menjelaskan sisi kemanusiaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang tetap bercanda dengan istrinya bila mendapati sang istri masih terjaga, namun memilih tidur di lantai tanpa membangunkan bila istrinya sedang tidur — sebagai bentuk rendah hati untuk mengurangi kewibawaan yang luar biasa dari diri beliau. Usai salat dua rakaat sebelum Subuh dan salat Subuh dengan bacaan panjang, Rasulullah kemudian duduk bersama para sahabat, menanyakan kabar dan keadaan mereka, sebelum akhirnya keluar menziarahi sahabat-sahabatnya — mencerminkan kepedulian Rasulullah yang begitu besar terhadap umatnya.
Momentum Memperbaharui Janji Setia
Di akhir kajian, Syekh Mustofa menyampaikan bahwa momen yang berlangsung merupakan tajdidul ahdi — pembaharuan janji setia — bagi seluruh warga Nahdlatul Wathan kepada guru besar dan pendiri organisasi, almagfurlah Maulanasyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Beliau berpesan, selama seseorang memegang teguh janji setianya, maka keberkahan Allah subhanahu wa ta’ala akan senantiasa turun, rasa cinta dan kasih sayang antarsesama murid akan terus terpupuk, serta segala urusan dan pekerjaan akan dimudahkan menjadi jalan yang lurus dan istikamah.
Permakluman: Segala kekeliruan yang mungkin terdapat dalam penulisan artikel ini merupakan hal yang tidak disengaja. Untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap dan akurat, silakan menyaksikan video berikut yang menjadi sumber utama penyusunan artikel ini.
